IPH Pacitan Minggu Kedua Agustus 2026 Capai 1,93 Persen, Daging Sapi Jadi Pemicu Utama. Ini Penjelasan Kabag Ayub
"Perkembangan harga pada minggu kedua Agustus menjadi perhatian pemerintah daerah karena sejumlah komoditas pangan mengalami kenaikan cukup berarti"

Pacitan,JBM.co.id-Pergerakan harga sejumlah komoditas pangan di Kabupaten Pacitan kembali menunjukkan tekanan pada pekan kedua Agustus 2026. Berdasarkan data Indeks Perkembangan Harga (IPH), Pacitan mencatat kenaikan sebesar 1,93 persen, dengan daging sapi menjadi komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi, disusul cabai rawit dan daging ayam ras.
Kepala Bagian Perekonomian Setda Pacitan, Ayub Setyobudi, mengatakan, perkembangan harga pada minggu kedua Agustus menjadi perhatian pemerintah daerah karena sejumlah komoditas pangan mengalami kenaikan cukup berarti.
“Komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap kenaikan IPH minggu kedua Agustus adalah daging sapi, cabai rawit, dan daging ayam ras,” ujar Ayub, Selasa (18/8).
Secara posisi, IPH Pacitan sebesar 1,93 persen menempatkan daerah ini di peringkat ke-40 secara nasional. Di tingkat Jawa Timur, Pacitan berada di urutan kelima, sedangkan di kawasan Pulau Jawa menempati peringkat ke-10.
Di Jawa Timur, kenaikan IPH tertinggi tercatat di Kabupaten Sidoarjo sebesar 2,62 persen, disusul Lamongan 2,47 persen, Blitar 2,09 persen, dan Situbondo 1,97 persen. Dengan capaian 1,93 persen, Pacitan berada tepat di bawah Situbondo.
Tekanan harga tersebut terjadi setelah pada Juli 2026 Pacitan justru mencatat perkembangan harga yang relatif menurun. IPH month to month (mtm) Juli tercatat -3,71 persen, sementara secara year on year (yoy) mencapai -0,92 persen dan secara tahun kalender (year to date/ytd) berada di -5,84 persen.
Memasuki Agustus, arah pergerakan harga kemudian berbalik. Hingga minggu kedua, kenaikan IPH terutama dipengaruhi komoditas pangan yang memiliki bobot cukup besar dalam konsumsi masyarakat.
Selain daging sapi dan daging ayam ras, cabai rawit juga menjadi salah satu penyumbang utama. Fenomena ini sejalan dengan pola pergerakan harga komoditas hortikultura yang cenderung cepat berubah mengikuti pasokan dan permintaan di pasar.
Berdasarkan pemantauan harga rata-rata komoditas pada Juli hingga minggu kedua Agustus, sejumlah komoditas tercatat mengalami kenaikan, yakni minyak goreng, daging sapi, daging ayam ras, telur ayam ras, cabai merah, dan cabai rawit.
Di sisi lain, harga beras medium, Minyakita, pisang, dan jeruk relatif stabil. Sementara bawang merah, bawang putih, dan gula pasir justru mengalami penurunan dibandingkan rata-rata harga pada Juli.
Kondisi tersebut menggambarkan dinamika harga pangan yang masih bergerak fluktuatif. Kenaikan pada beberapa komoditas utama mampu mendorong IPH mingguan Pacitan ke level positif, meski secara kumulatif sepanjang tahun perkembangan harga masih berada pada zona negatif.
Pemerintah daerah pun terus memantau perkembangan harga dan pasokan komoditas pangan strategis. Pemantauan dilakukan untuk memastikan gejolak harga tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih luas terhadap daya beli masyarakat.
Ayub menegaskan, perkembangan IPH menjadi salah satu indikator penting yang digunakan pemerintah daerah untuk membaca dinamika harga kebutuhan pokok sekaligus menentukan langkah antisipasi apabila terjadi kenaikan harga yang signifikan.
Dengan kondisi tersebut, pergerakan harga pada pekan-pekan berikutnya akan menjadi perhatian, terutama terhadap komoditas daging dan aneka cabai yang saat ini menjadi motor utama kenaikan IPH Pacitan.(Red/yun).




