Kunjungan Wisman Bali Hampir Pulih Capai Positif 0,4 Persen Periode Januari-Juli 2026: IHGMA Optimistis Performa 2026 Bisa Lampaui Tahun Lalu

Jbm.co.id-BADUNG | Pariwisata Bali menunjukkan trend pemulihan pada semester pertama 2026. Hingga Juli 2026, total kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan Nusantara (wisnus) mencapai sekitar 9,85 juta perjalanan.
Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian Hotel General Manager Association (DPP IHGMA) Dr. Agus Made Yoga Iswara, BBA.,BBM.,MM.,CHA., sekaligus Ketua IHGMA Bali periode 2020-2024 menyebut kondisi tersebut menjadi sinyal positif bagi industri pariwisata Bali.
Berdasarkan data Januari-Juli 2026, kunjungan wisman ke Bali mencapai 3.944.415 kunjungan. Angka tersebut masih berada dibawah periode yang sama tahun sebelumnya, tetapi selisihnya kini hanya minus 0,9 persen.
Sementara itu, kunjungan wisatawan Nusantara mencapai 5.905.120 kunjungan. Dibandingkan periode yang sama pada 2025, angka tersebut tumbuh positif 1,3 persen.
Dengan demikian, secara gabungan kunjungan wisatawan mancanegara dan Nusantara pada Januari-Juli 2026 sudah berada pada posisi positif 0,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Nah, sekarang kita sudah mulai mengejar. Kami optimistis sampai akhir tahun 2026 ini, mudah-mudahan minimal performa Bali akan mirip dengan tahun lalu atau bahkan bisa lebih baik. Harapannya, kita seperti itu karena sekarang kita sudah mulai mengejar. Kalau dibilang totalnya sudah positif 0,4 persen,” kata Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian Hotel General Manager Association (DPP IHGMA) Dr. Agus Made Yoga Iswara, BBA.,BBM.,MM.,CHA., sekaligus Ketua IHGMA Bali periode 2023-2026 di Maca Villas & Spa Bali, Seminyak, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Geopolitik Sempat Tekan Kunjungan Wisman
Yoga Iswara menjelaskan, penurunan kunjungan wisman pada awal 2026 tidak terlepas dari situasi geopolitik yang terjadi pada Pebruari dan Maret.
Kondisi tersebut terutama berdampak terhadap wisatawan dari Timur Tengah dan Eropa yang banyak menggunakan jalur transit melalui kawasan Timur Tengah.
Namun, memasuki periode berikutnya, kondisi mulai membaik. Selisih kunjungan wisman yang sebelumnya lebih besar kini semakin mengecil.
“Jangan lupa, minus 0,9 persen itu merupakan perbandingan Januari-Juli saat ini dengan periode yang sama tahun lalu, sementara kita mengalami masalah geopolitik pada Februari. Kalau saat ini tidak ada masalah geopolitik, tentu akan berbeda lagi,” tuturnya.
Menurut Yoga Iswara, trend tersebut menunjukkan respons pasar terhadap Bali masih kuat. Yoga Iswara optimistis momentum pemulihan dapat terus berlanjut hingga akhir tahun.
Okupansi Hotel Badung Capai 80-90 Persen
Pertumbuhan jumlah kunjungan wisatawan tidak serta-merta dapat disamakan dengan peningkatan tingkat hunian hotel.
Menurutnya, kondisi industri akomodasi Bali saat ini lebih kompleks karena terjadi perubahan tata kelola dan pendataan akomodasi.
Yoga Iswara mencatat jumlah akomodasi resmi di Bali meningkat dari sekitar 12.000 properti pada 2024 menjadi sekitar 17.000 properti pada 2025.
“Jadi ada peningkatan signifikan dari 12.000 menjadi 17.000. Ada sekitar 5.000 tambahan akomodasi yang menjadi resmi,” kata Yoga Iswara.
Selain proses legalisasi akomodasi, pemerintah juga mendorong platform Online Travel Agent (OTA) melakukan penataan. Akomodasi yang belum memenuhi ketentuan tidak lagi ditampilkan pada sejumlah platform.
“Jadi, yang non resmi tidak di-listing didalam platform mereka. Ini juga menyebabkan sebuah transisi dan perubahan,” terangnya.
Disisi lain, memasuki high season pada Juni, Juli dan Agustus 2026, tingkat hunian hotel di Kabupaten Badung disebut berada pada kisaran 80-90 persen.
“Tetapi, ini sudah menjadi common occupancy kita pada saat high season. Seiring dengan jumlah wisatawan yang datang, yang tadi saya sampaikan dari Januari sampai Juli sudah mencapai posisi positif 0,4 persen, ini merupakan respons yang sangat bagus,” kata Yoga Iswara.
Tingkat okupansi di sejumlah daerah lainnya, seperti Gianyar, Bali Timur dan Bali Utara disebut masih berada sedikit dibawah Badung.
Bali Dinilai Mampu Mengejar Ketertinggalan
Yoga Iswara berharap trend positif pariwisata Bali berlanjut pada Agustus, September hingga Oktober. Sementara November diperkirakan kembali memasuki periode low season sebelum aktivitas wisata meningkat lagi pada Desember.
Yoga Iswara menilai berbagai persoalan yang selama ini menjadi pekerjaan rumah pariwisata Bali mulai mendapatkan arah penyelesaian.
Menurutnya, adanya perencanaan dan solusi terhadap berbagai persoalan menjadi narasi positif bagi wisatawan, baik mancanegara maupun Nusantara.
“Yang menjadi kelemahan sekarang adalah mudah-mudahan geopolitik dunia tidak terlalu mengganggu. Harga minyak juga tidak terlalu meningkat, sehingga apa yang kita sebut dengan kenaikan harga tiket pesawat tidak terlalu memengaruhi rencana perjalanan wisatawan, baik mancanegara maupun Nusantara, khususnya ke Bali. Demikian gambaran sedikit terkait dengan kondisi pariwisata Bali saat ini,” tambahnya.
Lama Tinggal Wisatawan Bali Capai 4-5 Hari
Dari sisi lama tinggal atau length of stay, Yoga Iswara menyebut terdapat perbedaan antara data berdasarkan tempat menginap dengan pola perjalanan wisatawan yang sebenarnya.
Mengacu pada data BPS, lama tinggal wisatawan berada di kisaran dua hingga 2,5 hari karena penghitungan merujuk pada masa tinggal di satu hotel.
Namun, wisatawan di Bali umumnya berpindah akomodasi dan destinasi selama perjalanan. Karena itu, menurut Yoga, lama tinggal secara keseluruhan dapat mencapai sekitar empat hingga lima hari.
“Misalnya tiga malam menginap di Hotel A di Ubud, kemudian sisanya di Seminyak. Begitulah prosesnya,” kata Yoga Iswara.
Sementara dari sisi daya beli, perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai memberikan keuntungan tertentu bagi wisatawan asing karena daya beli mereka di Bali menjadi relatif lebih kuat.
Pengeluaran wisatawan antara lain mengalir ke sektor makanan dan minuman, kegiatan wellness, hingga belanja produk lokal.
“Spending mereka tentu lebih banyak kepada food and beverage, kemudian kegiatan wellness, dan juga shopping terkait dengan produk-produk lokal. Ini akan memberikan nilai positif terkait dengan pembelanjaan yang mereka lakukan di Bali,” kata Yoga Iswara.
Yoga Iswara menambahkan, lama tinggal wisatawan mancanegara pada 2026 relatif tidak berubah dibandingkan tahun sebelumnya. Rata-rata masa tinggal sekitar empat hingga lima hari masih menjadi pola yang umum.
“Jadi, agak sulit bagi mereka untuk melakukan pemendekan masa tinggal rata-rata 4-5 hari, hampir mirip dengan lama tinggal mereka tahun lalu,” pungkasnya.(ace).




