
Jbm.co.id-DENPASAR | PT Bank Danamon Indonesia Tbk Bali dan Nusa Tenggara (Nusra) menyelenggarakan Danamon Matsuri 2026 di Jalan HAYAM Wuruk 246 Denpasar, Bali, Sabtu (19/9/2026).
Pimpinan Regional PT Bank Danamon Indonesia Tbk Bali dan Nusa Tenggara (Nusra) I Gusti Agus Indrawan menegaskan sebenarnya kegiatan ini bernama Festival Danamon. Namun, pihaknya menyebut sebagai Danamon Matsuri. Acara ini berlangsung selama dua hari, yaitu 19-20 September 2026.
Tema sangat menarik, yaitu “Bridging Japan and Bali through culture, Community, and Opportunity artinya menjembatani Jepang dan Bali melalui budaya, komunitas, dan peluang.
Lebih lanjut, Agus Indrawan menyatakan alasan pemilihan konsep Jepang ini berawal dari hubungan historis, lantaran Indonesia, khususnya Bali dan Jepang telah terjalin ikatan yang sangat erat, baik di bidang pendidikan, sosial, maupun budaya.
Selain itu, Bank Danamon merupakan bagian dari kelompok keuangan asal Jepang, MUFG lebih dari 90% sahamnya dimiliki oleh MUFG dan mayoritas nasabah juga berasal dari Jepang.
“Berkolaborasi dengan Japan Bali Club serta berbagai komunitas Jepang lainnya, kami ingin menyajikan sesuatu yang berbeda dari para kompetitor melalui wadah kolaborasi budaya ini,” kata Agus Indrawan.
Di pameran ini, pihaknya memamerkan kendaraan yang khusus didatangkan dari pabrikan Jepang, seperti Toyota Crown klasik. Kehadiran mobil-mobil ini cukup mengejutkan dan menarik perhatian para pengunjung asal Jepang. Namun, hal yang paling penting dari kegiatan ini adalah menjembatani berbagai komunitas dan pelaku UMKM ke dalam satu wadah kolaborasi.
Untuk itu, pihaknya menghadirkan bermacam komunitas mulai dari otomotif, seperti Royal Enfield, beladiri Taekwondo, hingga kelompok cosplay. Langkah ini sejalan dengan visi Bank Danamon untuk membantu masyarakat mencapai kesejahteraan, yakni dengan menggandeng UMKM serta mendukung program transaksi non-tunai berbasis QRIS.
“Untuk pertunjukan panggung, kami mengangkat budaya lokal Bali melalui Mesatua Bali (tradisi mendongeng Bali), parade Gebogan, serta Tari Kecak,” terangnya.
Menurutnya, pertunjukan Kecak ini dipadukan dengan Taiko (kendang tradisional Jepang) untuk menggambarkan keharmonisan dan semangat kolaborasi antara dua budaya yang berbeda.
Sebagai orang Bali, pihaknya ingin memastikan budaya lokal tetap ditonjolkan. Melalui Mesatua Bali, pihaknya juga berharap generasi muda tetap ingat dan menjaga mother language atau bahasa daerah mereka.
“Balinese people, atau cerita Bali street view itu harus benar-benar bisa kita dapatkan. Ada bedanya apa? Nah, ini yang menarik, Teman-teman. Disini kita juga mengambil komunitas-komunitas luar. Makanya, komunitas kita pertemukan dengan para pelaku disini,” ujarnya.
Untuk hari kedua, pihaknya menampilkan Caplut Band, pukul 08.00 WITA. Hal tersebut sebagai komitmen pihaknya merangkul komunitas hiburannya.
“Kita kasih panggung pertemukan dengan orang-orang Jepang ini atau ada nasabah-nasabah yang butuh bank, ya akan kontak. Nah, kita mencoba mempertemukan. Jadi mensinergikanlah, mengkoneksikan dalam satu wadah kolaborasi,” pungkasnya.
Reporter: Ace Wiguna
Redaktur: Putu Wiguna




