BeritaDaerahNasionalOpiniPemerintahanPendidikanPolitikSosial

Pendidikan dari Rumah, Pondasi Utama Pembentukan Karakter Anak. Simak Penjelasan Sekretaris Dindik Pacitan, Dr Ririh Enggar

"Di sanalah karakter mulai dibentuk, nilai-nilai ditanamkan, dan perilaku anak perlahan tumbuh melalui teladan orang tua"

Pacitan,JBM.co.id-Pendidikan tidak semata-mata berlangsung di ruang kelas. Jauh sebelum anak mengenal bangku sekolah, buku pelajaran, dan sosok guru, rumah telah menjadi sekolah pertama tempat mereka belajar tentang kehidupan.

Di sanalah karakter mulai dibentuk, nilai-nilai ditanamkan, dan perilaku anak perlahan tumbuh melalui teladan orang tua. Karena itu, sebaik apa pun sekolah, sekompeten apa pun guru, dan sebagus apa pun sistem pendidikan yang diterapkan, semuanya akan sulit memberikan hasil optimal apabila pendidikan pertama dari rumah tidak berjalan dengan baik.

Pandangan tersebut disampaikan Sekretaris Dinas Pendidikan Pacitan, Dr. Ririh Enggar Murwati, yang menekankan pentingnya peran keluarga sebagai fondasi utama dalam proses pendidikan anak.

Menurutnya, pendidikan di sekolah pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pendidikan yang telah dimulai di lingkungan keluarga. Anak membawa kebiasaan, nilai, cara berkomunikasi, hingga pola perilaku yang pertama kali mereka dapatkan dari rumah ke lingkungan sekolah dan masyarakat.

“Sebagus apa pun sekolahnya, sekompeten apa pun gurunya, dan sebaik apa pun sistem pendidikannya, akan tetap menghadapi tantangan apabila pendidikan pertama dari rumah tidak didapatkan dengan baik,” kata Ririh Enggar, Rabu (30/9).

Ia menjelaskan, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik. Lebih dari itu, pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk manusia yang memiliki karakter, nilai, etika, serta perilaku yang baik.

Dalam konteks tersebut, orang tua memiliki posisi yang tidak tergantikan. Sikap orang tua dalam berbicara, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, menghargai orang lain, hingga memperlakukan anak sehari-hari menjadi pembelajaran nyata yang secara tidak langsung direkam dan ditiru oleh anak.

Anak, dalam banyak hal, belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan orang tua, melainkan terutama dari apa yang mereka lihat dan rasakan setiap hari.

Karena itu, rumah semestinya menjadi ruang pertama untuk menumbuhkan kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, kepedulian, rasa hormat, sekaligus keberanian untuk belajar dan mengakui kesalahan.

Sekolah kemudian mengambil peran untuk memperkuat fondasi tersebut. Guru memberikan pengetahuan, membimbing proses belajar, mengembangkan potensi, sekaligus membantu anak memahami kehidupan sosial di lingkungan yang lebih luas.

Dengan demikian, pendidikan bukanlah tugas sekolah semata. Ia merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan sinergi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat.

“Pendidikan dari rumah adalah pondasi yang sangat penting dalam membentuk karakter, nilai, dan perilaku anak sejak dini,” tegas mantan Kepala UPT Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) ini.

Refleksi tersebut menjadi pengingat bahwa membangun generasi tidak cukup hanya dengan membangun gedung sekolah, menyempurnakan kurikulum, atau meningkatkan kompetensi guru. Ada ruang yang jauh lebih awal dan dekat dengan kehidupan anak, yakni rumah.

Sebab, sebelum anak menjadi murid di sekolah, mereka terlebih dahulu menjadi anak di dalam keluarga.

Dan dari rumah itulah, perjalanan panjang pendidikan seorang manusia sesungguhnya dimulai.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button