Lewat “A Leaf of Bali”, Jurnalis Tiongkok Ye Lu Bedah Destinasi Tersembunyi Pulau Dewata

Jbm.co.id-BADUNG | Penulis sekaligus jurnalis asal Zhejiang, Tiongkok, Ye Lu, resmi meluncurkan karya perdana bertajuk “A Leaf of Bali” dalam acara New Book Launch & Afternoon Tea di Grand Mirage Resort & Thalasso, Bali, Sabtu (19/9/2026).
Buku setebal sekitar 400 halaman tersebut hadir sebagai catatan perjalanan sekaligus jembatan budaya yang memperkenalkan wajah Bali secara lebih luas, termasuk berbagai destinasi yang selama ini masih jarang masuk dalam daftar kunjungan wisatawan mancanegara.
Melalui pendekatan yang berfokus pada eksplorasi wilayah di luar kawasan wisata arus utama, Ye Lu ingin menunjukkan bahwa daya tarik Pulau Dewata tidak berhenti pada destinasi yang selama ini mendominasi promosi pariwisata seperti Ubud, Sanur, Seminyak, Legian, Kuta, Nusa Dua dan Jimbaran.
“Kawasan-kawasan tersebut memiliki potensi besar untuk diperkenalkan lebih luas kepada wisatawan dari berbagai negara,”kata Ye Lu.
Ia menambahkan bahwa keberadaan tempat-tempat yang belum terlalu populer justru menjadi kekuatan tersendiri bagi pariwisata Bali.
Untuk memudahkan para pemula maupun pelancong berpengalaman, penyusunan buku ini menggunakan konsep pemetaan perjalanan berdasarkan estimasi jarak tempuh dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Destinasi wisata dikelompokkan mulai dari lokasi yang dapat dicapai dalam waktu 30 menit, satu jam, satu setengah jam, hingga perjalanan dua sampai tiga jam. Pendekatan berbasis durasi tempuh yang tersebar di sejumlah kabupaten ini dinilai dapat membantu wisatawan merencanakan perjalanan secara lebih efektif dan bervariasi.
Selain menghadirkan peta eksplorasi yang sistematis, buku ini membawa pesan khusus bagi pasar Tiongkok guna mendorong kembali minat wisatawan dari negaranya pascapandemi Covid-19. Bagi Ye Lu, salah satu keunggulan utama Bali terletak pada kemampuannya menghadirkan beragam jenis pengalaman wisata dalam satu wilayah.
Disisi lain, ia menegaskan bahwa penulisan buku ini tidak didasari oleh motif komersial semata, melainkan lahir dari hubungan emosional dan keterikatan mendalam dengan daerah yang ditulisnya. Ye Lu mengungkapkan bahwa dirinya bahkan pernah menolak tawaran menulis buku tentang Jakarta karena merasa belum cukup mengenal kota tersebut.
“Saya pikir untuk penulis bukan hanya cari profit, bukan hanya jual buku. Harus ada inspirasi,” ungkapnya.
Prinsip tersebut tefleksikan dari proses penulisan A Leaf of Bali yang memakan waktu bertahun-tahun serta dipenuhi momen keraguan dan tumpukan draf. Bagi Ye Lu, peluncuran buku ini menjadi momen yang sangat emosional.
“Melihat buku ini akhirnya dicetak, dipajang, dan dipegang langsung oleh para pembaca hari ini membawa rasa bahagia yang sulit diucapkan dengan kata-kata. Proses menulis yang memakan waktu bertahun-tahun, saya banyak berhadapan dengan laptop, keraguan, dan tumpukan draf. Namun, begitu berada di tempat peluncuran ini dan melihat antusiasme teman-teman dan para tamu yang hadir, semua rasa lelah itu menguap begitu saja. Rasanya seperti melihat anak sendiri akhirnya lahir ke dunia dan siap memulai petualangannya di tangan pembaca,” tuturnya.
Melalui karyanya, Ye Lu tidak hanya membagikan pengalaman personal saat mengamati seni, tradisi, alam, dan kehidupan masyarakat Bali, tetapi juga membawa visi promosi pariwisata regional yang lebih luas.
“Semua tentang Bali, hanya untuk Bali. Bali harus jadi lebih dikenal di dunia,” tegasnya.
Sebagai langkah lanjutan, Ye Lu berencana menghadirkan edisi susulan yang mencakup kawasan Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menurutnya, Bali, NTB, dan NTT memiliki potensi besar untuk dipromosikan bersama sebagai destinasi terpadu yang saling melengkapi bagi wisatawan global. Guna memperluas jangkauan pembaca internasional, ia juga berharap A Leaf of Bali dapat diterbitkan dalam versi bahasa Inggris dan bahasa Indonesia pada tahun mendatang.
Kehadiran buku A Leaf of Bali turut mendapat apresiasi tinggi dari tokoh seni dan budaya Bali, Prof. Dr. I Made Bandem, M.A. Ia menilai sudut pandang yang dihadirkan oleh seorang jurnalis luar memberikan dimensi baru dalam memahami Bali.
“Saya kira buku ini sangat penting karena Bali tidak hanya diceritakan oleh orang Bali sendiri, tetapi juga dilihat dan dirasakan oleh orang dari luar Bali. Perspektif seperti ini memberikan warna dan pemahaman baru tentang Bali,” kata Prof. Bandem.
Prof. Bandem menekankan bahwa identitas dan keunggulan utama Pulau Dewata terletak pada kekayaan nilai-nilai kehidupan dan kebudayaannya yang tidak terbatas pada keindahan alam semata.
“Bali mempunyai kekayaan yang luar biasa, bukan hanya dalam seni dan budaya, tetapi juga dalam kehidupan masyarakatnya. Ketika pengalaman itu kemudian ditulis dan dibagikan kepada dunia, tentu menjadi sebuah kontribusi yang sangat berarti,” pungkasnya.
Reporter: Suksma
Redaktur: Putu Wiguna



