BeritaDaerahEkonomiLingkungan HidupOpiniPemerintahanPendidikanSeni BudayaSosial

Satu Pompa Layani 40 Hektare, Pengairan Sawah Tremas Pacitan Butuh Tambahan Sarana

"Dengan luas lahan yang harus dilayani, pola pengairan bergiliran menjadi konsekuensi yang tidak terhindarkan"

Pacitan,JBM.co.id-Satu unit pompa diesel harus bekerja melayani sekitar 40 hektare lahan pertanian di Desa Tremas, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan. Di tengah kebutuhan air yang terus meningkat pada musim kemarau, kapasitas tersebut dinilai belum mampu mengoptimalkan pengairan lahan pertanian yang tersebar di enam dusun.

Kondisi itu menjadi perhatian dalam kunjungan Staf Ahli Bupati Pacitan Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan ke Desa Tremas, Rabu (7/10/2026). Kunjungan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk melihat langsung kondisi pertanian dan mendengar kebutuhan sarana pengairan dari para petani.

Staf Ahli Bupati bertemu dengan Kepala Desa Tremas, Nurhadi, serta Kepala Dusun Pojok, Imam Subarkah, yang juga menjabat sebagai Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Tremas.

Dalam pertemuan tersebut terungkap, lahan pertanian yang saat ini mendapatkan layanan pengairan mencapai sekitar 40 hektare. Sekitar 30 hektare di antaranya ditanami padi, sedangkan 10 hektare lainnya dimanfaatkan untuk tanaman palawija seperti jagung, cabai, terong, dan kacang panjang.

“Persoalannya, seluruh kebutuhan tersebut saat ini masih bertumpu pada satu unit diesel pompa air berkapasitas 4 PK milik Gapoktan Desa Tremas,” ujar Prayitno.

Pompa tersebut digunakan secara bergantian untuk mengairi lahan pertanian di enam dusun. “Air dipompa dari intake Daerah Irigasi Mlati Kanan, Niten, Desa Sedayu, kemudian dialirkan untuk memenuhi kebutuhan lahan pertanian masyarakat,” jelasnya.

Dengan luas lahan yang harus dilayani, pola pengairan bergiliran menjadi konsekuensi yang tidak terhindarkan. Ketika kebutuhan air meningkat pada musim kemarau, keterbatasan kapasitas pompa berpotensi membuat distribusi air tidak berjalan secepat kebutuhan tanaman.

Air menjadi persoalan yang tidak bisa ditunda. “Tanaman padi maupun palawija membutuhkan pasokan air yang cukup agar pertumbuhan tetap terjaga dan risiko penurunan hasil panen dapat ditekan,” tegas Prayitno.

Karena itu, dalam pembahasan tersebut disampaikan kebutuhan tambahan sarana pengairan. Salah satu opsi yang diusulkan adalah diesel pompa air berkapasitas 25 HP dengan input 4 PK. Alternatif lainnya berupa pompa submersible berukuran 4 inci.

Tambahan pompa diharapkan bukan sekadar menambah jumlah peralatan, tetapi mampu mempercepat dan memperluas jangkauan distribusi air ke lahan pertanian.

“Dengan sarana pengairan yang lebih memadai, petani di enam dusun diharapkan tidak terlalu bergantung pada satu unit pompa. Pengairan dapat dilakukan lebih efektif sehingga kebutuhan tanaman selama musim kemarau tetap terpenuhi,” harapnya.

Bagi masyarakat Desa Tremas, persoalan ini bukan semata tentang mesin pompa. Di balik kebutuhan sarana pengairan terdapat keberlangsungan usaha tani dan sumber penghidupan masyarakat.

Ketika air tersedia, sawah tetap produktif. Palawija tetap tumbuh. Dan petani memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan hasil panen.

Optimalisasi pengairan karena itu menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah. (Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button