BadungBaliBeritaDaerahPariwisata

Minus 0,9 Persen, IHGMA Dorong Quality Tourism Selesaikan Masalah Destinasi Optimistis Pariwisata Bali Membaik Agustus 2026

Jbm.co.id-BADUNG | Pariwisata Bali dinilai mulai menunjukkan sinyal pemulihan setelah menghadapi tekanan eksternal pada awal 2026.

Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian Hotel General Manager Association (DPP IHGMA) Dr. Agus Made Yoga Iswara, BBA.,BBM.,MM.,CHA., menyebut kondisi kunjungan wisatawan masih mencatat minus 0,9 persen.

Menurut Yoga Iswara, penurunan tersebut tidak terlepas dari kondisi geopolitik yang memuncak pada Februari dan Maret 2026. Situasi itu turut memicu pembatalan perjalanan wisatawan ke Bali.

“Saya sendiri sebagai pelaku sangat bersyukur dengan minus 0,9 persen ini. Karena pada dua bulan awal kita mengalami downtime. Sehingga kalau dibilang minus 0,9 persen, ini sudah lebih baik. Kita tunggu nanti bulan Agustus. Data saat ini baru Januari sampai Juli. Kalau Agustus kita lihat, prediksi saya juga akan lebih baik. Mungkin minusnya akan semakin berkurang,” kata Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian Hotel General Manager Association (DPP IHGMA) Dr. Agus Made Yoga Iswara, BBA.,BBM.,MM.,CHA., sekaligus Ketua IHGMA Bali periode 2020-2024 di Maca Villas & Spa Bali, Seminyak, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Yoga Iswara menilai kondisi pariwisata Bali akan terlihat lebih positif jika pertumbuhan wisatawan mancanegara dihitung bersama wisatawan Nusantara.

Yoga Iswara menyebut total pertumbuhan tersebut telah menunjukkan angka positif 0,4 persen. Kondisi ini dinilai menjadi sinyal baik bagi keberlanjutan pariwisata Bali.

Dorong Pariwisata Berkualitas

Yoga Iswara menegaskan keberhasilan pariwisata Bali tidak semestinya hanya diukur berdasarkan jumlah wisatawan. Menurutnya, konsep quality tourism harus diarahkan pada peningkatan kualitas program, pelayanan, pengelolaan, serta kesiapan destinasi.

Yoga Iswara menilai Bali harus terlebih dahulu menjadi destinasi yang bertanggung jawab agar mampu menarik wisatawan yang juga bertanggung jawab.

“Ketika pariwisata Bali mendapatkan wisatawan yang bertanggung jawab, kita tidak lagi melihat apakah mereka segmen bawah, tengah, atau atas. Secara umum, dalam pariwisata tidak ada yang namanya diskriminasi terhadap wisatawan. Market bawah sudah ada marketnya. Makanan yang mahal belum tentu baik, sedangkan yang murah belum tentu jelek. Misalnya seperti itu,” kata Yoga Iswara.

Oleh karena itu, Bali perlu memiliki target pasar yang disesuaikan dengan kapasitas destinasi. Pertumbuhan jumlah wisatawan harus berjalan beriringan dengan penyelesaian berbagai persoalan yang masih dihadapi Bali.

” Jangan hanya melihat pertumbuhan. Setelah tujuh juta wisatawan, kita ingin naik lagi, naik lagi, dan naik lagi. Jadi, akan lebih baik jika PR-PR yang kita miliki berjalan atau diselesaikan seiring dengan pertumbuhan tersebut. Jangan sampai pertumbuhannya lebih cepat sementara PR-nya tertinggal. Harus berjalan bersamaan,” urainya.

Masalah Sampah Jadi Bagian dari Narasi Pariwisata

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah pengelolaan sampah. Yoga Iswara menyambut baik rencana waste to energy yang ditargetkan dapat diselesaikan pada akhir 2027 atau 2028.

Menurutnya, proses penyelesaian persoalan sampah tersebut juga dapat menjadi bagian dari narasi positif pariwisata Bali kepada wisatawan.

“Bayangkan kita bisa menarasikan bahwa permasalahan sampah yang terjadi selama puluhan tahun sedang dicarikan solusi dan ditargetkan selesai. Narasi seperti ini yang dibutuhkan dan inilah yang harus kita lakukan,” ujarnya.

Yoga Iswara mendorong seluruh pemangku kepentingan melakukan gerakan bersama menuju 2028. Industri perhotelan, misalnya, dapat berperan melalui pengelolaan sampah berbasis sumber, pemilahan sampah, hingga pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.

Menurutnya, berbagai upaya tersebut perlu dikomunikasikan sebagai bukti bahwa Bali terus bergerak menyelesaikan persoalan destinasi.

“Mereka tidak melihat bahwa masalah ini langsung selesai. Memang tentu tidak bisa selesai dalam waktu singkat. Tetapi, ketika stakeholder secara kolektif melakukan sebuah movement dalam mengatasi masalah lingkungan, ini menjadi cerita yang luar biasa untuk memperkuat destinasi Bali itu sendiri,” tutupnya.

Dengan demikian, arah pembangunan pariwisata Bali ke depan diharapkan tidak semata mengejar peningkatan angka kunjungan. Kualitas destinasi, penyelesaian persoalan lingkungan, pelayanan, serta keterlibatan seluruh pemangku kepentingan menjadi bagian penting untuk membangun pariwisata Bali yang lebih berkelanjutan. (ace).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button