Pesan Mendalam Gus Baha: Tak Dikenal dan Tak Diakui Bukan Masalah, Justru Jalan Menuju Kelapangan Jiwa
"Kadang kita terlalu sibuk mengejar pengakuan. Padahal, ketika kita tidak dikenal, hidup terasa lebih ringan"

Pacitan,JBM.co,id-Pendakwah kondang KH Mahmud menyampaikan kembali pesan penuh makna dari ulama kharismatik KH Ahmad Bahauddin Mursalim atau yang akrab disapa Gus Baha. Dalam tausiyahnya, KH Mahmud menekankan pentingnya keikhlasan dan kebebasan batin dalam menjalani kehidupan, tanpa harus terikat pada pengakuan maupun penghormatan manusia.
Mengutip dawuh Gus Baha, KH Mahmud menyampaikan bahwa tidak menjadi siapa-siapa bukanlah sebuah kerugian. Tidak dikenal orang, tidak diakui keberadaannya, bahkan tidak dihormati sekalipun, sejatinya bukanlah persoalan besar dalam hidup. Menurutnya, justru ketika seseorang tidak menjadi pusat perhatian, ia memiliki ruang yang lebih luas untuk bergerak, berpikir, dan beribadah dengan tenang.
“Kadang kita terlalu sibuk mengejar pengakuan. Padahal, ketika kita tidak dikenal, hidup terasa lebih ringan. Tidak ada beban pencitraan, tidak ada tekanan ekspektasi,” ujar KH Mahmud, Rabu (4/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa pesan tersebut mengajarkan tentang ketulusan dalam beramal. Fokus utama seorang hamba, lanjutnya, bukanlah penilaian manusia, melainkan keridhaan Allah SWT. Popularitas dan penghormatan hanyalah efek samping, bukan tujuan.
Dalam pandangan Gus Baha, bersembunyi dari sorotan manusia justru memberi keleluasaan dan ketenangan. Seseorang dapat menjalani hidup dengan lebih santai, tidak terbebani oleh citra, serta lebih mudah menjaga niat agar tetap lurus.
Pesan ini pun dinilai relevan di tengah era media sosial saat ini, ketika banyak orang berlomba-lomba mencari pengakuan dan validasi. KH Mahmud mengajak untuk merenungkan kembali orientasi hidup: apakah untuk dilihat manusia, atau semata-mata untuk mengabdi kepada Sang Pencipta.
Melalui penyampaian tersebut, KH Mahmud berharap masyarakat dapat mengambil hikmah untuk lebih sederhana dalam memandang status sosial dan lebih tulus dalam beramal. Sebab pada akhirnya, yang bernilai bukanlah seberapa dikenal seseorang di mata manusia, melainkan seberapa dekat ia dengan Tuhannya.(Red/yun).



