BaliBeritaDaerahDenpasarLingkungan HidupPemerintahan

Letjen TNI Cantiasa Bawa Mandat Selamatkan Bali dari Krisis Sampah Siapkan Dua Strategi Besar Atasi Sampah Bali Capai 3.400 Ton per Hari

Jbm.co.id-DENPASAR | Persoalan sampah di Bali menjadi perhatian serius karena tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menyangkut ekonomi dan citra pariwisata Pulau Dewata di mata dunia.

Sebagai daerah tujuan wisata internasional, kondisi pantai, ruang publik hingga kawasan perkotaan menjadi wajah Bali.

Tumpukan sampah yang tidak tertangani dinilai dapat mengancam reputasi pariwisata yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Untuk menjawab persoalan tersebut, Letjen TNI I Nyoman Cantiasa, S.E., M.Tr(Han) datang ke Bali membawa mandat negara. Tugas tersebut diberikan langsung oleh Presiden RI dan Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD), salah satunya untuk membantu menyelesaikan persoalan sampah yang semakin mendesak.

Foto: Letjen TNI I Nyoman Cantiasa, S.E., M.Tr(Han) datang ke Bali membawa mandat negara.

Sampah Bali saat ini bukan hanya persoalan kebersihan, tetapi telah menjadi isu strategis yang menyentuh keberlanjutan lingkungan dan masa depan ekonomi daerah.

Data tahun 2025 mencatat timbulan sampah harian Bali mencapai sekitar 3.400 ton. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 29 persen yang berhasil dikelola. Artinya, masih terdapat lebih dari 2.500 ton sampah per hari yang belum tertangani secara optimal.

Kondisi tersebut terlihat dari keberadaan TPA Suwung yang menjadi salah satu titik persoalan utama. Beroperasi sejak 1984 dengan luas awal sekitar 10 hektare, kawasan tersebut kini berkembang menjadi 32,4 hektare dengan gunungan sampah mencapai ketinggian sekitar 35 meter.

Permasalahan lingkungan seperti polusi udara dan pencemaran air menjadi dampak yang harus segera ditangani serius.

Pemerintah kemudian menyiapkan strategi dua jalur untuk mengatasi persoalan sampah Bali, yakni penanganan sampah baru melalui teknologi pengolahan sampah menjadi energi dan penyelesaian sampah lama yang menumpuk di TPA.

Jalur pertama dilakukan melalui proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) bersama Danantara.

PT Danantara Investment Management membentuk PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) pada 1 April 2026 yang bertugas mengelola sampah menjadi energi melalui teknologi PSEL.

Kerja sama tersebut diperkuat melalui penandatanganan MoU antara Pemerintah Provinsi Bali dan Danantara. Lokasi pembangunan berada di lahan Pelindo seluas 6 hektar di kawasan Pesanggaran.

Groundbreaking direncanakan berlangsung pada 8 Juli 2026, dengan target operasional pada Desember 2027 setelah proses pembangunan selama sekitar 15 bulan.

Dalam skema tersebut, pemerintah daerah memiliki kewajiban menyediakan pasokan sekitar 1.000 ton sampah per hari, dengan Denpasar dan Badung sebagai wilayah penyumbang utama.

Sementara itu, jalur kedua difokuskan pada penanganan sampah lama di TPA Suwung melalui teknologi pirolisis yang melibatkan TNI Angkatan Darat.

Bali menjadi salah satu wilayah pilot project penerapan teknologi pirolisis bersama sejumlah daerah lain seperti Jakarta, Surabaya, Bekasi, Bandung, Bogor, dan Semarang.

Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Jenderal Maruli Simanjuntak menyatakan dukungan terhadap program tersebut. Teknologi pirolisis dinilai mampu mengurai sampah lama dengan emisi lebih rendah dan tanpa menggunakan APBN.

Apabila proses revitalisasi berhasil, kawasan eks TPA Suwung nantinya direncanakan dapat dikembangkan menjadi ruang terbuka hijau yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Namun, pemerintah menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada teknologi di hilir. Perubahan harus dimulai dari sumber sampah melalui pemilahan sejak dari rumah.

Kementerian Lingkungan Hidup bersama Pemerintah Provinsi Bali menetapkan Bali sebagai proyek percontohan pemilahan sampah 100 persen.

Mulai 1 Juli 2026, masyarakat diwajibkan melakukan pemilahan sampah dari rumah. Kemudian pada 1 Agustus 2026, praktik open dumping dihentikan secara nasional.

Pemilahan sampah menjadi langkah penting, karena keberhasilan program bergantung pada keterlibatan masyarakat, pemerintah kabupaten/kota, hingga pengelola fasilitas umum dan pasar.

Bali bersih bukan hanya slogan, tetapi menjadi investasi untuk menjaga sektor pariwisata yang menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

Dengan kombinasi PSEL Danantara untuk menangani sampah baru, teknologi pirolisis TNI AD untuk mengatasi sampah lama, serta gerakan pemilahan dari masyarakat, Bali diarahkan menjadi contoh pengelolaan sampah berkelanjutan di Indonesia. (ace).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button