Menanggalkan Kebesaran, Menyambut Tahun dengan Doa: Malam Tafakur Bupati Aji
"Malam nanti, pendopo bersejarah tersebut bakal menjelma menjadi ruang tafakur. Lantunan ayat suci Al-Qur’an mengalir sejak petang, merdu dan khidmat, menyelimuti setiap sudut ruangan"

Pacitan,JBM.co.id-Denting waktu menuju pergantian tahun tak selalu harus disambut dengan gemerlap kembang api dan hiruk-pikuk pesta. Di Pacitan, malam nanti justru hadir dalam keheningan yang penuh makna.
Bupati Pacitan, Kanjeng Raden Tumenggung Indrata Nur Bayu Aji Reksonagoro, memilih menanggalkan baju kebesaran yang kerap melekat pada simbol kekuasaan.
Ia hadir sebagai seorang santri. Sederhana, bersahaja, dan penuh ketundukan.
Mas Aji, sapaan akrabnya, akan melangkah masuk ke aula Pendopo Mas Tumenggung Djogokardjo tanpa gemuruh seremoni. Tak ada pidato panjang. Tak pula perayaan berlebihan.
Yang ada hanyalah kepala yang tertunduk, tangan yang menengadah, dan hati yang dipasrahkan sepenuhnya kepada Sang Khalik.
Malam nanti, pendopo bersejarah tersebut bakal menjelma menjadi ruang tafakur. Lantunan ayat suci Al-Qur’an mengalir sejak petang, merdu dan khidmat, menyelimuti setiap sudut ruangan.
Cahaya wahyu Ilahi seolah menyatu dengan napas para jamaah yang hadir, dari unsur pemerintah, tokoh masyarakat, hingga warga biasa yang datang dengan niat sama yakni berdoa.
Bagi Bupati Aji, pergantian tahun bukan sekadar peralihan angka pada kalender. Ia adalah momen evaluasi batin. Sebuah jeda untuk menimbang apa yang telah dijalani, sekaligus menguatkan harap atas hari-hari yang akan datang.
“Ini adalah ungkapan syukur dan permohonan ampun kepada Sang Pencipta. Semoga di tahun mendatang, Pacitan selalu diberikan keberkahan. Masyarakatnya bahagia, sejahtera, dan dijauhkan dari bala serta cobaan,” tutur Mas Aji lirih, Rabu (31/12/2025).
Doa-doa itu tak hanya dipanjatkan untuk keberhasilan pembangunan atau kelancaran roda pemerintahan. Lebih dari itu, doa menjadi ikhtiar batin untuk menjaga harmoni, antara pemimpin dan rakyat, antara manusia dan alam, serta antara hamba dan Tuhannya.
Di tengah arus zaman yang kerap mengagungkan gemerlap dan euforia, pilihan Mas Aji menyambut tahun baru dengan doa menjadi pesan tersirat. Bahwa kepemimpinan sejati tak selalu ditunjukkan lewat panggung megah, melainkan lewat keteladanan dalam kerendahan hati.
Nanti, ketika malam kian larut dan kalender bersiap berganti, lantunan ayat suci terus menggema. Tidak ada letupan kembang api yang memecah langit Pacitan.
Namun, ada keteduhan yang mengendap di hati. Sebuah harapan sunyi, bahwa tahun baru akan datang membawa berkah, keselamatan, dan kedamaian bagi Bumi Pacitan yang dicintai bersama.(Red/yun).




