Paruman PHDI Bali Bahas Akses Pura dan Pelaba Pura di Kawasan BTID Serangan Dorong Penyelesaian Berbasis Adat dan Agama

Jbm.co.id-DENPASAR | Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali menggelar paruman atau pertemuan khusus membahas persoalan akses menuju sejumlah pura serta keberadaan pelaba pura di kawasan PT Bali Turtle Island Development (BTID) Serangan, Denpasar.
Paruman PHDI Bali menjadi wadah penyampaian berbagai aspirasi masyarakat Hindu di Aula PHDI Bali, Kamis, 25 Juni 2026.
Forum ini menghadirkan Ratu Sulinggih, tokoh agama, pengempon pura, unsur masyarakat adat, serta sejumlah pihak yang berkaitan dengan keberadaan pura dan pelaba pura di kawasan Serangan.
Ketua PHDI Provinsi Bali, I Nyoman Kenak bersama Sekretaris PHDI Bali, Ir. Putu Wirata Dwikora menyampaikan bahwa paruman tersebut bertujuan sebagai bentuk respons atas berbagai masukan masyarakat yang muncul dalam beberapa waktu terakhir.
Salah satu pembahasan utama terkait akses umat Hindu dalam melaksanakan persembahyangan ke pura-pura yang berada di kawasan BTID Serangan.
Selain itu, aspek pelaba pura, kesucian kawasan, fungsi tempat suci serta keberlangsungan akses umat juga menjadi bagian dari pembahasan.
PHDI Bali berharap forum tersebut dapat menjadi ruang dialog yang terbuka dan konstruktif dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari sulinggih, tokoh adat, akademisi, hingga masyarakat Hindu.
Hasil dari paruman ini nantinya diharapkan dapat menjadi bahan rekomendasi dalam mencari solusi yang mengedepankan nilai agama Hindu, adat, budaya, serta tetap memperhatikan ketentuan hukum yang berlaku.
PHDI Bali menegaskan keberadaan pura sebagai tempat suci umat Hindu harus mendapatkan perlindungan dan penghormatan, termasuk memastikan umat memiliki akses yang layak untuk menjalankan kewajiban keagamaan.
Paruman PHDI Bali berlangsung sejak pukul 09.00 WITA hingga selesai tersebut menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara lembaga keagamaan, masyarakat adat dan pihak terkait dalam menjaga keberadaan pura serta hak umat Hindu untuk beribadah dengan nyaman.
Ditengah perkembangan pembangunan Bali, PHDI Bali mendorong setiap persoalan yang berkaitan dengan tempat suci dan kepentingan umat diselesaikan melalui dialog, musyawarah, dan semangat menyama braya.
Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan kawasan, pelestarian budaya, serta nilai spiritual masyarakat Bali. (ace).




