BeritaDaerahEkonomiPemerintahanPendidikanPolitikSosial

Libur Sekolah Hentikan Sementara Dapur MBG, Harga Sayur dan Telur di Pacitan Terus Menurun. Masyarakat Sumringah

"Beberapa pekan terakhir, harga berbagai kebutuhan pokok, khususnya sayuran, komoditas hortikultura, hingga telur ayam, terus menunjukkan tren penurunan".

Pacitan,JBM.co.id- Penghentian sementara operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah membawa dampak yang cukup terasa di pasar tradisional Pacitan. Di balik jedanya aktivitas dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), para pedagang sayur obrokan justru menyambutnya dengan senyum tipis karena harga sejumlah komoditas pangan mulai mengalami penurunan.

Beberapa pekan terakhir, harga berbagai kebutuhan pokok, khususnya sayuran, komoditas hortikultura, hingga telur ayam, terus menunjukkan tren penurunan. Kondisi tersebut diakui para pedagang sebagai dampak berkurangnya permintaan dalam jumlah besar dari dapur MBG yang untuk sementara tidak beroperasi selama liburan sekolah.

Salah seorang pedagang sayur, Nuryati, mengatakan penurunan harga terjadi hampir merata pada sejumlah komoditas. Telur ayam misalnya, yang sebelumnya dijual di kisaran Rp25.000 hingga Rp25.500 per kilogram, kini turun menjadi sekitar Rp19.500 hingga Rp20.000 per kilogram.

“Harga sayuran juga banyak yang turun, termasuk komoditas hortikultura,” ujar Nuryati, Selasa (1/7/2026).

Menurutnya, penurunan harga tidak lepas dari berhentinya sementara aktivitas dapur SPPG yang selama ini menjadi pembeli dalam jumlah besar. Saat program MBG berjalan, kebutuhan bahan pangan meningkat sehingga stok di pasaran lebih cepat terserap.

“Ya sejak SPPG tutup sementara karena libur sekolah, banyak harga berbagai komoditas bahan pokok turun. Termasuk telur ayam yang terus merosot,” katanya.

Ia menjelaskan, ketika dapur MBG beroperasi, pasokan di pasar cenderung cepat habis karena sebagian besar diserap untuk memenuhi kebutuhan program tersebut. Bahkan, harga komoditas relatif bertahan di level tinggi lantaran pembelian dilakukan dalam volume besar melalui pedagang grosir.

“Biasanya kalau SPPG beroperasi, stok di pasar cepat menipis karena banyak diborong untuk kebutuhan MBG. Harganya juga relatif tinggi. Tapi sekarang, setelah SPPG tutup sementara, harga justru terus turun dan mulai stabil,” pungkasnya.

Fenomena ini menunjukkan besarnya pengaruh Program Makan Bergizi Gratis terhadap dinamika permintaan komoditas pangan di tingkat lokal. Meski penurunan harga menguntungkan konsumen, di sisi lain kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pedagang dan petani yang harus menyesuaikan diri dengan melemahnya permintaan selama masa libur sekolah.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button