Nuanu Umumkan Kurator FOTO Bali Festival 2026 Perkuat Ekosistem Seni Visual Internasional

Jbm.co.id-TABANAN | FOTO Bali Festival kembali digelar di Nuanu Creative City, Kabupaten Tabanan, pada 3 Juni hingga 12 Juli 2026.
Hal tersebut menegaskan Bali sebagai titik temu praktik fotografi lintas negara. Bahkan, Penyelenggaraan edisi kedua ini diumumkan oleh Nuanu Creative City sebagai kelanjutan dari keberhasilan festival perdana pada 2025.
Festival fotografi internasional ini kembali dihadirkan sebagai ruang bagi praktisi fotografi dan seniman visual untuk saling terhubung, bertukar gagasan, serta bekerja melintasi konteks lokal dan global.
Kehadiran platform berkelanjutan dinilai penting bagi perkembangan ekosistem fotografi di kawasan Asia Tenggara.
Pada edisi pertamanya, FOTO Bali Festival menampilkan karya 34 seniman dari 10 negara yang terpilih melalui 247 pengajuan karya dari 29 negara.
Antusiasme tersebut menunjukkan kebutuhan akan ruang temu internasional yang mampu menempatkan Bali dalam percakapan fotografi kontemporer dunia.
“Respons yang kami terima dari para seniman di Asia Tenggara dan komunitas fotografi internasional menunjukkan bahwa platform ini memang dibutuhkan,” kata Kelsang Dolma, Festival Director FOTO Bali Festival.
“Saya sangat menghargai kepercayaan Nuanu dalam mendukung FOTO Bali Festival sebagai komitmen jangka panjang terhadap infrastruktur budaya, bukan sekadar inisiatif satu kali. Sejak awal, festival ini kami kembangkan secara organik melalui praktik. Kami terus belajar untuk peka terhadap konteks, dan mengambil keputusan secara hati-hati, sambil tetap terbuka untuk bekerja bersama para seniman dan pihak-pihak yang berinvestasi dalam membentuk Nuanu sebagai ruang budaya bersama,” terangnya.
Untuk penyelenggaraan 2026, Nuanu menunjuk dua kurator Indonesia, yakni Kurniadi Widodo dan Putu Sridiniari.
Keduanya bertanggung jawab menentukan arah kuratorial, menyeleksi seniman, serta menyusun program publik festival.
Kurniadi Widodo dikenal sebagai fotografer, pendidik, sekaligus kurator berbasis di Yogyakarta dengan pengalaman panjang dalam praktik dokumenter dan pendidikan fotografi.
Sementara Putu Sridiniari merupakan kurator serta peneliti asal Bali yang bekerja antara Bali dan Yogyakarta, dengan pendekatan berbasis riset yang menyoroti seni visual, arsip, memori, tempat, serta konteks sosial-politik.
“Festival ini menawarkan ruang penting bagi para fotografer untuk bertemu melampaui batas institusional maupun geografis,” kata Kurniadi Widodo.
“Fokus saya adalah membangun kerangka kuratorial yang memungkinkan berbagai praktik saling berdialog, tanpa kehilangan keterkaitannya dengan konteks asal masing-masing. Bagi saya, fotografi adalah cara untuk menelusuri bagaimana gambar bergerak melalui waktu, ingatan, dan ruang sosial,” tambah Putu Sridiniari.
“Di FOTO Bali Festival, saya tertarik melihat bagaimana praktik fotografi dibentuk oleh realitas setempat, namun tetap berada dalam percakapan dengan sejarah dan konteks yang lebih luas,” tambahnya.
Sebagai inisiatif tahunan, FOTO Bali Festival tidak hanya menghadirkan pameran, tetapi juga rangkaian diskusi, pertemuan publik, serta program edukatif.
Melalui kegiatan tersebut, publik dan praktisi diajak berinteraksi lebih dekat dengan fotografi sebagai praktik yang terus berkembang dan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, ingatan, serta kondisi produksi gambar.
Edisi kedua FOTO Bali Festival sekaligus menegaskan komitmen Nuanu dalam mendukung praktik seni dan pertukaran internasional di Bali.
Kehadiran festival fotografi berskala global ini diharapkan memperkuat ekosistem budaya yang terus tumbuh serta menempatkan Bali sebagai ruang aktif dalam percakapan seni dan fotografi kontemporer di Asia Tenggara. (red).




