BeritaDaerahEkonomiPemerintahanPendidikanSosial

“Tekanan Harga Mereda, Pacitan Catat Deflasi Mendalam di Pekan Kedua April 2026”

"Indeks Perkembangan Harga (IPH) Kabupaten Pacitan mengalami deflasi sebesar -2,27 persen, menandakan penurunan harga yang cukup dalam dibandingkan periode sebelumnya"

Pacitan,JBM.co.id-Pacitan kembali mencatat dinamika harga yang signifikan pada pekan kedua April 2026. Berdasarkan olahan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Perkembangan Harga (IPH) Kabupaten Pacitan mengalami deflasi sebesar -2,27 persen, menandakan penurunan harga yang cukup dalam dibandingkan periode sebelumnya.

Deflasi ini terutama dipicu oleh turunnya harga sejumlah komoditas utama, yakni cabai rawit, daging sapi, dan telur ayam ras. Ketiga komoditas tersebut memberikan andil terbesar terhadap pelemahan indeks harga, sekaligus mencerminkan kondisi pasokan yang relatif melimpah di pasar lokal.

Secara posisi, capaian IPH Pacitan pada pekan ini menempatkannya di peringkat 333 secara nasional, peringkat 19 di tingkat Provinsi Jawa Timur, serta peringkat 59 di Pulau Jawa. Angka ini menunjukkan bahwa tren penurunan harga di Pacitan masih sejalan dengan pola yang terjadi di berbagai daerah lain, meski dengan intensitas yang bervariasi.

Jika ditarik lebih luas, kinerja harga di Pacitan menunjukkan dinamika yang beragam. Secara tahunan (year-on-year), IPH pada Maret 2026 tercatat -0,48 persen, mengindikasikan tekanan harga yang relatif terkendali. Sementara itu, secara tahun kalender (year-to-date), IPH masih berada di zona positif sebesar 0,80 persen, dan secara bulanan (month-to-month) Maret 2026 tercatat 1,28 persen.

Menariknya, pada pekan kedua April ini hampir tidak ditemukan komoditas yang mengalami kenaikan harga. Sejumlah bahan pokok seperti beras medium, minyak goreng, daging ayam ras, bawang putih, gula pasir, pisang, dan jeruk cenderung stabil. Di sisi lain, beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga, termasuk telur ayam ras, cabai merah, dan bawang merah jika dibandingkan dengan rata-rata harga pada Maret 2026.

Di tingkat Provinsi Jawa Timur, fenomena deflasi ternyata juga meluas. Banyak kabupaten/kota mengalami tekanan harga serupa, dengan faktor utama yang konsisten, yakni penurunan harga cabai rawit, daging ayam ras, dan telur ayam ras. Bahkan, beberapa daerah mencatat deflasi yang lebih dalam dibanding Pacitan.

Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten Pacitan, Ayub Setyo Budi, menjelaskan bahwa kondisi deflasi ini dipengaruhi oleh membaiknya pasokan sejumlah komoditas pangan di pasaran.

“Penurunan harga ini utamanya disebabkan oleh ketersediaan barang yang cukup di tingkat distributor maupun pasar, khususnya untuk komoditas cabai dan protein hewani. Hal ini membuat harga menjadi lebih terkendali,” ujarnya, Senin (13/4/2026).

Ia menambahkan, pemerintah daerah terus melakukan pemantauan harga secara intensif guna menjaga stabilitas dan memastikan distribusi tetap lancar. Selain itu, sinergi dengan berbagai pihak juga diperkuat agar gejolak harga dapat diantisipasi sejak dini.

Meski deflasi memberikan dampak positif dari sisi keterjangkauan harga bagi masyarakat, Ayub mengingatkan agar kondisi ini tetap diwaspadai, terutama bagi produsen. “Kita perlu menjaga keseimbangan, agar harga tidak terlalu rendah yang bisa merugikan petani dan peternak,” tambahnya.

Dengan dinamika yang terus bergerak, perkembangan harga di pekan-pekan berikutnya akan menjadi penentu arah stabilitas ekonomi daerah, sekaligus cerminan keseimbangan antara produksi dan konsumsi masyarakat di Kabupaten Pacitan.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button