BaliBeritaDaerahDenpasarLingkungan HidupPemerintahan

WWF Indonesia Ungkap Kondisi Terumbu Karang Fluktuatif Dipicu Aktivitas Wisata dan Perubahan Iklim di Kawasan Pesisir

Jbm.co.id-DENPASAR | WWF Indonesia menyoroti kondisi terumbu karang di sejumlah wilayah konservasi yang mengalami tekanan akibat aktivitas manusia dan perubahan iklim. Kerusakan ekosistem laut tersebut dinilai perlu mendapat perhatian serius karena berdampak langsung terhadap kesehatan laut dan keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir.

Direktur Program Kelautan dan Perikanan WWF Indonesia, Candhika Yusuf menjelaskan pihaknya secara rutin melakukan Survey Ecological Health di sejumlah kawasan konservasi laut seperti Alor, Gili Trawangan, Wakatobi hingga Taman Nasional Komodo.

“Itu kita cek kondisi padang lamun seperti apa dan kondisi mangrove juga seperti apa, sehingga kami punya data berseri dari tahun ke tahun,” kata Direktur Program Kelautan dan Perikanan WWF Indonesia, Candhika Yusuf bersama  Direktur Konservasi WWF Indonesia, Dewi Lestari Yani Rizki, saat diwawancarai awak media, usai acara Press Conference World Ocean Day & Coral Triangle Day 2026 bertema “Kenali Lautmu Wujudkan Aksimu” di Denpasar, Jumat, 5 Juni 2026.

Berdasarkan hasil pemantauan tersebut, kondisi terumbu karang disebut mengalami fluktuasi bahkan cenderung menurun di beberapa wilayah. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari fenomena alam hingga aktivitas manusia di kawasan pesisir dan laut.

“Itu terumbu karang kondisinya fluktuatif, kadang-kadang ada masa dimana terumbu karang kondisinya drop dan itu faktornya apa karena faktor alam atau ada badai apakah faktor lainnya atau ada nelayan mengebom sehingga mempengaruhi kondisi terumbu karang,” ujarnya.

Candhika Yusuf menambahkan, kerusakan terumbu karang juga dipicu meningkatnya suhu laut, aktivitas kapal, hingga wisatawan yang belum memahami pentingnya menjaga ekosistem bawah laut.

“Kalau misalnya di Bali atau di tempat-tempat lebih padat penduduknya, itu hubungan interaksi dengan manusia khan sangat lebih tinggi. Itu salah satu faktor pemicu juga kerusakan terumbu karang. Ada juga karena turis belum bisa berenang tiba-tiba dia berenang di areal terumbu karang lalu dia injak-injak. Itu khan sering terjadi dimana-mana,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Konservasi WWF Indonesia, Dewi Lestari Yani Rizki menegaskan pentingnya pembangunan yang tetap mempertimbangkan aspek lingkungan hidup agar dapat ditekan kerusakan ekosistem pesisir.

“Nah, ini yang perlu didorong agar pemerintah juga merencanakan kegiatan pembangunan itu dengan mempertimbangkan lingkungan,” kata Dewi Lestari Yani Rizki.

Selain persoalan terumbu karang, WWF Indonesia juga menyoroti abrasi dan sampah laut yang dinilai semakin mengancam kawasan pesisir di Bali maupun wilayah lain di Indonesia.

“Makanya, kenapa kita menghimbau kerjasama seluruh pihak supaya menyelesaikan masalah sampah laut ini. Begitu sampahnya hilang maupun berkurang atau bisa diatasi, maka kesehatan laut akan terjaga,” jelasnya.

Menurut Dewi Lestari Yani Rizki, kesehatan laut sangat berkaitan dengan ketahanan pangan, sumber protein masyarakat hingga keberlangsungan ekonomi sektor kelautan dan pariwisata.

WWF Indonesia juga terus mendorong keterlibatan masyarakat dalam program konservasi, termasuk perlindungan penyu di Kabupaten Jembrana bersama kelompok masyarakat dan sektor swasta.

“Hal-hal seperti ini yang betul-betul kita dorong dilaksanakan di lapangan, terutama kelompok masyarakat bisa terlibat,” kata Dewi Lestari Yani Rizki.

Kegiatan Press Conference World Ocean Day & Coral Triangle Day 2026 bertema “Kenali Lautmu Wujudkan Aksimu” turut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, Ir. Putu Sumardiana M.P., Analis Pengusahaan Jasa Kelautan Ahli Madya Ir. R. Andry Indryasworo Sukmoputro, MM., serta seniman layangan Bali I Kadek Dwi Armika. (ace).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button