Di Tengah Kesibukan, Kapolres Pacitan Hadir Sebagai Ayah: Momen AKBP Ayub Ambil Rapor Putrinya Jadi Inspirasi
"Bukan dengan pengawalan berlebihan atau suasana formal yang kaku, melainkan dengan penampilan sederhana dan sikap bersahaja"

Pacitan,JBM.co.id-Di balik seragam dinas dan tanggung jawab besar sebagai Kapolres Pacitan, AKBP Ayub Diponegoro Azhar tetap menempatkan satu peran yang tak kalah penting dalam hidupnya: menjadi ayah bagi putra-putrinya.
Menjelang libur panjang dan pergantian tahun ajaran baru, sebuah momen sederhana namun penuh makna terekam di salah satu sekolah di Pacitan. Perwira menengah Polri dengan dua melati di pundaknya itu tampak hadir langsung untuk mengambil rapor putri tercintanya. Bukan dengan pengawalan berlebihan atau suasana formal yang kaku, melainkan dengan penampilan sederhana dan sikap bersahaja, ia duduk di hadapan wali kelas, mendengarkan dengan saksama perkembangan belajar sang anak.
Pemandangan itu menghadirkan kesan yang hangat. Di ruang kelas tersebut, tak terlihat sekat antara jabatan seorang Kapolres dengan guru yang selama ini membimbing putrinya. Yang tampak justru sosok seorang ayah yang datang dengan ketulusan, menyisihkan waktu di tengah padatnya agenda tugas, demi memastikan dirinya tetap hadir dalam perjalanan pendidikan anaknya.
“Alhamdulillah, di tengah berbagai aktivitas, saya menyempatkan waktu untuk hadir di sekolah mengambil rapor Mbak Nis,” ungkap AKBP Ayub, belum lama ini.
Kalimat singkat itu menyimpan makna yang dalam. Sebab, di tengah kesibukan menjalankan tugas negara, ia tetap berupaya menjaga kedekatan dengan keluarga dan memberi ruang bagi hal-hal penting yang tak bisa diulang, yakni momen tumbuh kembang anak.
Bagi sebagian orang, mengambil rapor mungkin hanya rutinitas setiap akhir semester. Namun bagi seorang anak, kehadiran orang tua di sekolah bisa menjadi bentuk penghargaan yang begitu besar. Ada rasa bangga, ada rasa diperhatikan, dan ada semangat baru yang tumbuh ketika hasil belajarnya disambut dengan apresiasi.
Momen AKBP Ayub mengambil rapor putrinya pun menjadi potret sederhana tentang arti kehadiran. Bahwa sesibuk apa pun seseorang, setinggi apa pun jabatan yang diemban, keluarga tetaplah rumah pertama yang harus dijaga. Pendidikan anak tidak semata diukur dari angka-angka di atas kertas, tetapi juga dari seberapa besar perhatian, dukungan, dan waktu yang diberikan orang tua untuk menemani proses mereka bertumbuh.
Momen itu juga menjadi pengingat bahwa setiap langkah anak dalam belajar, sekecil apa pun, layak dirayakan. Sebab dari proses itulah karakter dibentuk, mimpi dirawat, dan masa depan dipersiapkan. Apresiasi dari orang tua, sesederhana hadir mengambil rapor, bisa menjadi suntikan semangat yang tak ternilai bagi anak untuk terus melangkah lebih jauh.
AKBP Ayub menjadikan momen tersebut sebagai memori berharga bagi keluarganya. Sebuah pengingat bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari peristiwa besar, tetapi sering kali tumbuh dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan cinta dan kesungguhan.
Semoga hasil yang diraih sang putri menjadi motivasi untuk terus belajar, bertumbuh, dan menjemput cita-cita yang diimpikan. Dan bagi banyak orang tua, kisah ini menjadi teladan bahwa di tengah kesibukan apa pun, selalu ada cara untuk hadir bagi anak-anak, karena bagi mereka, kehadiran orang tua adalah dukungan paling berarti.(Red/yun).




