KEK Kura Kura Bali Jadi Titik Temu Pemimpin Dunia Bahas Masa Depan AI untuk Martabat Manusia dan Perdamaian

Jbm.co.d-DENPASAR | Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali menjadi panggung pertemuan internasional yang mempertemukan pemimpin pemerintah, akademisi, tokoh agama, pelaku teknologi, masyarakat sipil dan generasi muda dari berbagai negara untuk membahas masa depan kecerdasan buatan (AI), martabat manusia dan perdamaian dunia.
Forum bertajuk World Encounter Summit 2026 tersebut berlangsung di United In Diversity (UID) Bali Campus, KEK Kura Kura Bali, pada 4-6 September 2026.
Rangkaian ini menjadi bagian dari Bali Harmony Encounter Week 2026 dan menghadirkan XI International Scholas Chairs Congress 2026 sebagai salah satu agenda utamanya.
Pertemuan di KEK Kura Kura Bali tersebut mempertemukan para pemimpin muda dari lima benua bersama pemerintah, tokoh lintas agama, inovator teknologi serta akademisi dari 140 perguruan tinggi di 70 negara.
Pembahasan tidak hanya berfokus pada perkembangan teknologi AI, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan untuk memperkuat martabat manusia, persaudaraan antarbangsa dan perdamaian.
Sebelum kongres berlangsung, Bali Harmony Dialogue telah digelar pada 3 September 2026 di UID Bali Campus, KEK Kura Kura Bali.
Forum tersebut menjadi pembuka resmi Bali Harmony Encounter Week 2026 sekaligus bagian awal dari inisiatif AI World Congress Bali.
Dialog tersebut menghadirkan pimpinan pemerintah, organisasi internasional, perusahaan teknologi global, sektor swasta, akademisi, masyarakat sipil hingga komunitas lokal.
Pemilihan KEK Kura Kura Bali sebagai lokasi forum internasional ini sekaligus menempatkan kawasan tersebut sebagai ruang pertemuan berbagai gagasan global dengan nilai-nilai lokal Bali.
Salah satu nilai yang mengemuka adalah Tri Hita Karana, yakni filosofi keseimbangan hubungan manusia, alam dan Tuhan. Nilai tersebut menjadi salah satu landasan dalam membangun perspektif bahwa perkembangan teknologi tidak boleh dilepaskan dari kepentingan kemanusiaan.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional Republik Indonesia, H.E. Luhut B. Pandjaitan menekankan pentingnya menggabungkan pengembangan AI dengan energi bersih dan pendidikan.
“Tri Hita Karana mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam dan Tuhan, yakni sebuah prinsip yang tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga mencakup ekonomi yang cerdas. Melalui perpaduan AI bertenaga energi bersih dan pendidikan STEM, kita membangun kapasitas nasional agar Indonesia berdiri sendiri sebagai pencipta global, bukan sekadar konsumen,” kata H.E. Luhut B. Pandjaitan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional Republik Indonesia.
Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia H.E. Meutya Hafid menyoroti pentingnya membangun kapasitas Indonesia agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi AI.
“Indonesia tidak memulai dari nol mengingat pesatnya adopsi AI di kalangan generasi muda, namun tingkat penggunaan saja tidak otomatis menjadi kapasitas nasional. Tanpa penyelarasan strategis di seluruh bidang kebijakan, riset, talenta, dan infrastruktur, kita berisiko hanya menjadi pasar konsumen bagi teknologi luar. Kami menyambut baik hadirnya ‘Garuda Spark Innovation Hub’ di UID Bali Campus sebagai Regional Hub dan Global Gateway Indonesia yang menghubungkan para pemuka industri, investor, dan inovator global. Berlandaskan visi digital nasional kita, Terhubung, Tumbuh, Terjaga, inisiatif ini bertujuan memajukan ‘AI yang Bermakna’ (Meaningful AI) memastikan AI tidak hanya mendorong produktivitas dan pelayanan publik, tetapi juga memberdayakan masyarakat serta memastikan masa depan AI dibangun dan berakar di Bali, dari Indonesia untuk dunia,” kata H.E. Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia.
Wakil Presiden United In Diversity Foundation, Suyoto, menilai Bali memiliki posisi penting dalam mempertemukan gagasan global dengan nilai spiritual dan kearifan lokal.
“Pekan Bali Harmony Encounter menyatukan gagasan global dan lokal untuk memperkuat nilai-nilai spiritual sebagai jangkar peradaban. Bali adalah tempat terbaik, di mana keharmonisan antara manusia, alam dan spiritualitas sungguh tumbuh subur,” tegas Suyoto, Wakil Presiden, United In Diversity Foundation.
KEK Kura Kura Bali Jadi Ruang Dialog Global
Dalam pelaksanaan XI International Scholas Chairs Congress 2026, KEK Kura Kura Bali menjadi bagian dari ruang dialog yang mengusung konsep “Forum of Forums”.
Forum ini membahas dampak AI terhadap berbagai sektor kehidupan, mulai dari pendidikan, masa depan dunia kerja, koeksistensi sosial, kesehatan mental, demokrasi hingga pencarian makna bagi generasi baru.
Metodologi forum mengadopsi inspirasi dari Agora Yunani kuno, yakni ruang publik tempat masyarakat berkumpul, berdialog, menguji gagasan dan melakukan refleksi bersama.
Para peserta diajak memetakan kemampuan manusia yang dinilai tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh AI, seperti pemikiran kritis, kreativitas, etika digital dan partisipasi demokratis.
Agenda tiga hari tersebut mencakup pembahasan mengenai masa depan manusia di tengah perkembangan teknologi, tata kelola AI beretika, kesehatan mental pemuda, literasi digital, pendidikan berbasis kearifan, masa depan tenaga kerja, redistribusi kesejahteraan, pembaruan demokrasi dan perdamaian.
Kongres ini juga akan mempertemukan gagasan teknologi dengan semangat dialog antaragama melalui momentum dua tahun perjalanan apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia serta penandatanganan Deklarasi Istiqlal 2024.
Generasi Muda Ikut Dilibatkan
Selain forum utama, kawasan KEK Kura Kura Bali juga menjadi bagian dari rangkaian Young Changemakers Programme (YCP) yang melibatkan pemimpin muda berusia 18-24 tahun.
Program tersebut dirancang sebagai ruang pembelajaran intensif berbasis pengalaman untuk membentuk kepemimpinan berbasis kesadaran.
Para peserta diajak merefleksikan posisi manusia di tengah otomatisasi, membangun empati terhadap realitas orang lain serta merumuskan masa depan berkelanjutan dan regeneratif.
Melalui rangkaian tersebut, KEK Kura Kura Bali tidak hanya menjadi tempat penyelenggaraan forum internasional, tetapi menjadi ruang perjumpaan antara teknologi, pendidikan, nilai kemanusiaan, kearifan lokal dan gagasan perdamaian.
World Encounter Summit dan Young Changemakers Programme sendiri merupakan kolaborasi Scholas Occurrentes, University of Meaning, Global Humanity for Peace Institute, Guerrand-Hermes Foundation for Peace dan United In Diversity Foundation.
Kegiatan ini turut mendapat dukungan sejumlah mitra korporasi dan institusi, termasuk Astra, PERTAMINA, Freeport Indonesia, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Danantara, Sinar Mas, PT Gajah Tunggal Tbk. dan KEK Kura Kura Bali.
Dengan menjadi lokasi pertemuan berbagai pemimpin dan jaringan global tersebut, KEK Kura Kura Bali semakin diposisikan sebagai ruang strategis bagi perjumpaan gagasan internasional dengan nilai-nilai Bali, khususnya dalam membangun masa depan teknologi yang tetap berorientasi pada manusia dan keberlanjutan.
Reporter: Ace Wiguna
Redaktur: Putu Wiguna




