BaliBeritaDaerahLingkungan HidupPariwisataPemerintahanTabanan

Restoran Besar Serbu Sawah Jatiluwih, Warisan UNESCO Terancam Dicabut

Jbm.co.id-TABANAN | Ancaman serius kembali membayangi kawasan wisata kelas dunia, Jatiluwih Tabanan. Masuknya investor besar yang membangun restoran ditengah hamparan sawah tradisional memicu kekhawatiran akan hilangnya bentang Subak, sistem irigasi abad ke-9 yang menjadi alasan utama kawasan ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO.

Sedikitnya 3.000 warga dan petani, pelaku UMKM hingga generasi penerus dikhawatirkan menjadi kelompok yang paling terdampak, apabila alih fungsi lahan terus berlangsung tanpa kontrol kuat.

“Tidak hanya itu, status Warisan Budaya Dunia UNESCO berada di ujung tanduk. Jika alih fungsi lahan terus dibiarkan, Jatiluwih hanya tinggal menunggu waktu untuk dicabut dari daftar warisan dunia sebagai sebuah pukulan besar bagi pariwisata Bali dan citra budaya Indonesia di mata internasional,” ungkap Ketua Panitia sekaligus Manager DTW Jatiluwih, Jhon Ketut Purna, Jumat, 5 Desember 2025.

Ia menegaskan bahwa pembangunan restoran raksasa bukan hanya melanggar prinsip pelestarian, namun juga mengkhianati nilai-nilai Subak yang diwariskan turun-temurun.

“Kami berharap pemerintah hadir menata Jatiluwih untuk menjaga warisan budaya, dan membangun ekonomi rakyat tanpa merusak alam,” ujarnya.

Pansus TRAP Dorong Solusi: Homestay, Kuliner Desa, hingga Wisata Sawah

Merespons kegelisahan tersebut, Pansus TRAP DPRD Bali menilai bahwa Jatiluwih memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui pendekatan budaya yang tetap menempatkan warga sebagai subjek utama.

Dalam konsep penguatan desa wisata dilakukan:

Rumah warga diarahkan menjadi homestay berstandar internasional

Disiapkan restoran desa berkonsep kuliner lokal higienis

Pengelolaan Wisata Dilakukan Warga, Bukan Pemodal Luar

Paket wisata sawah khas Bali: manyi, metekap, nandur, mandi lumpur, tangkap belut, trekking sawah, hingga piknik di kubu kandang sapi

Selain itu, para petani akan didukung membuka usaha kecil di jalur persawahan, menghadirkan edukasi pertanian, hingga menyajikan kuliner tradisional seperti lawar lindung, klipes goreng, pepes jubel, blauk di gubuk peristirahatan petani.

“Dengan model ini, ekonomi naik, budaya Bali tetap terjaga, dan desa wisata jati luwih tidak kehilangan identitasnya,” kata Ketua Pansus TRAP DPRD Bali Dr (C) Made Supartha, S.H., M.H.

Momentum Kritis: Jatiluwih Butuh Keberpihakan Pemerintah

Kawasan Jatiluwih berada pada fase penentuan. Jika investor dibiarkan menguasai ruang pertanian produktif, bukan hanya lahan berubah, tetapi identitas budaya dan legitimasi UNESCO dapat hilang selamanya.

Pengawasan, regulasi, dan keberpihakan politik menjadi syarat utama agar Subak tetap hidup ditengah tekanan komersialisasi. (red).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button