
Jbm.co.id-DENPASAR | Piala Dunia 2026 berpotensi menjadi panggung besar bagi negara-negara Amerika, setelah turnamen sepak bola terbesar dunia ini digelar di tiga negara Amerika Utara, yakni Amerika Serikat, Meksiko dan Kanada.
Edisi kali ini menjadi sejarah baru, karena menggunakan format dengan 48 peserta. Jumlah tersebut menjadikan Piala Dunia 2026 sebagai turnamen terbesar sepanjang sejarah dengan pertandingan lebih banyak dibandingkan edisi sebelumnya.
Bermain di kawasan Amerika memberikan keuntungan tersendiri bagi negara-negara dari benua Amerika. Faktor geografis, kondisi lingkungan, hingga kemampuan adaptasi pemain menjadi modal penting menghadapi persaingan global.
Juara Piala Dunia saat Tuan Rumah di Benua Amerika
Sepanjang sejarah, ada tiga negara dari benua Amerika yang berhasil memanfaatkan status tuan rumah untuk keluar sebagai juara dunia.
Uruguay (1930) menjadi tuan rumah Piala Dunia pertama dalam sejarah dan berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Argentina 4-2 di final.
Argentina (1978) menjadi tuan rumah dan meraih trofi Piala Dunia pertama mereka, setelah menumbangkan Belanda dengan skor 3-1 di babak perpanjangan waktu.
Brasil: Meskipun pernah menjadi tuan rumah pada tahun 1950 dan 2014, Brasil justru gagal juara di rumah sendiri. Namun, mereka berhasil menjadi juara dunia saat turnamen digelar di tanah Amerika lainnya, yaitu di Meksiko (1970) dan Amerika Serikat (1994).
Brazil (Piala Dunia 1970, Meksiko) diipimpin oleh legenda Pelé, Brazil memainkan sepak bola indah dan mencukur Italia 4-1 di laga final Stadion Azteca, Meksiko.
Brasil (Piala Dunia 1994, Amerika Serikat), saat dibawah kepemimpinan kapten Dunga dan ketajaman Romário, Brazil mengalahkan Italia lewat adu penalti yang dramatis di Pasadena, Amerika Serikat.
Argentina (Piala Dunia 1986 di Meksiko), saat turnamen ini diselenggarakan di benua Amerika (Meksiko sebagai tuan rumah). Namun, sang juara bukanlah tim tuan rumah Meksiko, melainkan Argentina yang dipimpin oleh Diego Maradona setelah menumbangkan Jerman Barat 3-2 di final.
Satu-satunya momentum bersejarah, saat tim dari luar benua Amerika (tim Eropa) berhasil mematahkan dominasi dan menjadi juara di tanah Amerika terjadi pada Piala Dunia 2014 di Brazil, saat Jerman keluar sebagai juara menekuk Argentina di final.
Dalam sejarah Piala Dunia, negara-negara Amerika memang kerap tampil kuat ketika turnamen berlangsung di kawasan Amerika.
Faktor dukungan atmosfer, perjalanan yang lebih familiar, serta pengalaman bermain di kondisi serupa menjadi keuntungan tambahan.
Selain itu, mayoritas pemain Amerika Selatan saat ini telah terbiasa tampil di kompetisi elite Eropa. Pemain seperti Argentina, Brazil dan Kolombia memiliki pengalaman menghadapi berbagai gaya permainan serta kondisi pertandingan tingkat tinggi.
Argentina menjadi salah satu kandidat terkuat untuk mengangkat trofi Piala Dunia 2026. La Albiceleste datang dengan modal mental juara setelah sukses meraih Copa America 2021, Finalissima 2022, Piala Dunia 2022 hingga Copa America 2024.
Rentetan prestasi tersebut menjadi bukti kekuatan mental Argentina sebagai tim yang mampu tampil konsisten dalam pertandingan besar.
Skuad Argentina juga masih mempertahankan sebagian besar pemain yang membawa gelar juara dunia 2022, sekaligus diperkuat generasi muda yang memberikan energi baru dalam tim.
Dibawah arahan pelatih Lionel Scaloni, kekuatan Argentina terletak pada keseimbangan antara pengalaman pemain senior dan kreativitas pemain muda.
Piala Dunia 2026 juga menjadi perhatian besar karena diprediksi menjadi turnamen terakhir bagi sejumlah pemain senior dunia, termasuk Lionel Messi.
Motivasi memberikan akhir karier internasional yang sempurna menjadi salah satu faktor yang membuat Argentina semakin berbahaya untuk mencetak sejarah baru Back to Back selama 64 tahun.
Analisis Kekuatan Skuad Argentina
Lini Depan Mematikan
Lionel Messi tetap menjadi simbol utama kekuatan Argentina. Pada usia 39 tahun di Piala Dunia keenamnya, pengalaman dan kualitas La Pulga menjadi senjata penting bagi La Albiceleste.
Messi disebut masih memiliki kemampuan menentukan pertandingan melalui kreativitas, visi bermain serta eksekusi bola mati. Selain Messi, Argentina memiliki dua striker berkualitas, Julián Álvarez dan Lautaro Martínez.
Lautaro Martínez menjadi penyerang nomor 9 dengan kemampuan penyelesaian akhir yang tajam, sedangkan Álvarez memiliki gaya bermain lebih fleksibel dengan pergerakan aktif membuka ruang.
Talenta muda, seperti Nico Paz dan Giuliano Simeone juga memberikan variasi serangan baru dari sisi sayap.
Lini Tengah Jadi Mesin Permainan
Kekuatan Argentina tidak hanya berasal dari lini depan. Sektor tengah menjadi pengatur ritme permainan dengan keberadaan Enzo Fernández, Alexis Mac Allister dan Rodrigo De Paul.
Ketiga pemain Argentina mampu menjaga keseimbangan antara penguasaan bola, kreativitas serta tekanan terhadap lawan.
Kembalinya Giovani Lo Celso juga memberikan tambahan kreativitas dari lini kedua.
Pertahanan Solid dan Mental Juara
Dibawah mistar, Emiliano “Dibu” Martínez tetap menjadi pemain penting dengan kemampuan menghadapi tekanan dalam pertandingan besar.
Sementara duet Cristian Romero dan Lisandro Martínez menghadirkan pertahanan agresif, disiplin dan kuat secara fisik.
Di sisi sayap, Nahuel Molina aktif membantu serangan dari kanan, sedangkan Nicolás Tagliafico menjaga keseimbangan pertahanan kiri.
Pengalaman Nicolás Otamendi juga menjadi nilai tambah untuk menjaga kepemimpinan di ruang ganti.
Faktor Non Teknis Argentina
Salah satu motivasi terbesar Argentina di Piala Dunia 2026 adalah memberikan perpisahan terbaik bagi Lionel Messi di panggung internasional.
Atmosfer kekeluargaan yang dibangun Lionel Scaloni sejak 2022 membuat permainan Argentina terlihat solid, kolektif dan memiliki chemistry kuat.
Dengan kombinasi pemain berpengalaman, talenta muda serta mental juara, Argentina menjadi salah satu tim yang paling siap kembali meraih trofi Piala Dunia 2026. (berbagai sumber/ace).




