Sekda Maulana Heru Gojloki Prayitno, Sinyal Mutasi Mengalir dari Sudut Mushala
"Di balik nada gojlokan, terselip satu hal yang sulit dibantah: Prayitno memang punya rekam jejak yang membuat namanya relevan disebut dalam konteks mutasi"

Pacitan,JBM.co.id-Obrolan soal mutasi pejabat rupanya tak selalu lahir dari ruang rapat yang tegang, meja panjang yang penuh berkas, atau forum resmi dengan wajah-wajah serius. Di Pacitan, wacana itu justru mengalir dari sudut mushala, seusai salat Dhuhur, dalam suasana santai yang nyaris tak menyisakan jarak antara atasan, bawahan, dan candaan.
Rabu siang (24/6/2026), suasana di mushala kawasan Sekretariat Daerah Pacitan tampak teduh. Para pegawai baru saja menunaikan salat Dhuhur berjamaah. Sebagian masih duduk bersandar, sebagian lainnya berbincang ringan sebelum kembali ke ruang kerja masing-masing. Di tengah suasana itulah, Sekretaris Daerah Pacitan Maulana Heru Wiwoho Supadi Putro terlihat duduk santai.
Tak jauh dari tempatnya berada, Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan, Prayitno, juga tampak menikmati jeda siang. Bersandar di dinding mushala, ia terlihat rileks, menikmati suasana usai ibadah. Tak ada yang menyangka, dari suasana sederhana itu, obrolan tentang mutasi pejabat justru menyeruak dan menjadi perhatian.
Semula, semuanya mengalir biasa saja. Hingga seorang wartawan yang kebetulan hendak menunaikan salat Dhuhur melempar pertanyaan ringan kepada Sekda: kapan mutasi pejabat akan dilakukan?
Pertanyaan itu dijawab Maulana Heru dengan gaya khas santai. Senyum tipis mengembang, lalu meluncur jawaban pendek yang mengundang tafsir.
“Ya kapan wae iso,” ujarnya.
Jawaban itu seolah menjadi pintu pembuka. Pertanyaan lanjutan pun datang: siapa pejabat yang kira-kira masuk radar mutasi?
Alih-alih menjawab dengan bahasa birokrasi yang kaku, Sekda justru melempar gojlokan. Pandangannya mengarah ke Prayitno. Dengan nada ringan, namun terasa menyimpan penilaian, ia menyebut nama staf ahli tersebut sebagai sosok yang layak digeser ke sejumlah organisasi perangkat daerah strategis.
Nama Prayitno pun mendadak masuk percakapan. Menurut Sekda, pria itu cukup pantas jika ditempatkan di Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkimta), atau bahkan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).
“Pak Prayitno itu layak kalau dimutasi ke Dinas Lingkungan Hidup atau Dinas Perkimta. Kan pernah di sana sebagai kepala bidang,” ujar Maulana Heru, setengah menggoda.
Candaan itu sontak membuat suasana makin cair. Namun di balik nada gojlokan, terselip satu hal yang sulit dibantah: Prayitno memang punya rekam jejak yang membuat namanya relevan disebut dalam konteks mutasi.
Sebelum duduk di jabatan eselon IIB sebagai Staf Ahli Bupati, Prayitno cukup lama malang melintang di OPD teknis. Ia pernah menjabat sebagai kepala bidang di Dinas Lingkungan Hidup selama tiga tahun. Jejak serupa juga ditorehkannya di Dinas Perkimta, tepatnya sebagai Kepala Bidang Perumahan, juga selama tiga tahun. Pengalaman itulah yang agaknya membuat Sekda dengan enteng menyebut namanya sebagai sosok yang layak “diparkir” di sejumlah pos strategis.
Tak hanya pengalaman birokrasi, Prayitno juga memiliki bekal akademik yang tak bisa dipandang sebelah mata. Ia merupakan alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan menempuh pendidikan pascasarjana di Universitas Diponegoro. Perpaduan pengalaman teknis dan latar pendidikan itu membuatnya dinilai cukup matang jika sewaktu-waktu harus kembali ke OPD yang bersinggungan dengan pembangunan, lingkungan, atau infrastruktur.
Saat dimintai tanggapan secara terpisah, Prayitno tak banyak berkomentar. Ia memilih menempatkan diri sebagai bawahan yang siap menjalankan perintah pimpinan. Dengan kalimat sederhana, ia menegaskan bahwa soal penempatan jabatan sepenuhnya merupakan kewenangan kepala daerah.
“Apa yang dikehendaki Pak Bupati, sebagai staf saya hanya saminawatokna,” katanya.
Ia pun tak menampik bahwa dua OPD yang disebut Sekda memang bukan wilayah asing baginya. Pengalaman pernah menjabat kepala bidang di sana menjadi bagian dari perjalanan kariernya di birokrasi Pacitan.
“Saya memang pernah menjabat sebagai kepala bidang di dua OPD yang disampaikan Pak Sekda tadi. Saya hanya ikut dawuh saja,” ujarnya.
Dari sudut mushala itu, obrolan tentang mutasi memang terdengar seperti seloroh siang hari. Namun dalam birokrasi, candaan kadang tak sepenuhnya sekadar candaan. Ia bisa menjadi isyarat, bisa pula sekadar pemantik. Yang jelas, dari percakapan santai usai salat Dhuhur tersebut, publik menangkap satu pesan: wacana mutasi pejabat di lingkungan Pemkab Pacitan masih terus bergerak, dan nama-nama yang berpotensi bergeser perlahan mulai disebut.
Mutasi mungkin belum diumumkan. Jadwalnya pun belum dipastikan. Tetapi dari obrolan ringan di mushala, sinyal itu terasa sudah mulai ditiupkan.(Red/yun).




