BaliBeritaDaerahDenpasarEkonomiPemerintahan

OJK Bali Catat Kredit Investasi dan UMKM Dongkrak Stabilitas Industri Jasa Keuangan Bali 2025

Jbm.co.id-DENPASAR | Sektor Jasa Keuangan (SJK) di Bali menunjukkan ketahanan yang kuat sepanjang 2025. Bahkan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali mencatat stabilitas Industri Jasa Keuangan (IJK) tetap terjaga hingga Desember 2025, ditopang pertumbuhan kredit, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), serta kualitas pembiayaan yang sehat.

“Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali menilai stabilitas Industri Jasa Keuangan (IJK) di Provinsi Bali sampai dengan posisi Desember 2025 tetap terjaga ditengah dinamika perekonomian global dan domestik,” kata Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali, Kristrianti Puji Rahayu, saat acara Ngorte dan buka puasa bersama awak media di Kantor OJK Bali, Denpasar, Senin, 23 Pebruari 2026.

Kinerja tersebut turut menopang pertumbuhan ekonomi Bali yang secara kumulatif mencapai 5,82 persen year on year (yoy) pada 2025.

Angka ini lebih tinggi dibanding pertumbuhan nasional sebesar 5,11 persen, sekaligus menempatkan Bali di posisi lima besar secara nasional.

Kredit Investasi dan UMKM Jadi Motor Pertumbuhan

Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit berdasarkan lokasi bank tumbuh 6,73 persen yoy menjadi Rp119,87 triliun.

Sementara kredit berdasarkan lokasi proyek meningkat 7,18 persen yoy menjadi Rp144,49 triliun. Pertumbuhan kredit terutama ditopang kredit investasi yang naik 16,21 persen yoy atau bertambah Rp5,72 triliun.

Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum serta real estat menjadi pendorong utama. Kredit konsumsi juga tumbuh 4,69 persen yoy, sedangkan kredit modal kerja relatif stabil di angka 0,09 persen yoy.

Menariknya, 51,11 persen kredit di Bali disalurkan kepada UMKM dengan pertumbuhan 3,91 persen yoy. Porsi dan pertumbuhan kredit UMKM di Bali tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional, memperlihatkan komitmen perbankan dalam memperkuat sektor riil dan ekonomi kerakyatan.

Dari sisi sektor ekonomi, penyaluran kredit didominasi sektor bukan lapangan usaha sebesar 33,49 persen dan perdagangan besar serta eceran sebesar 27,32 persen. Sektor akomodasi dan makan minum mencatat kenaikan signifikan sebesar Rp2,29 triliun atau tumbuh 17,57 persen yoy.

Likuiditas dan Kualitas Kredit Tetap Sehat

Penghimpunan DPK tumbuh 7,49 persen yoy menjadi Rp203,97 triliun, dengan tabungan menjadi kontributor utama kenaikan nominal sebesar Rp7,50 triliun. Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di level 58,60 persen, menunjukkan likuiditas perbankan masih memadai.

Kualitas kredit juga membaik. Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross tercatat 2,44 persen, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. NPL net berada di 1,68 persen. Rasio Loan at Risk (LaR) turun menjadi 9,12 persen, mencerminkan perbaikan risiko kredit.

Ketahanan BPR di Bali juga tetap kuat, tercermin dari Cash Ratio (CR) 16,04 persen dan Capital Adequacy Ratio (CAR) 27,26 persen, yang berada di atas threshold.

Investor Pasar Modal dan Fintech Tumbuh Pesat

Di sektor pasar modal, jumlah investor di Bali mencapai 359.262 Single Investor Identification (SID), tumbuh 22,69 persen yoy. Nilai kepemilikan saham melonjak 47,39 persen yoy menjadi Rp7,69 triliun, sementara nilai transaksi saham meningkat 72,49 persen yoy menjadi Rp6,78 triliun.

Sektor perusahaan pembiayaan mencatat piutang Rp12,16 triliun dengan pertumbuhan 2,39 persen yoy dan Non Performing Financing (NPF) 1,31 persen. Modal Ventura tumbuh 22,34 persen yoy menjadi Rp111,27 miliar dengan NPF 1,17 persen.

Sementara itu, penyaluran pembiayaan melalui fintech peer to peer lending meningkat 40,59 persen yoy menjadi Rp2,10 triliun. Tingkat Wan Prestasi 90 hari (TWP 90) berada di level 2,13 persen dan masih dalam rentang terkendali.

Literasi dan Pelindungan Konsumen Diperkuat

Sepanjang 2025, OJK Bali telah melaksanakan 10.276 kegiatan edukasi keuangan dan menjangkau lebih dari 91.554 orang secara langsung serta 286.299 orang melalui media sosial. Total kegiatan literasi keuangan di Bali mencapai 11.922 kegiatan dengan jangkauan 925.692 peserta.

Disisi pelindungan konsumen, OJK Bali menerima 784 pengaduan sepanjang 2025. Sebanyak 705 pengaduan telah selesai ditangani. Pengaduan didominasi masalah perilaku petugas penagihan serta fraud eksternal seperti penipuan dan kejahatan siber.

“OJK juga terus mengingatkan agar masyarakat selalu mewaspadai penawaran investasi ilegal yang masih marak. Ingat selalu Legal dan Logis sebelum memilih produk keuangan. Apabila masyarakat mengetahui adanya aktivitas keuangan ilegal dapat melaporkannya melalui www.sipasti.ojk.go.id atau melalui Kontak OJK 157,” paparnya.

Dengan pengawasan yang kuat dan sinergi bersama pemerintah daerah, Bank Indonesia, LPS, serta pelaku industri, OJK optimistis sektor jasa keuangan Bali akan tetap stabil, kontributif, dan tumbuh berkelanjutan menghadapi prospek ekonomi 2026. (red).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button