Pasar Modal Indonesia Tangguh di 2025, IHSG Tumbuh 22 Persen

Jbm.co.id-JAKARTA | Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja Pasar Modal Indonesia tetap solid, berintegritas dan berdaya tahan sepanjang tahun 2025, meskipun dihadapkan pada ketidakpastian global seperti kebijakan moneter yang fluktuatif, tensi geopolitik, serta tekanan sentimen perdagangan di awal tahun.
Ketahanan tersebut tercermin dari penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), pertumbuhan kapitalisasi pasar, meningkatnya aktivitas transaksi dan penghimpunan dana hingga lonjakan signifikan jumlah investor domestik, khususnya dari kalangan generasi muda.
Hal tersebut disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi dalam sambutannya pada Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2025 di Jakarta, Selasa, 30 Desember 2025.
Inarno menegaskan bahwa capaian positif ini merupakan hasil sinergi antara OJK, Self-Regulatory Organization (SRO), pelaku industri, serta seluruh pemangku kepentingan pasar modal.
“Pasar Modal Indonesia menunjukkan resiliensi dan daya saing yang semakin menguat. Berbagai tantangan telah menguji ketangguhan dan ketahanan kita dalam mendorong pertumbuhan pasar modal yang berkelanjutan dan memperkokoh pondasi Pasar Modal Indonesia ke depan. Capaian ini tentu tidak terjadi secara kebetulan, tetapi merupakan hasil dari kerja keras, sinergi, dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan di industri pasar modal,” kata Inarno.
Acara tersebut turut dihadiri Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono, jajaran direksi dan komisaris SRO, serta pimpinan pelaku industri pasar modal.
Kinerja Pasar Modal 2025 Tumbuh Signifikan
Dalam Konferensi Pers Penutupan Perdagangan BEI 2025, Deputi Komisioner Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek OJK Eddy Manindo Harahap memaparkan kinerja pasar modal hingga 19 Desember 2025.
IHSG mencatat pertumbuhan 22,10 persen secara year to date (ytd) dan ditutup pada level 8.644,26. Kapitalisasi pasar melonjak menjadi Rp15.810 triliun atau tumbuh 28,16 persen ytd, melampaui target Roadmap Pasar Modal dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Rasio kapitalisasi pasar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) 2024 tercatat sebesar 71,41 persen.
Sementara itu, di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) menguat 12,10 persen ytd ke level 440,19. Industri pengelolaan investasi juga menunjukkan kinerja positif dengan dana kelolaan mencapai Rp1.039 triliun atau tumbuh 24,16 persen ytd.
Penghimpunan dana pasar modal sepanjang 2025 mencapai Rp268,14 triliun dari 210 penawaran umum, termasuk 18 emiten baru saham dan dua emiten Efek Beragun Syariah (EBUS), melampaui target Rp220 triliun. Di sisi Securities Crowdfunding (SCF), penghimpunan dana tercatat Rp1,808 triliun secara akumulatif dari 968 penerbit.
Perdagangan Karbon dan Investor Ritel Melesat
Dari sektor perdagangan karbon, volume transaksi akumulatif sejak 26 September 2023 hingga 29 Desember 2025 mencapai 1,6 juta ton CO2 ekuivalen dengan nilai Rp80,75 miliar. Tercatat 150 perusahaan berpartisipasi dengan ketersediaan unit karbon sebesar 2,67 juta ton CO2 ekuivalen.
Pertumbuhan investor ritel juga mencetak rekor baru. Jumlah Single Investor Identification (SID) bertambah 5,34 juta investor sepanjang 2025, sehingga total mencapai 20,2 juta SID. Sebanyak 79 persen di antaranya didominasi investor berusia di bawah 40 tahun, memperkuat inklusi dan pendalaman basis investor domestik.
Pengawasan dan Penguatan Regulasi
Dalam menjaga integritas pasar, OJK sepanjang 2025 melakukan 219 pemeriksaan teknis dan 155 pemeriksaan khusus atas dugaan pelanggaran, termasuk 116 kasus terkait transaksi saham. OJK menjatuhkan 120 sanksi administratif, 1.180 sanksi keterlambatan laporan, serta 65 sanksi non-kasus lainnya, dengan total denda administratif mencapai Rp123,3 miliar.
Dari sisi regulasi dan transformasi, OJK menerbitkan 10 Peraturan OJK (POJK) dan enam SEOJK/PADK. Beberapa di antaranya adalah POJK 1/2025 tentang Derivatif Keuangan Berbasis Efek, POJK 9/2025 tentang Dematerialisasi Efek Ekuitas dan Aset Tidak Diklaim, serta POJK 15/2025 terkait pemeringkatan Reksa Dana dan Manajer Investasi.
OJK juga meluncurkan buku “Mengenal dan Memahami Perdagangan Karbon bagi Sektor Jasa Keuangan” serta mengintegrasikan layanan SPRINT OJK dan SPEK KSEI untuk mempercepat dan memusatkan proses perizinan Reksa Dana.
Agenda Strategis 2026
Memasuki 2026, OJK menetapkan empat agenda strategis, yakni pendalaman pasar, peningkatan integritas pasar, penguatan kelembagaan Perusahaan Efek dan Manajer Investasi, serta pengembangan keuangan berkelanjutan, termasuk perluasan pengguna jasa bursa karbon dan penyusunan roadmap keberlanjutan 2026-2030.
OJK bersama SRO mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat sinergi guna mendukung program strategis nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan. (red).



