BeritaDaerahKeagamaanPemerintahanPendidikanSosial

Keistimewaan Dzikir “Ya Hayyu Ya Qayyum”: Penjelasan KH Mahmud, Pendakwah dan Inspektur Inspektorat Pacitan

"Dzikir ini sangat dianjurkan ketika seseorang menghadapi kesulitan, kegelisahan, atau membutuhkan keteguhan hati"

Pacitan, JBM.co.id-Di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, amalan dzikir kembali menjadi penopang spiritual bagi banyak umat Muslim. Salah satu dzikir yang kian banyak diamalkan adalah “Ya Hayyu Ya Qayyum”, lafaz yang mengandung makna mendalam tentang keagungan dan kekuasaan Allah SWT.

KH Mahmud, seorang pendakwah kondang yang juga menjabat sebagai Inspektur di Inspektorat Pacitan, menjelaskan bahwa dzikir “Ya Hayyu Ya Qayyum” memiliki keistimewaan luar biasa jika dipahami dan diamalkan dengan benar.

“‘Ya Hayyu’ berarti Dzat Yang Maha Hidup, yang hidup-Nya tidak diawali dan tidak diakhiri. ‘Ya Qayyum’ (Al-Qayyum) berarti Dzat Yang Maha Berdiri Sendiri dan Menegakkan seluruh makhluk-Nya. Ketika kita membaca dzikir ini, kita sedang memohon pertolongan kepada sumber kehidupan dan kekuatan sejati,” ujar KH Mahmud saat ditemui, Ahad (15/2/2026).

Makna Spiritual yang Mendalam
Menurut KH Mahmud, dzikir ini termasuk bagian dari Asmaul Husna yang agung. Ia merujuk pada ayat dalam Surah Al-Baqarah ayat 255 (Ayat Kursi) yang menyebutkan sifat Allah sebagai Al-Hayyu Al-Qayyum. Dalam banyak riwayat, kedua nama ini disebut sebagai nama Allah yang memiliki kedudukan istimewa.

“Dzikir ini sangat dianjurkan ketika seseorang menghadapi kesulitan, kegelisahan, atau membutuhkan keteguhan hati. Membacanya dengan penuh kesadaran dapat menghadirkan ketenangan batin dan rasa tawakal yang kuat,” jelasnya.

Ia menambahkan, pengulangan dzikir tersebut sebaiknya dilakukan dengan adab: dalam keadaan suci, hati yang khusyuk, serta disertai niat memohon pertolongan dan perlindungan Allah SWT.

Relevansi di Tengah Tantangan Zaman
Sebagai pejabat publik sekaligus pendakwah, KH Mahmud melihat pentingnya keseimbangan antara integritas profesional dan kekuatan spiritual. Ia menilai dzikir bukan sekadar ritual, melainkan fondasi pembentukan karakter.

“Di tengah tugas pengawasan dan tanggung jawab pemerintahan, seseorang sangat membutuhkan kejernihan hati dan kekuatan moral. Dzikir seperti ‘Ya Hayyu Ya Qayyum’ membantu menjaga niat, menguatkan amanah, dan menghindarkan dari godaan yang dapat merusak integritas,” ungkapnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk menjadikan dzikir sebagai bagian dari rutinitas harian, bukan hanya saat menghadapi masalah. Konsistensi, menurutnya, adalah kunci keberkahan.

KH Mahmud berharap generasi muda tidak memandang dzikir sebagai sesuatu yang kuno atau sekadar tradisi. Justru, di era digital yang penuh distraksi, dzikir menjadi sarana detoksifikasi batin.

“Anak-anak muda hari ini menghadapi tekanan mental yang luar biasa. Dzikir adalah terapi ruhani yang murah, mudah, dan sangat efektif. Asalkan dilakukan dengan pemahaman dan keyakinan,” tegasnya.

Menutup perbincangan, KH Mahmud mengingatkan bahwa inti dari dzikir bukan hanya pada lafaz yang diucapkan, tetapi pada kesadaran hati akan kehadiran Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan.

Pemahaman yang benar, dzikir “Ya Hayyu Ya Qayyum” bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sumber kekuatan spiritual yang menuntun manusia menuju ketenangan, keteguhan, dan keberkahan hidup.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button