BeritaDaerahEkonomiGaya HidupLingkungan HidupOpiniPemerintahanPendidikanPolitikSeni BudayaSosial

Saat Seragam Dilepas, Hesti Kembali Menjadi Petani

"Tanah tidak pernah mengenal pangkat"

Pacitan,JBM.co.id-Tak ada meja birokrasi. Tak ada tumpukan berkas. Tak ada seragam dinas yang melekat di tubuh.

Yang ada sore itu hanyalah tanah, tanaman, caping, dan keringat.

Di sebuah perkebunan kecil di Pacitan, seorang perempuan paruh baya tampak tekun menyusuri pematang. Bajunya lusuh. Tangannya kotor bersaput tanah. Sesekali ia mengangkat tangan, menyeka keringat yang mengalir dari dahinya.

Pemandangan itu sekilas begitu biasa.

Tetapi siapa sangka, perempuan yang akrab dengan lumpur dan cangkul tersebut merupakan salah satu pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pacitan.

Namanya Hesti Suteki.

Di balik meja kerjanya, Hesti adalah Kepala Bagian Pemerintahan dan Kerja Sama, Sekretariat Daerah Kabupaten Pacitan. Jabatan yang membuat hari-harinya tidak jauh dari urusan pemerintahan, koordinasi, administrasi, dan berbagai agenda kedinasan.

Namun begitu pintu kantor ditutup dan seragam dinas dilepas, Hesti seperti kembali pada kehidupan yang jauh lebih sederhana.

Ia bertani.

Bukan sekadar datang melihat lahan. Bukan pula sekadar berfoto di tengah tanaman.

Hesti benar-benar turun ke tanah.

Tangannya menyentuh tanaman. Kakinya akrab dengan pematang. Panas matahari dan keringat menjadi bagian dari kesehariannya.

Di rumah, jabatan seolah berhenti di depan pintu.

“Pertanian adalah bagian dari hidup kami sekeluarga. Jabatan itu di kantor, kalau di rumah saya seorang petani,” ujar Hesti dengan bangga.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi di baliknya ada sebuah cara pandang tentang kehidupan.

Bagi Hesti, jabatan adalah amanah dalam pekerjaan. Sementara bertani adalah bagian dari kehidupan yang membentuk dirinya.

Keduanya tidak perlu dipertentangkan.

Di kantor, ia mengabdi melalui pekerjaan pemerintahan. Di lahan, ia belajar kembali tentang arti ketekunan.

Sebab tanah tidak pernah mengenal pangkat.

Tanah tidak peduli siapa yang datang membawa caping, siapa yang memakai seragam, atau siapa yang memiliki jabatan.

Tanah hanya akan memberikan hasil kepada mereka yang mau merawatnya.

Di situlah mungkin Hesti menemukan ruang lain untuk menjalani hidup.

Pertanian mengajarkannya bahwa tidak semua hal dapat dipercepat. Benih harus ditanam. Tanaman harus dirawat. Rumput liar harus disiangi. Dan panen hanya akan datang setelah proses panjang yang kadang melelahkan.

Ada kesabaran yang harus dipelihara.

Ada kegagalan yang harus diterima.

Ada harapan yang harus terus dirawat.

Nilai-nilai itu barangkali pula yang membuatnya tetap bertahan mencintai dunia pertanian.

Sang suami, Heru Tunggul Widodo, juga berkecimpung dalam pemerintahan sebagai pejabat tertinggi di Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan. Namun kehidupan keluarga mereka tidak sepenuhnya berkutat pada urusan birokrasi.

Ada tanah yang mereka rawat.

Ada tanaman yang mereka jaga.

Dan ada kehidupan sederhana yang tetap mereka pilih untuk dijalani.

Hesti seolah ingin menunjukkan bahwa bekerja di balik meja tidak harus membuat seseorang kehilangan kedekatan dengan tanah.

“Justru dari tanah, manusia bisa belajar tentang kerendahan hati. Dari tanaman, manusia belajar bahwa pertumbuhan membutuhkan waktu. Dan dari keringat, manusia belajar bahwa hasil terbaik sering kali lahir dari kerja yang tidak selalu terlihat oleh banyak mata,”tuturnya.

Sore mulai turun di Pacitan.

Cahaya matahari perlahan melemah. Angin bergerak di antara dedaunan. Di kejauhan, aktivitas pertanian berangsur mereda.

Hesti mungkin sebentar lagi akan meninggalkan lahan itu.

Tetapi bukan berarti ia meninggalkan bagian dari dirinya.

Sebab ada kehidupan yang tidak selesai hanya karena seragam dinas telah dikenakan.

Ada akar yang tetap melekat, sedalam tanah tempat ia menanam harapan.

Hesti Suteki mungkin seorang pejabat ketika berada di kantor.

Namun ketika pulang, ia memilih menjadi petani.

Dan barangkali, di situlah letak kebahagiaannya: “Tetap bisa mengabdi dengan jabatan, tetapi tidak pernah kehilangan pijakan”.

Karena setinggi apa pun seseorang berdiri, selalu ada tanah yang mengingatkan bahwa manusia pada akhirnya tetaplah manusia.

Dan bagi Hesti, tanah itu bukan sekadar tempat menanam. Tanah adalah tempat ia pulang.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button