BaliBeritaDaerah

Dua Fotografer Rudi Waisnawa dan Irene Barlian Raih FOTO Bali Award Perdana dari Nuanu Social Fund 

Jbm.co.id-TABANAN | Dua fotografer, Rudi Waisnawa dan Irene Barlian, terpilih sebagai penerima perdana FOTO Bali Award 2026.

Keduanya masing-masing memperoleh dukungan senilai Rp22 juta dari Nuanu Social Fund (NSF) untuk melanjutkan praktik fotografi yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.

Penghargaan tersebut diberikan tanpa kewajiban bagi penerima untuk mengajukan proposal, menghasilkan proyek baru, maupun memenuhi luaran tertentu. Skema ini menjadi bentuk apresiasi terhadap dedikasi dan konsistensi para fotografer dalam mengangkat persoalan sosial, kemanusiaan, serta lingkungan.

Pengumuman penerima FOTO Bali Award dilakukan pada 25 September 2026 di Nuanu Creative City, Bali.

Penghargaan ini dipersembahkan Nuanu Social Fund dan diinisiasi FOTO Bali Festival, festival fotografi internasional yang diluncurkan oleh Nuanu Creative City.

Rudi Waisnawa dan Irene Barlian terpilih dari hampir 100 pendaftaran yang masuk. Penghargaan tersebut terbagi dalam dua kategori dengan bobot penilaian yang setara.

“Tahun ini, festival kami mengangkat pertanyaan tentang apa yang tersisa setelah sebuah gambar tercipta. Bagi fotografer seperti Rudi dan Irene, yang tersisa adalah kerja panjang selama bertahun-tahun yang kerap luput dari perhatian dan jarang mendapatkan dukungan finansial yang sepadan. Melalui penghargaan ini, kami ingin memberikan apresiasi terhadap dedikasi tersebut sebagaimana adanya, tanpa mengharuskan seniman menjadi pengelola proyek untuk bisa mendapatkan dukungan,” kata Kelsang Dolma, Founding Director FOTO Bali Award dan FOTO Bali Festival.

Berbeda dengan pendanaan berbasis proyek, dukungan FOTO Bali Award dapat dimanfaatkan penerima untuk keberlanjutan praktik fotografi mereka tanpa kewajiban menghasilkan karya atau proyek baru.

Rudi Waisnawa Angkat Kehidupan Orang dengan Kondisi Kesehatan Mental

Rudi Waisnawa atau I Kadek Rodi Artawan menjadi penerima pada kategori Karya yang Berakar pada dan Didedikasikan untuk Bali melalui karya Hope and Freedom.

Sejak 2014, Rudi telah mendokumentasikan kehidupan orang dengan kondisi kesehatan mental di Bali. Melalui fotografi, ia berupaya mengangkat kehidupan mereka sekaligus melawan stigma yang membuat kelompok tersebut terpinggirkan dan tidak terlihat di tengah masyarakat.

Praktik dokumentasi tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah buku fotografi yang dikerjakan bersama Nicky Hogan.

“Saya berharap penghargaan ini dapat membuka ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk melihat dan memahami kehidupan orang dengan kondisi kesehatan mental, yang kisah-kisahnya layak didengar dan dihargai dengan penuh martabat,” kata Rudi Waisnawa.

Irene Barlian Dokumentasikan Dampak Krisis Iklim

Sementara itu, Irene Barlian menerima penghargaan dalam kategori Karya yang Mengangkat Realitas Indonesia di Luar Bali melalui proyek dokumenter Land of the Sea.

Irene memulai proyek tersebut pada 2020 dan hingga kini masih terus berlangsung. Land of the Sea mendokumentasikan kehidupan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia yang menghadapi dampak krisis iklim secara langsung.

Proyek tersebut mendapat dukungan dari National Geographic Society dan mengangkat dampak perubahan iklim dari perspektif masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak, bukan semata melalui angka maupun proyeksi.

Karya Land of the Sea juga pernah masuk daftar pendek Leica Oskar Barnack Award 2022 dan dipamerkan di Objectifs, Singapura.

“Land of the Sea adalah kisah tentang dampak perubahan iklim di Indonesia, yang diceritakan melalui sudut pandang masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak. Rasanya masih sulit dipercaya, sekaligus menjadi sebuah kehormatan besar bagi saya untuk menerima penghargaan ini. Penghargaan ini semakin mendorong saya untuk terus berkarya dan menceritakan kisah-kisah yang paling berarti bagi saya,” kata Irene Barlian.

Dinilai dari Kekuatan Artistik dan Narasi

Dewan juri FOTO Bali Award terdiri dari Ng Swan Ti, Managing Director PannaFoto Institute; Dr. Wiyu Wahono, kolektor seni kontemporer Indonesia; serta I Made Bayu Pramana, fotografer dan akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Bali.

Penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan kekuatan artistik, pendekatan visual, kedalaman konsep, serta koherensi narasi dari karya yang diajukan.

“Penghargaan seperti FOTO Bali Award memberikan pengakuan terhadap praktik fotografi yang dibangun melalui komitmen jangka panjang. Dukungan langsung dari sebuah festival juga membuka lebih banyak kesempatan bagi para fotografer untuk terus berkembang,” kata Ng Swan Ti.

Dr. Wiyu Wahono menilai karya kedua fotografer tersebut menunjukkan kemampuan fotografi dalam merefleksikan realitas sosial dan lingkungan.

“Seni memiliki kemampuan untuk merefleksikan realitas pada zamannya. Melalui kedua karya ini, kita dapat melihat bagaimana fotografi tidak hanya menjadi medium untuk merekam peristiwa, tetapi juga membuka ruang bagi kita untuk memahami lebih dalam berbagai persoalan sosial dan lingkungan yang terjadi di sekitar kita. Keduanya menghadirkan perspektif yang penting untuk menjadi bagian dari ingatan dan pemahaman kolektif masyarakat,” kata Dr. Wiyu Wahono.

Hal senada disampaikan I Made Bayu Pramana yang melihat fotografi tetap memiliki peran penting dalam mendokumentasikan sekaligus memaknai realitas kehidupan masyarakat Indonesia.

“Fotografi memiliki peran penting dalam membentuk cara masyarakat mengingat, memahami, dan merefleksikan pengalaman mereka. Praktik fotografi seperti ini menunjukkan relevansi fotografi yang terus bertahan dalam mendokumentasikan sekaligus memaknai berbagai realitas kehidupan di Indonesia saat ini,” kata I Made Bayu Pramana.

Head of Nuanu Social Fund Ida Ayu Astari Prada mengatakan dukungan kepada kedua fotografer tersebut sejalan dengan landasan NSF yang menempatkan kepedulian terhadap manusia dan alam sebagai bagian penting dari keberadaannya.

“Nuanu Social Fund dibangun dengan berlandaskan kepedulian terhadap manusia dan alam. Kedua karya ini berada tepat di persimpangan tersebut. Yang satu mengangkat bagaimana kita memperlakukan kelompok rentan di tengah masyarakat, sementara yang lainnya memperlihatkan perubahan yang sedang terjadi pada daratan dan lautan tempat kita semua bergantung. Para fotografer yang secara konsisten mendalami isu-isu ini selama bertahun-tahun sesungguhnya juga sedang melakukan kerja sosial. Mendukung mereka merupakan bagian penting dari alasan Nuanu Social Fund hadir, dan komitmen ini akan terus kami jaga,” kata Ida Ayu Astari Prada.

Reporter: Ace Wiguna

Redaktur: Putu Wiguna

Sumber: Rilis Nuanu

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button