Di Balik Ujian Ada Kenaikan Derajat: KH. Mahmud Kupas Pesan Mendalam Gus Baha tentang Sabar dan Keteguhan Iman
"Sakit dan kemiskinan bukanlah tanda kehinaan"

Pacitan, JBM.co.id-Pesan-pesan penuh hikmah dari ulama kharismatik Gus Baha kembali menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Dalam salah satu kutipan yang beredar luas, ia mengingatkan agar manusia tidak merasa hina hanya karena sakit, miskin, atau ditinggalkan orang yang dicintai. Menurutnya, bisa jadi di hadapan Allah justru derajat seseorang sedang diangkat melalui kesabaran.
Menanggapi pesan tersebut, pendakwah kondang KH. Mahmud menegaskan bahwa ukuran kemuliaan dalam pandangan manusia kerap berbeda dengan ukuran kemuliaan di sisi Allah.
“Manusia sering menilai dari tampilan luar: jabatan, harta, kesehatan, atau siapa yang mendampingi kita. Padahal di sisi Allah, yang dinilai adalah hati, kesabaran, dan keteguhan dalam menghadapi ujian,” ujar KH. Mahmud, Kamis (5/3/2026).
Ia menjelaskan, sakit dan kemiskinan bukanlah tanda kehinaan. Justru dalam banyak ajaran Islam, ujian adalah sarana pembersihan dosa dan peningkatan derajat. KH. Mahmud menekankan bahwa perasaan jatuh di mata manusia tidak selalu berarti jatuh di hadapan Tuhan.
Lebih lanjut, ia menyoroti pesan penting lainnya: agar tidak membalas keburukan dengan keburukan. Menurutnya, sikap tersebut adalah cerminan kedewasaan spiritual.
“Kalau kita membalas keburukan dengan keburukan, tidak ada bedanya kita dengan orang yang menyakiti kita. Tapi kalau kita membalas dengan doa dan kebaikan, di situlah kemuliaan akhlak terlihat,” jelasnya.
KH. Mahmud juga menggarisbawahi pesan agar orang tua terus mendoakan anak-anaknya dalam keadaan apa pun. Doa orang tua, kata dia, memiliki kekuatan yang luar biasa dalam membentuk masa depan anak.
Pesan penutup dari kutipan tersebut bahwa yang pergi hanyalah makhluk, sementara Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya, menurut KH. Mahmud adalah penguat tauhid yang mendalam.
“Manusia bisa pergi, berubah, bahkan mengkhianati. Tapi Allah tidak pernah pergi. Kesadaran ini yang membuat seorang mukmin tetap kokoh meski sendirian secara dunia,” tuturnya.
Di tengah berbagai ujian kehidupan modern, pesan-pesan seperti ini menjadi pengingat bahwa kehormatan sejati tidak diukur oleh penilaian manusia. Justru dalam kesendirian, kesakitan, dan keterbatasan, bisa jadi seseorang sedang dipersiapkan Allah untuk kemuliaan yang lebih tinggi.
Narasi penuh makna ini menjadi refleksi bahwa sabar bukan sekadar menahan diri, melainkan keyakinan bahwa setiap luka memiliki rahasia kenaikan derajat di sisi-Nya.(Red/yun).




