Gunung Sewu Geopark Menuju Tata Kelola Berkelanjutan, Pesan Hesti Jadi Penegas
"Forum ini menjadi bagian dari tindak lanjut hasil revalidasi UNESCO Global Geopark tahun 2023"

Pacitan,JBM.co.id-Pengelolaan Gunung Sewu UNESCO Global Geopark memasuki tahap penting. Pemerintah Kabupaten Wonogiri mendorong penyusunan Rencana Induk Gunung Sewu UNESCO Global Geopark Tahun Anggaran 2026 sebagai pijakan pengelolaan kawasan secara lebih terpadu dan berkelanjutan.
Forum Focus Group Discussion (FGD) dan penyampaian laporan pendahuluan penyusunan Rencana Induk tersebut berlangsung di Ruang Graha Perencana 1 BAPPERIDA Kabupaten Wonogiri, sejak Senin (31/8/2026) lalu. Sekarang masih terus berlangsung.
Forum ini menjadi bagian dari tindak lanjut hasil revalidasi UNESCO Global Geopark tahun 2023. Sejumlah pemangku kepentingan dilibatkan untuk membahas arah pengelolaan dan pengembangan kawasan yang memiliki karakter lintas wilayah tersebut.
Di tengah proses pembahasan itu, Kepala Bagian Pemerintahan dan Kerja Sama Setda Pacitan, Hesti Suteki, menyampaikan pesan yang menekankan pentingnya substansi dalam sebuah forum bersama.
“Jangan melihat siapa yang bicara, tapi dengarkan apa yang dibicarakan atau disampaikan,” pesan Hesti, Rabu (30/9).
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pembahasan Rencana Induk Gunung Sewu seharusnya tidak berhenti pada siapa yang menyampaikan gagasan. Yang lebih penting adalah isi, relevansi, serta kontribusi gagasan tersebut terhadap pengelolaan kawasan.
Sebab, Gunung Sewu UNESCO Global Geopark bukan hanya berbicara tentang bentang alam dan kekayaan geologi. Pengelolaannya juga membutuhkan keterpaduan antardaerah dan berbagai sektor agar nilai geologi, lingkungan, budaya, pendidikan, hingga potensi ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan dengan prinsip keberlanjutan.
Rencana Induk kemudian diharapkan mampu menjadi dokumen yang memberikan arah pengelolaan kawasan secara lebih jelas. Bukan sekadar dokumen administratif, tetapi menjadi pijakan bagi kerja bersama dalam menjaga sekaligus mengembangkan potensi Gunung Sewu.
FGD ini menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan tersebut. Masukan dari berbagai pihak menjadi bagian penting dalam menyusun arah kebijakan pengelolaan kawasan ke depan.
Pada akhirnya, pesan Hesti menjadi relevan bukan hanya untuk forum tersebut, tetapi juga untuk seluruh proses perencanaan: substansi harus ditempatkan di depan, sementara siapa yang menyampaikan berada di belakangnya.
Dari gagasan yang didengar, dibahas, dan diuji bersama itulah, Rencana Induk Gunung Sewu UNESCO Global Geopark diharapkan mampu menjadi fondasi pengelolaan kawasan yang lebih terarah dan berkelanjutan.(Red/yun).




