
Jbm.co.id-BADUNG | Ketua Task Force Partai Hanura sekaligus Waketum DPP Partai Hanura H. Patrice Rio Capella melontarkan pesan tegas soal pentingnya kepemimpinan dalam menghadapi pertarungan politik Pemilu 2029.
Dihadapan jajaran kader Hanura di Bali, Rio Capella menggunakan analogi 1.000 ekor singa dan 1.000 ekor domba untuk menggambarkan bahwa kekuatan organisasi tidak hanya ditentukan oleh jumlah anggota, tetapi juga kualitas pemimpinnya.
Menurutnya, 1.000 ekor singa yang dipimpin seekor domba akan kalah menghadapi 1.000 ekor domba yang dipimpin oleh seekor singa.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Task Force Partai Hanura sekaligus Waketum DPP Partai Hanura H. Patrice Rio Capella, saat menghadiri agenda konsolidasi Partai Hanura di Hotel Harper Legian, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Rabu (2/9/2026).
Rio Capella menegaskan, Hanura membutuhkan pemimpin yang memiliki keberanian, ketegasan, sekaligus kesiapan bertarung untuk menghadapi kontestasi politik 2029.
Menurutnya, Bali membutuhkan sosok pemimpin berjiwa singa. Sebab, tantangan untuk membawa Hanura kembali masuk parlemen membutuhkan keberanian dan kerja keras, bukan sekadar mengandalkan nama besar maupun struktur organisasi di atas kertas.
“Lebih baik menjadi singa walau hanya sehari, daripada menjadi domba selama setahun,” tegasnya.
Rio Capella bahkan menyebut para Ketua DPC Hanura yang hadir dalam konsolidasi tersebut sebagai singa-singa Hanura yang diharapkan mampu menjadi motor penggerak partai di Bali.
Rio Capella mengingatkan bahwa posisi Hanura saat ini berada dalam kondisi dua kali berhasil masuk parlemen dan dua kali gagal. Karena itu, Pemilu 2029 dinilai menjadi momentum penentu bagi masa depan partai.
“Posisi Hanura saat ini adalah 2-2 artinya dua kali masuk parlemen, dua kali tidak parlemen. Pemilu mendatang menjadi penentu arah kita. Tim Task Force hadir bukan untuk bernostalgia atau meratapi masa lalu, melainkan untuk merebut masa depan. Bicara masa lalu berarti bicara kesalahan, tetapi bicara masa depan berarti menyusun strategi untuk membesarkan Hanura,” kata Rio Capella.
Pemimpin Harus Berani Bangun Pasukan
Rio Capella menegaskan, kebangkitan Hanura tidak cukup hanya dengan slogan ataupun retorika. Menurutnya, pemimpin partai harus mampu membangun kekuatan organisasi hingga tingkat paling bawah.
“Dalam politik, tidak ada rumus pasti seperti 2 + 2 = 4. Tidak ada yang tidak mungkin, termasuk kebangkitan Hanura. Namun, bangkit tidak bisa sekadar lewat retorika atau teriakan. Bangkit berarti membangun pasukan. Jika membentuk pengurus PAC 3-5 orang per kecamatan saja tidak sanggup, kita tidak layak menjadi Ketua DPC,” tegasnya.
Oleh karena itu, Rio Capella meminta para pengurus tidak menjadikan pembentukan struktur DPC, PAC hingga ranting sekadar sebagai formalitas untuk memenuhi verifikasi partai.
Struktur tersebut harus benar-benar diisi orang-orang yang memiliki komitmen dan siap bekerja menghadapi Pemilu 2029.
Rio Capella juga menilai kepemimpinan membutuhkan keikhlasan dan kerelaan. Pengurus yang tidak memiliki komitmen bahkan meminta bayaran untuk menjalankan kegiatan organisasi dinilai justru dapat melemahkan kekuatan partai.
Menurutnya, organisasi akan kuat apabila dipimpin orang-orang yang mau bekerja dan memiliki keberanian mengambil tanggung jawab.
Hanura Tak Boleh Hanya Anndalkan Jumlah
Pada kesempatan tersebut, Rio Capella juga menegaskan bahwa Hanura sebenarnya memiliki modal besar untuk menghadapi Pemilu 2029.
Partai tersebut memiliki 525 anggota DPRD di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.
Namun, jumlah tersebut harus diubah menjadi kekuatan politik yang nyata melalui konsolidasi struktur dan jaringan di lapangan.
Hanura, kata dia, tidak sedang membangun kekuatan dari nol. Yang dibutuhkan adalah pemimpin yang mampu menggerakkan seluruh potensi tersebut menjadi kekuatan elektoral.
Analogi 1.000 singa dan 1.000 domba yang disampaikan Rio Capella pun menjadi penekanan bahwa kualitas kepemimpinan akan menentukan apakah kekuatan besar Hanura mampu bergerak atau justru kehilangan arah.
Dengan Pemilu 2029 yang semakin dekat, Rio Capella meminta seluruh kader segera meninggalkan pola kerja yang hanya berorientasi pada formalitas organisasi.
“Mari kita manfaatkan pertemuan ini dengan maksimal dan segera mengeksekusi langkah nyata setelah dari sini,” tutupnya.
Reporter: Aca Wiguna
Redaktur: Putu Wiguna




