
Jbm.co.id-DENPASAR | Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan pentingnya penggunaan Aksara Bali pada setiap kemasan produk Arak Bali. Hal ini dinilai sebagai langkah memperkuat identitas budaya sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal Bali di pasar yang lebih luas.
Penegasan tersebut disampaikan Gubernur Bali Wayan Koster, saat bertatap muka dengan para pelaku usaha dan koperasi Arak Bali di Gedung Kertha Sabha, Jayasabha, Denpasar, Rabu, 11 Maret 2026.
Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Koster meminta seluruh produsen Arak Bali menampilkan Aksara Bali secara lebih menonjol pada kemasan produk.
Menurutnya, identitas budaya Bali harus terlihat jelas agar memberikan karakter kuat pada produk lokal tersebut.
“Fashion budaya Bali-nya harus tampil penuh di kemasan Arak Bali. Kalau produk Sake asal Jepang dan Soju dari Korea, tampilan aksara-nya full. Lalu ini kenapa Aksara Bali-nya kecil, apa yang menjadi masalah? Jangan ragu dan setengah hati menggunakan Aksara Bali, menjadi pelaku usaha Bali itu harus total,” tegasnya.
Gubernur Koster menjelaskan, perjuangan untuk menjadikan Arak Bali sebagai usaha yang sah dan keluar dari daftar negatif investasi tidaklah mudah. Sejak awal menjabat sebagai Gubernur Bali, ia telah menerbitkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan/atau Destilasi Khas Bali.
Pergub tersebut resmi diluncurkan pada Februari 2020 dan menjadi dasar legalitas pengembangan Arak Bali sebagai produk khas daerah.
Dalam perkembangannya, Arak Bali tidak hanya berkembang sebagai produk tradisional, tetapi juga memiliki berbagai manfaat. Bahkan pada masa pandemi COVID-19, produk berbahan dasar pohon kelapa, lontar, dan enau atau aren ini turut dimanfaatkan dalam penanganan pandemi.
Sejak terbitnya Pergub tersebut, produk Arak Bali terus berkembang. Hingga kini tercatat telah muncul 58 merek Arak Bali.
Untuk mendorong promosi dan pemberdayaan ekonomi lokal, Pemerintah Provinsi Bali juga menetapkan Hari Arak Bali yang diperingati setiap 29 Januari melalui Keputusan Gubernur Bali Nomor 929/03-I/HK/2022. “Yang cukup menggembirakan, Arak Bali juga dijadikan minuman cocktail,” ujarnya.
Gubernur Koster juga mengungkapkan bahwa pada awal 2026 dirinya tengah memperjuangkan agar produk Arak Bali yang menggunakan Aksara Bali pada kemasannya dapat dipasarkan di area Duty Free serta outlet UMKM di terminal keberangkatan dan kedatangan internasional Bandara I Gusti Ngurah Rai.
Selain memperkuat branding, Gubernur Koster juga mendorong penguatan sistem produksi Arak Bali. Ia mengajak seluruh pelaku usaha dan koperasi Arak Bali berada dalam satu jalur produksi melalui PT Kanti Barak Sejahtera.
Perusahaan tersebut merupakan anak usaha Perumda Kerta Bali Saguna yang telah memiliki izin produksi dari Kementerian Perindustrian.
“Perusahaan ini merupakan anak Perumda Kerta Bali Saguna yang sudah legal untuk bisa beroperasi, karena mempunyai hak izin produksi dari Kementerian Perindustrian,” kata Gubernur Koster.
Gubernur Koster juga meminta PT Kanti Barak Sejahtera menggandeng koperasi sebagai wadah produksi agar biaya produksi dapat ditekan sehingga menghasilkan produk berkualitas dan memiliki daya saing tinggi.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Koster menekankan agar perusahaan tersebut bekerja secara profesional dan progresif demi memperkuat industri Arak Bali dari hulu hingga hilir.
Menurutnya, masih ada satu hal penting yang tengah diperjuangkan, yakni penurunan pita cukai yang dinilai masih cukup tinggi bagi produk Arak Bali.
“Dengan adanya Hak Izin Produksi di PT ini, maka tinggal satu saja yang masih Saya perjuangkan untuk menuntaskan urusan Arak Bali dari hulu sampai hilir, ialah menurunkan Pita Cukai yang masih tinggi. Ini sedang saya upayakan melalui Kementrian Keuangan, mengingat hal ini sangat ketat untuk minuman alkohol, tapi karena Arak Bali bagian dari UMKM, semoga ada celah untuk negosiasi ke Kementrian Keuangan,” jelasnya.
Gubernur Koster menutup pertemuan dengan pesan agar seluruh pihak memiliki semangat dan tujuan yang sama dalam membangun ekonomi rakyat Bali melalui pengembangan Arak Bali.
“Jangan setengah-setengah, tumbuhkan integritas, jati diri, kebersamaan untuk membangun ekonomi rakyat Bali,” tutupnya. (red).




