Sekda Eddy Mulya Pilih Argentina Juara Piala Dunia 2026: Patahkan HATTRICK KUTUKAN, Faktor Tuan Rumah Benua Amerika Hingga Aksi Magis Messi

Jbm.co.id-DENPASAR | Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Denpasar, Dr. Ir. I Gusti Ngurah Eddy Mulya, S.E., M.Si., yang juga Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Bali menjagokan Argentina menjadi juara Piala Dunia 2026.
Faktor kandang Tuan Rumah di kawasan Amerika memberikan keuntungan tersendiri bagi negara-negara dari Benua Amerika, khususnya Argentina.
Faktor geografis, kondisi lingkungan hingga kemampuan adaptasi pemain menjadi modal dasar penting faktor pembeda memenangkan laga krusial.
Selain itu, ambisi dan motivasi besar Argentina mempertahankan trofi dan menjadi negara pertama setelah Brasil 1962 mampu meraih gelar Juara Piala Dunia secara beruntun (Juara Back to Back).
Ditambah lagi, WARNA BIRU Argentina sedang dinaungi aura keberuntungan tingkat tinggi (LUCKY BLUE) mampu mematahkan HATTRICK KUTUKAN bertahan 64 tahun dan juga meruntuhkan KUTUKAN Tim Peringkat 1 FIFA serta Juara Bertahan Piala Dunia 2022 untuk kembali mengangkat trofi Piala Dunia 2026.
Demikian ditegaskan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Denpasar, Dr. Ir. I Gusti Ngurah Eddy Mulya, S.E., M.Si., yang juga Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Bali, usai secara resmi menutup kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di halaman SMK PGRI 5 Denpasar, Jumat, 17 Juli 2026.
Lebih lanjut, Eddy Mulya menyebutkan dalam sejarah Piala Dunia, negara-negara Amerika memang kerap tampil kuat ketika turnamen berlangsung di Benua Amerika.
Faktor dukungan atmosfer, perjalanan yang lebih familiar, serta pengalaman bermain di kondisi serupa menjadi keuntungan tambahan.
Selain itu, mayoritas pemain Amerika Selatan saat ini telah terbiasa tampil di kompetisi elite Eropa. Pemain seperti Argentina memiliki pengalaman menghadapi berbagai gaya permainan serta kondisi pertandingan tingkat tinggi.
Bahkan, Piala Dunia 2026 berpotensi menjadi panggung besar bagi negara-negara Benua Amerika, seperti Argentina setelah turnamen sepak bola terbesar dunia ini digelar di tiga negara Amerika Utara, yakni Amerika Serikat, Meksiko dan Kanada.
Juara Piala Dunia saat Tuan Rumah di Benua Amerika
Sepanjang sejarah, ada tiga negara dari benua Amerika yang berhasil memanfaatkan status tuan rumah untuk keluar sebagai juara dunia.
Uruguay (1930) menjadi tuan rumah Piala Dunia pertama dalam sejarah dan berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Argentina 4-2 di final.
Argentina (1978) menjadi tuan rumah dan meraih trofi Piala Dunia pertama mereka, setelah menumbangkan Belanda dengan skor 3-1 di babak perpanjangan waktu.
Brasil: Meskipun pernah menjadi tuan rumah pada tahun 1950 dan 2014, Brasil justru gagal juara di rumah sendiri. Namun, mereka berhasil menjadi juara dunia saat turnamen digelar di tanah Amerika lainnya, yaitu di Meksiko (1970) dan Amerika Serikat (1994).
Brazil (Piala Dunia 1970, Meksiko) dipimpin oleh legenda Pelé, Brazil memainkan sepak bola indah dan mencukur Italia 4-1 di laga final Stadion Azteca, Meksiko.
Brasil (Piala Dunia 1994, Amerika Serikat), saat dibawah kepemimpinan kapten Dunga dan ketajaman Romário, Brazil mengalahkan Italia lewat adu penalti yang dramatis di Pasadena, Amerika Serikat.
Argentina (Piala Dunia 1986 di Meksiko), saat turnamen ini diselenggarakan di benua Amerika (Meksiko sebagai tuan rumah). Namun, sang juara bukanlah tim tuan rumah Meksiko, melainkan Argentina yang dipimpin oleh Diego Maradona setelah menumbangkan Jerman Barat 3-2 di final.
Satu-satunya momentum bersejarah, saat tim dari luar benua Amerika (tim Eropa) berhasil mematahkan dominasi ini dan menjadi juara di tanah Amerika terjadi pada Piala Dunia 2014 di Brazil, saat Jerman keluar sebagai juara menekuk Argentina di final.
Tuan rumah Piala Dunia di Benua Amerika sejauh ini menjadi panggung kuburan bagi para raksasa Eropa.
Benua Amerika telah menjadi tuan rumah Piala Dunia sebanyak 8 kali. Wilayah ini sempat dikenal sangat angker bagi tim-tim Eropa, karena selalu dominan dimenangkan oleh tim asal Amerika Selatan.
1. Piala Dunia 1930 (Uruguay): Juara Uruguay
2. Piala Dunia 1950 (Brasil): Juara Uruguay
3. Piala Dunia 1962 (Cile): Juara Brasil
4. Piala Dunia 1970 (Meksiko): Juara Brasil
5. Piala Dunia 1978 (Argentina): Juara Argentina
6. Piala Dunia 1986 (Meksiko): Juara Argentina
7. Piala Dunia 1994 (Amerika Serikat): Juara Brasil
8. Piala Dunia 2014 (Brasil): Juara Jerman
Mitos Tradisi “Kandang” Amerika yang Runtuh
Selama puluhan tahun, tidak ada satu pun tim Eropa yang bisa menang jika Piala Dunia dimainkan di benua Amerika.
Dominasi total Amerika Selatan tersebut baru berhasil diruntuhkan oleh Jerman pada Piala Dunia 2014 di Brasil, ketika Jerman menumbangkan Argentina di partai final.
Demikian pula, Benua Eropa terkenal sebagai kandang angker bagi tim Amerika Selatan dengan memegang rekor sebagai wilayah yang paling sering melahirkan juara dari negaranya sendiri, dengan total 11 kali sepanjang sejarah Piala Dunia.
Dari 11 edisi yang digelar di tanah Eropa, hanya ada 1 edisi saat tim dari benua lain (Amerika Selatan) berhasil mencuri trofi juara.
Pada Piala Dunia 1958 (Swedia) ternyata Brasil menjadi juara satu-satunya tim non-Eropa yang pernah menang di benua Eropa.
Dominasi Mutlak Tuan Rumah
Statistik membuktikan adanya keuntungan geografis yang sangat kuat di masa lalu. Negara-negara Eropa sangat dominan dan sulit dikalahkan jika bermain di hadapan publik dan iklim benua mereka sendiri. Kesuksesan Brasil pada tahun 1958 di Swedia (saat Pelé muda bersinar) hingga kini menjadi satu-satunya sejarah keajaiban, saat tim luar Eropa, yakni Amerika Selatan bisa mengangkat trofi di benua Eropa.
Pada edisi ke-9 Piala Dunia 2026 di benua Amerika ini, dominasi Eropa berpeluang besar kembali berlanjut di tanah Amerika. Dari 4 tim tersisa di babak semifinal, 3 diantaranya merupakan wakil Eropa (Perancis, Spanyol, Inggris), sedangkan benua Amerika hanya menyisakan Argentina sebagai satu-satunya harapan tuan rumah benua Amerika.
Meski demikian, Eddy Mulya berkeyakinan tradisi kandang benua Amerika kembali ke jalurnya, saat Argentina berpeluang besar sebagai satu-satunya wakil benua Amerika yang tersisa mengangkat trofi Piala Dunia 2026.
Keunggulan utama Argentina terletak pada efisiensi serangan mereka yang sangat mematikan. Meski tidak mendominasi penguasaan bola seperti Spanyol atau Prancis, namun, skuad Albiceleste menjadi tim yang paling klinis di sepertiga akhir lapangan selama Piala Dunia 2026.
Mentalitas dan Pengalaman Juara
Kerangka tim asuhan Lionel Scaloni saat ini tidak banyak berubah dari skuad yang memenangkan Piala Dunia 2022 dan Copa America 2024 dan matang dalam mengendalikan tempo laga besar.
Menurutnya, para pemain pilar, seperti Rodrigo De Paul, Emiliano Martinez dan Alexis Mac Allister sudah sangat matang dan teruji dalam mengatasi tekanan mental di fase gugur yang krusial.
Faktor Jenius Aksi Magis Lionel Messi
Di usia 39 tahun, Messi tampil luar biasa dengan sumbangan 8 gol sepanjang turnamen sekaligus menjadi pembuat umpan terobosan sukses terbanyak (15 kali).
Faktor kematangan mental juara bertahan serta aksi magis Lionel Messi dalam memanfaatkan momen krusial dianggap menjadi pembeda utama.
Efektivitas Serangan Tertinggi
Berdasarkan analisis performa The Phrase, Argentina merupakan tim paling tajam, karena mampu mengonversi 18 persen peluang menjadi gol.
Fleksibilitas Taktis Lionel Scaloni
Scaloni dikenal sebagai pelatih yang bunglon secara taktis. Argentina tidak terpaku pada satu formasi statis. Mereka bisa bermain menekan secara agresif, namun juga sangat nyaman menerapkan skema serangan balik cepat (counter-attack) yang memanfaatkan kecepatan transisi dari lini tengah ke lini serang.
Sejarah Tradisi Juara Berdasarkan Benua Kandang
Benua Amerika (8 Kali Tuan Rumah)
Sempat didominasi total oleh tim Amerika Selatan (Uruguay, Brasil, Argentina) sebelum akhirnya Jerman meruntuhkan mitos tersebut pada edisi 2014 di Brasil.
Benua Eropa (11 Kali Tuan Rumah)
Benua Eropa menjadi wilayah paling angker bagi tim luar. Dari 11 edisi, 10 diantaranya dimenangkan oleh tim Eropa sendiri, dan hanya Brasil yang mampu mencuri trofi di Piala Dunia 1958, Swedia.
Untuk itu, Argentina berpotensi melanjutkan sejarah tradisi tuan rumah di kandang Benua Amerika, untuk mengangkat trofi Piala Dunia 2026.
Patut diketahui bahwa Piala Dunia 2026 memastikan tidak ada juara baru, karena empat tim tersisa adalah mantan juara dunia, yaitu Perancis, Spanyol, Inggris dan Argentina.
Final Piala Dunia 2026 dipastikan mempertemukan dua raksasa sepak bola dunia, Argentina dan Spanyol.
Laga krusial dijuluki sebagai “Final Ideal” ini menjadi perhatian besar karena menghadirkan duel dua tim terbaik dunia sekaligus mempertemukan Lionel Messi dengan bintang muda Spanyol, Lamine Yamal.
Laga final Argentina kontra Spanyol tersaji dengan tensi tinggi di Stadion MetLife, New Jersey, pada Minggu, 19 Juli 2026 atau Senin, 20 Juli 2026 pukul 03.00 WITA.
Pertemuan ini juga dinilai sebagai pengganti FINALISSIMA 2026 yang sebelumnya dijadwalkan mempertemukan juara Copa America 2024 melawan juara Euro 2024, namun batal akibat situasi geopolitik di Timur Tengah.
Motivasi untuk mengembalikan supremasi sepakbola ke tanah Amerika kini berada di pundak Lionel Messi dan koleganya. (ace).




