BaliBeritaDaerahLingkungan HidupPemerintahanTabanan

Kisruh Jatiluwih, Sender Soroti Nasib Petani Garda Terdepan Subak: Jangan Dijadikan Obyek Persaingan Bisnis

Jbm.co.id-TABANAN | Ketua Bakti Tabanan (BAKTA), Doktor I Nyoman Sender, yang juga warga Penebel dan pemerhati DTW Jatiluwih, menyoroti minimnya keberpihakan terhadap petani yang menjadi aktor utama dalam sistem subak. Ia menegaskan bahwa upaya mewariskan nilai-nilai subak akan sulit berhasil jika petani masih merasakan perlakuan yang tidak adil.

Sender menilai situasi petani kini kian berat. Di satu sisi mereka diminta mempertahankan subak, namun di sisi lain alih fungsi lahan sawah terus berlangsung. Kesejahteraan petani juga masih jauh tertinggal dibanding sektor pariwisata, sementara tekanan hidup keluarga petani semakin meningkat.

“Tidak ada perlakuan keberpihakan kepada petani macam subsidi harga saprotan, tiadanya jaminan harga pasca panen yang menguntungkan, pembebasan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan insentif bagi petani,” terangnya.

Menurutnya, selama perlakuan tidak adil ini terus berlangsung, petani akan sulit diajak menjadi garda depan dalam mempertahankan sistem subak. Ia juga menyoroti kecenderungan rendahnya minat generasi milenial untuk menjadi petani, sehingga diperlukan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada mereka.

“Tolong tekankan bahwa nasib Petani jangan dijadikan obyek persaingan bisnis atau kepentingan. Petani itu kelompok masyarakat yang paling lugu, sibuk bekerja untuk mengisi perut keluarganya, jangan dibenturkan dan diseret ke ranah konflik kepentingan pihak pengusaha,” paparnya.

Sender menilai seharusnya petani sebagai faktor sentral dalam sistem subak diperjuangkan nasibnya, termasuk penyediaan saprotan, bibit, pupuk hingga pestisida, yang harus tersedia tepat waktu dengan harga terjangkau serta adanya jaminan pasar dengan harga yang menguntungkan.

“Kalau mau membebaskan pajak PBB atas lahan sawahnya itu lebih baik. Tanpa itu semua, janganlah gembar gembor bilang kebijakan pemerintah akan mensejahterakan kehidupan petani,” bebernya.

Ia menutup dengan sorotan terhadap disparitas manfaat ekonomi antara pelaku bisnis pariwisata dan petani yang menjaga kelestarian subak Jatiluwih.

“Pebisnis pariwisata mungkin menangguk untung dari tersohornya DTW Jatiluwih, tapi bagaimana nasibnya Petani,” pungkasnya. (red).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button