Dzikir, Obat Jiwa dan Mental: Perspektif Medis dari Kepala Dinas Kesehatan Pacitan
"Secara medis, aktivitas dzikir yang dilakukan berulang dengan pola napas teratur mampu memicu respons relaksasi tubuh. Detak jantung menjadi lebih stabil, tekanan darah cenderung menurun, dan pikiran terasa lebih jernih"

Pacitan,JBM.co.id-Di tengah meningkatnya tantangan kesehatan mental akibat tekanan hidup modern, praktik spiritual seperti dzikir kembali mendapat perhatian sebagai salah satu metode pendukung kesehatan jiwa. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan, dr. Daru Mustikoaji, menegaskan bahwa dzikir bukan hanya ibadah, tetapi juga memiliki dampak positif terhadap kesehatan mental jika dilakukan secara konsisten dan penuh kesadaran.
Menurut dr. Daru Mustikoaji, dzikir yang dilakukan dengan tenang dan khusyuk dapat membantu menstabilkan emosi, menurunkan tingkat stres, serta meningkatkan rasa optimisme. “Secara medis, aktivitas dzikir yang dilakukan berulang dengan pola napas teratur mampu memicu respons relaksasi tubuh. Detak jantung menjadi lebih stabil, tekanan darah cenderung menurun, dan pikiran terasa lebih jernih,” ujarnya, Sabtu (14/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa praktik dzikir memiliki kesamaan dengan teknik mindfulness atau relaksasi yang banyak digunakan dalam terapi psikologis modern. Pengulangan lafaz dzikir membantu seseorang memusatkan perhatian, sehingga pikiran yang semula dipenuhi kecemasan perlahan menjadi lebih terkendali. Kondisi ini berperan penting dalam mencegah gangguan kecemasan ringan hingga sedang.
Lebih lanjut, dr. Daru menekankan bahwa kesehatan jiwa tidak bisa dipisahkan dari kesehatan fisik. Ketika seseorang mengalami stres berkepanjangan, sistem imun dapat menurun dan risiko penyakit fisik meningkat. “Dzikir menjadi salah satu bentuk ikhtiar batin yang mendukung keseimbangan hormon stres seperti kortisol. Dengan jiwa yang lebih tenang, tubuh pun ikut merespons secara positif,” jelasnya.
Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa dzikir bukanlah pengganti pengobatan medis bagi penderita gangguan mental berat. “Bagi masyarakat yang mengalami depresi berat, gangguan kecemasan parah, atau gangguan psikologis lainnya, tetap diperlukan konsultasi dengan tenaga profesional. Dzikir berperan sebagai terapi pendamping (supportive therapy), bukan terapi utama,” tegasnya.
Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan sendiri terus mendorong pendekatan promotif dan preventif dalam menjaga kesehatan mental masyarakat. Selain edukasi tentang pentingnya konseling dan pola hidup sehat, pendekatan spiritual yang selaras dengan nilai budaya masyarakat juga menjadi bagian dari strategi kesehatan berbasis komunitas.
“Pada dasarnya, kesehatan jiwa membutuhkan keseimbangan antara aspek biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Dzikir menjadi salah satu cara sederhana, murah, dan mudah diakses oleh masyarakat untuk menjaga ketenangan batin,” pungkas dr. Daru.
Melalui pendekatan holistik ini, diharapkan masyarakat semakin sadar bahwa menjaga kesehatan mental dapat dimulai dari langkah kecil, termasuk meluangkan waktu untuk berdzikir secara rutin dalam kehidupan sehari-hari.(Red/yun).




