Deflasi di Ujung April, Harga Pangan Turun Serempak di Pacitan
"Indeks Perkembangan Harga (IPH) tercatat mengalami deflasi sebesar -2,87 persen pada Minggu ke-5, menjadi sinyal kuat turunnya tekanan harga di tingkat konsumen"

Pacitan,JBM.co.id- Pergerakan harga kebutuhan pokok di Kabupaten Pacitan pada pekan terakhir April 2026 menunjukkan tren yang menyejukkan. Indeks Perkembangan Harga (IPH) tercatat mengalami deflasi sebesar -2,87 persen pada Minggu ke-5, menjadi sinyal kuat turunnya tekanan harga di tingkat konsumen.
Kepala Bagian Perekonomian Setda Pacitan, Ayub Setyo Budi, menjelaskan, bahwa penurunan ini terutama dipicu oleh merosotnya harga sejumlah komoditas pangan utama. “Komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap deflasi adalah cabai rawit, daging sapi, dan daging ayam ras. Penurunan ini terjadi cukup signifikan dan merata,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).
Secara lebih luas, capaian ini menempatkan Pacitan pada posisi ke-317 secara nasional, urutan ke-15 di tingkat Provinsi Jawa Timur, serta peringkat ke-45 di Pulau Jawa. Meski bukan yang terdalam, angka ini mencerminkan dinamika harga yang cukup aktif di wilayah tersebut.
Ayub menambahkan, jika dilihat dari tren tahunan, IPH Pacitan pada April 2026 secara year-on-year (y-on-y) tercatat sebesar -0,88 persen, sementara secara year-to-date (y-to-d) mencapai -2,07 persen. Adapun secara bulanan (month-to-month), angka deflasi sama dengan capaian mingguan akhir April, yakni -2,87 persen, berbalik arah dari bulan Maret yang sempat mencatat inflasi sebesar 1,28 persen.
“Perubahan ini menunjukkan adanya koreksi harga setelah sebelumnya mengalami kenaikan. Ini merupakan bagian dari siklus pasar, terutama pada komoditas pangan yang sensitif terhadap pasokan dan distribusi,” jelasnya.
Data juga menunjukkan bahwa selama April, beberapa komoditas justru mengalami kenaikan harga, seperti minyak goreng, cabai merah, dan gula pasir. Sementara itu, komoditas seperti beras, minyakita, pisang, dan jeruk relatif stabil. Di sisi lain, penurunan harga terjadi pada daging sapi, daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, bawang merah, dan bawang putih.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Pacitan. Secara regional di Jawa Timur, mayoritas kabupaten/kota juga mengalami deflasi, dengan pola yang hampir seragam, didominasi oleh turunnya harga cabai rawit dan produk protein hewani. Bahkan, beberapa daerah mencatat deflasi lebih dalam, seperti Situbondo yang mencapai -5,92 persen.
Meski demikian, kondisi ini juga menjadi pengingat penting bagi pemerintah daerah untuk terus menjaga keseimbangan antara harga yang terjangkau bagi konsumen dan keberlanjutan pendapatan bagi petani serta pelaku usaha.
“Stabilitas harga tetap menjadi prioritas. Kami terus memantau perkembangan pasar dan berkoordinasi dengan berbagai pihak agar fluktuasi ini tetap terkendali dan tidak merugikan masyarakat secara luas,” pungkas Ayub.
Dengan tren yang bergerak dinamis, Pacitan kini memasuki fase penyesuaian harga yang diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.(Red/yun).




