Gung Cok Ajak Dialog Soal Sampah Bukan Aksi Bawa Tumpukan Limbah ke Kantor Gubernur Bali

Jbm.co.id-DENPASAR | Legislator DPRD Bali dari Fraksi Golkar, Agung Bagus Tri Candra Arka atau akrab disapa Gung Cok menyatakan ketidaksetujuan atas wacana aksi demonstrasi dengan membawa sampah ke Kantor Gubernur Bali.
Gung Cok menilai cara penyampaian aspirasi tersebut berpotensi merugikan citra Bali sebagai destinasi pariwisata dunia.
Menurutnya, aksi demonstrasi yang menampilkan tumpukan sampah justru memberikan kesan negatif di ruang publik, terutama di era media sosial yang cepat menyebarkan informasi visual. Sebagai daerah yang mengandalkan sektor pariwisata, Bali dinilai perlu menjaga citra positif di mata wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Demo bawa sampah ke Kantor Gubernur Bali itu seperti meludahi diri sendiri. Bali ini daerah pariwisata, media sosial melihatnya tidak baik,” kata Gung Cok yang menjabat sebagai Ketua Fraksi Golkar DPRD Bali di Denpasar, Rabu, 14 Januari 2026.
Untuk itu, Gung Cok mendorong masyarakat dan kelompok penyampai aspirasi untuk mengedepankan dialog sebagai jalan keluar.
Bahkan, DPRD Bali, kata Gung Cok, siap menjadi ruang komunikasi terbuka guna membahas persoalan sampah secara bersama-sama dan konstruktif.
“Ayo kita duduk bersama, bicara baik-baik. Kami di Dewan siap memfasilitasi. Demo tidak selalu menguntungkan, yang penting solusi,” ajaknya.
Gung Cok juga menilai persoalan sampah yang semakin kompleks tidak terlepas dari perubahan pola pengelolaan sampah masyarakat Bali. Jika dulu masyarakat terbiasa mengelola sampah secara mandiri melalui sistem teba, kini pola tersebut sudah tidak relevan seiring perubahan zaman dan regulasi.
Menurutnya, masyarakat saat ini cenderung menyerahkan pengelolaan sampah kepada pihak lain. Ketika sistem tersebut dihentikan tanpa solusi yang matang, maka persoalan baru akan muncul.
“Dulu orang selesai dengan sampahnya sendiri di rumah, sekarang tidak bisa lagi. Masyarakat sudah terbiasa menyerahkan sampah ke pihak lain. Kalau tiba-tiba dihentikan tanpa solusi, tentu jadi masalah,” ujarnya.
Lebih lanjut, Gung Cok menekankan pentingnya penanganan sampah yang terstruktur melalui komunikasi intensif antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat.
Gung Cok mengingatkan bahwa persoalan sampah bukan hanya masalah Bali, melainkan tantangan global yang dihadapi banyak negara.
“Tidak ada negara tanpa sampah. Harusnya kita belajar dari negara-negara yang sudah menemukan solusinya. Ada yang bahkan menjadikan sampah sebagai sumber energi atau industri, seperti waste to energy,” paparnya.
Meski demikian, Gung Cok mengingatkan bahwa penerapan teknologi pengelolaan sampah membutuhkan kajian mendalam dan tidak bisa dilakukan secara instan. Pemilihan teknologi dan kebijakan harus disesuaikan dengan kondisi Bali agar benar-benar efektif.
Gung Cok juga menyoroti risiko penutupan atau pembatasan operasional tempat penampungan sampah tanpa alternatif yang jelas.
Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan penumpukan sampah di jalanan dan mengganggu kenyamanan masyarakat serta wisatawan.
“Kalau dihentikan, harus jelas solusinya kemana sampah itu dibawa. Jangan sampai numpuk di jalan,” tegasnya. (red).




