Deflasi Berkepanjangan di Pacitan Jadi Alarm Pelemahan Daya Beli Masyarakat
"Permintaan masyarakat terhadap komoditas tersebut cenderung menurun, sehingga diikuti dengan penurunan harga di pasaran"

Pacitan,JBM.co.id-Fenomena deflasi yang terjadi selama beberapa bulan pasca Hari Raya Idul Fitri mulai memunculkan kekhawatiran serius. Kondisi ini tidak lagi sekadar mencerminkan turunnya harga kebutuhan pokok, melainkan menjadi sinyal melemahnya peredaran uang dan daya beli masyarakat.
Di tengah melimpahnya stok barang di pasaran, masyarakat justru cenderung menahan pengeluaran. Penurunan pendapatan menjadi faktor utama yang mendorong perilaku konsumsi lebih hemat. Akibatnya, permintaan barang terus menurun, menciptakan ketidakseimbangan antara pasokan dan kebutuhan.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perindustrian Kabupaten Pacitan, Muhammad Ali Mustofa, menuturkan, deflasi yang terjadi di Kabupaten Pacitan pasca Lebaran dinilai sebagai fenomena yang wajar. Indikator yang digunakan, yakni Indeks Perkembangan Harga (IPH), terutama mencerminkan pergerakan harga bahan pokok dan penting (bapokting) sektor pangan.
Setelah periode Lebaran, permintaan masyarakat terhadap komoditas tersebut cenderung menurun, sehingga diikuti dengan penurunan harga di pasaran.
Selain faktor permintaan, kondisi daya beli masyarakat juga turut memengaruhi. “Pasca Lebaran, banyak rumah tangga mengalami penurunan likuiditas akibat tingginya pengeluaran selama hari raya. Hal ini membuat masyarakat lebih menahan konsumsi, yang pada akhirnya memperkuat tren deflasi,”ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Di sisi lain, pelaku UMKM justru menghadapi tekanan yang cukup berat. Kenaikan harga bahan baku, terutama material berbasis plastik yang banyak digunakan untuk kemasan, menjadi tantangan utama. Kondisi ini diperparah oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang menyebabkan harga bahan baku impor ikut meningkat.
Situasi tersebut menciptakan kontras antara penurunan harga di tingkat konsumen dengan meningkatnya biaya produksi di tingkat pelaku usaha, sehingga membutuhkan perhatian lebih dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.
Menurut Ali Mustofa, peran pemerintah sangat krusial dalam mengatasi situasi ini. Upaya untuk menghidupkan kembali iklim usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat harus menjadi prioritas utama.
“Ini pekerjaan rumah yang tidak mudah. Harus ada langkah konkret untuk mendorong pergerakan ekonomi agar masyarakat kembali memiliki daya beli,” tegasnya.(Red/yun).




