Pesan Moral Gus Baha di Tengah Zaman: “Yang Haram Tetap Haram Meski Satu Dunia Melakukannya”
"Di zaman yang sudah rusak ini, semoga kamu selalu memiliki prinsip yang haram tetaplah haram meskipun satu dunia melakukannya"

Pacitan, JBM.co.id-Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, nilai-nilai moral sering kali menghadapi tantangan besar. Fenomena normalisasi terhadap berbagai hal yang dahulu dianggap menyimpang kini semakin sering terlihat di ruang publik maupun media sosial. Dalam situasi seperti ini, pesan para ulama menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk tetap berpegang pada prinsip kebenaran.
Salah satu pesan yang kembali ramai diperbincangkan datang dari ulama kharismatik, Gus Baha. Dalam sebuah nasihatnya, beliau menyampaikan kalimat yang sederhana namun sarat makna: “Di zaman yang sudah rusak ini, semoga kamu selalu memiliki prinsip yang haram tetaplah haram meskipun satu dunia melakukannya.”
Pesan tersebut menekankan pentingnya keteguhan moral dalam menjalani kehidupan. Menurut berbagai kalangan pendakwah, prinsip ini menjadi landasan agar seseorang tidak mudah terbawa arus mayoritas ketika mayoritas tersebut justru menjauh dari nilai kebenaran.
Pendakwah kondang di Pacitan, KH Mahmud, dalam ulasannya menjelaskan bahwa nasihat tersebut mengandung pelajaran besar tentang integritas pribadi. Ia menilai bahwa ukuran benar dan salah dalam agama tidak ditentukan oleh jumlah orang yang melakukannya, melainkan oleh ketentuan syariat.
“Sering kali manusia merasa sesuatu menjadi benar hanya karena banyak yang melakukannya. Padahal dalam ajaran agama, standar kebenaran bukanlah popularitas, tetapi dalil dan nilai yang telah ditetapkan,” ujarnya, Rabu (11/3/2026).
Mantan Ketua PCNU Pacitan ini juga mengingatkan bahwa di era digital, masyarakat dihadapkan pada banjir informasi dan berbagai tren yang dapat memengaruhi cara pandang terhadap moralitas. Karena itu, pendidikan agama dan literasi moral menjadi sangat penting agar generasi muda mampu membedakan antara yang benar dan yang sekadar populer.
Secara edukatif, pesan ini juga mengajarkan tiga hal penting. Pertama, pentingnya memiliki prinsip hidup yang kuat. Kedua, keberanian untuk berbeda ketika yang benar tidak selalu menjadi pilihan mayoritas. Ketiga, kesadaran bahwa tanggung jawab moral bersifat pribadi, bukan kolektif.
Dalam sejarah pemikiran Islam sendiri, banyak ulama menegaskan bahwa kebenaran tidak selalu berada pada jumlah yang banyak. Prinsip ini menjadi fondasi bagi umat agar tidak mudah terombang-ambing oleh perubahan zaman.
Melalui pesan sederhana tersebut, KH Mahmud berharap masyarakat tetap menjaga nilai-nilai kebaikan di tengah arus globalisasi yang semakin kompleks. Sebab, keteguhan prinsip dinilai sebagai benteng utama agar manusia tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.
Pesan moral dari Gus Baha ini pun diharapkan menjadi pengingat bahwa di tengah dunia yang terus berubah, kompas nilai dan iman tetap harus menjadi pegangan utama.(Red/yun).




