Pulang Kampung yang Tak Lagi Sama
"Ketika orang tua masih hidup, kita sering merasa waktu masih panjang. Kita tunda untuk pulang, kita tunda untuk menelepon. Tapi saat mereka sudah tidak ada, penyesalan datang tanpa bisa diulang"

Pacitan,JBM.co.id-Mudik selalu identik dengan pelukan hangat di depan pintu, aroma masakan khas rumah, serta suara ibu yang menyambut dari dapur. Namun bagi sebagian orang, Idul Fitri tak lagi menghadirkan suasana yang sama. Rumah masih berdiri, halaman masih luas, tetapi sosok yang dulu menanti di ambang pintu telah tiada.
Itulah yang dirasakan salah seorang perantau di Jakarta, ketika untuk pertama kalinya ia pulang kampung tanpa ayah dan ibunya.
“Biasanya sebelum sampai kampung, saya sudah telepon dulu. Ibu pasti bilang, ‘Hati-hati di jalan, Nak.’ Sekarang… sudah tidak ada lagi yang menelepon balik,” ujarnya lirih.
Ayahnya wafat dua tahun lalu, disusul sang ibu setahun kemudian. Lebaran kali itu terasa sunyi. Rumah orang tua yang dulu menjadi pusat berkumpul kini lebih sering terkunci. Kakak dan adiknya memang pulang, tetapi tak lagi menetap lama. Masing-masing telah sibuk dengan keluarga dan urusannya sendiri.
“Dulu kami berkumpul karena ada Bapak dan Ibu. Sekarang rasanya seperti tamu di rumah sendiri,” tambahnya.
Fenomena ini tak sedikit dialami para perantau. Ketika orang tua masih ada, pulang kampung adalah panggilan hati. Namun ketika keduanya telah tiada, kampung halaman berubah menjadi sekadar tempat singgah, bukan lagi pusat rindu.
Menurut Pendakwah KH Mahmud, kehilangan orang tua sering kali baru terasa sepenuhnya saat momen-momen sakral seperti Idul Fitri.
“Ketika orang tua masih hidup, kita sering merasa waktu masih panjang. Kita tunda untuk pulang, kita tunda untuk menelepon. Tapi saat mereka sudah tidak ada, penyesalan datang tanpa bisa diulang,” ujar KH Mahmud, Jum’at (27/2/2026).
Ia menegaskan bahwa Idul Fitri sejatinya bukan hanya tentang kembali ke kampung halaman, tetapi kembali pada nilai bakti dan silaturahmi.
“Selagi orang tua masih hidup, jangan tunggu hari raya untuk berbuat baik. Teleponlah, kunjungi, bahagiakan. Karena saat mereka sudah tiada, yang tersisa hanya doa dan kenangan,” tuturnya.
Seiring waktu, ikatan saudara pun berubah. Dahulu, kakak adik berkumpul di ruang tengah, bercengkerama hingga larut malam. Kini, pertemuan lebih singkat. Obrolan sering terpotong urusan anak dan pekerjaan.
KH Mahmud menilai, peran orang tua sangat besar sebagai perekat keluarga.
“Orang tua itu poros. Ketika poros itu hilang, roda keluarga bisa berjalan masing-masing arah. Maka selama mereka masih ada, jadikan rumah sebagai tempat kembali yang hangat,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan agar hubungan saudara tetap dijaga meski orang tua telah tiada. Silaturahmi, katanya, adalah warisan paling berharga dari ayah dan ibu.
Banyak orang baru menyadari arti kehadiran orang tua setelah kursi di ruang tamu kosong saat Lebaran. Tak ada lagi tangan yang dicium, tak ada lagi nasihat panjang selepas salat Id.
“Penyesalan terbesar manusia adalah menyia-nyiakan kesempatan berbakti,” kata KH Mahmud. “Surga itu dekat, dan salah satu pintunya adalah ridha orang tua.”
Idul Fitri tahun ini mungkin akan kembali dirayakan dengan kemeriahan. Jalanan dipadati pemudik, rumah-rumah dipenuhi tawa. Namun bagi mereka yang telah kehilangan, Lebaran menjadi pengingat bahwa waktu bersama orang tua adalah anugerah yang tak tergantikan.
Karena pada akhirnya, pulang kampung bukan sekadar perjalanan menuju rumah. Ia adalah perjalanan menuju pelukan yang suatu hari, tanpa disadari, bisa hilang selamanya.
Maka, selagi masih ada kesempatan, sayangilah ayah dan ibu. Sebelum rindu hanya bisa disampaikan lewat doa di atas pusara.(Red/yun).



