BeritaDaerahPariwisataPemerintahanPendidikanSeni BudayaSosial

Hening di Senja Pesisir: “Kisah Iwan Sang Jawara Silat Yang Kini Menapaki Jalan Syariat, Dan Petikan Dawai Gitar Dari Jemarinya”

"Nada-nada yang mengalir kadang lirih, kadang meledak, seakan membawa cerita hidup yang tak sanggup ia ucapkan"

Pacitan,JBM.co.id-Gemuruh ombak Pantai Selatan seolah menyimpan banyak kisah tentang tanah Pacitan, kota yang masyhur sebagai daerah wisata dan seni.

Di balik keelokan gua dan pantai-pantainya, Pacitan juga menyimpan jejak panjang para pendekar silat yang namanya menggema sejak dekade 1990-an.

Salah satunya adalah Iwan, aparatur sipil negara kelahiran 1972. Sosok mualaf yang dulu dikenal sebagai pendekar dengan kemampuan tarung dan seni, membuat namanya kerap disebut dalam turnamen regional.

Di eranya, Iwan beberapa kali mengharumkan nama Pacitan berkat ketangguhan, teknik, dan ketenangannya di atas arena.

Kini, lelaki 53 tahun itu lebih banyak terlihat menapaki sunyi jalan syariat. Gelar haji yang disandangnya seolah menjadi penanda perjalanan batin yang panjang, dari gelanggang pertarungan menuju ketundukan spiritual.

“Silat itu bukan sekadar jurus. Ada adab, ada ruh,” kata Iwan saat ditemui di halaman rumahnya. Tatapannya teduh, namun masih memancarkan nyala seorang petarung.

Di masa mudanya, Iwan tumbuh dalam kultur seni bela diri yang kuat. Ia menapaki latihan keras, dari gelanggang desa hingga arena bertarung profesional. Piala dan piagam pernah menghiasi dinding rumahnya. Namun perjalanan spiritual perlahan menuntunnya pada ruang refleksi yang lebih dalam.

Seiring bertambah usia, langkah hidupnya berbelok. Ia memilih lebih fokus memperdalam syariat Islam, menjaga ibadah, serta mendidik generasi muda agar memahami makna pencak silat bukan sebagai kekerasan, melainkan seni mengolah diri.

Meski demikian, bara itu tak padam. Dunia pencak silat masih berkobar di relung hatinya. Ia masih mempraktikkan jurus ringan, sekadar menjaga kelenturan tubuh, sambil sesekali memberikan wejangan kepada para pemuda yang datang menimba ilmu.

“Kalau silat hanya untuk gagah-gagahan, akhirnya kosong. Silat harus menjadi jalan mendidik akhlak,” ujarnya lirih.

Sementara itu, di usia yang tak lagi muda, Iwan justru menemukan kembali dirinya. Bukan lewat pekerjaan kantoran yang masih digelutinya, melainkan melalui senar-senar gitar yang lama terabaikan.

Hampir saban waktu luang, ia duduk di beranda rumah, memetik melodi pelan. Terkadang juga bergabung dengan sejumlah musisi lokal untuk bermain musik nostalgia.

Bukan untuk tampil di panggung, bukan pula mengejar popularitas. Baginya, gitar adalah ruang sunyi tempat ia menuangkan rasa.

Nada-nada yang mengalir kadang lirih, kadang meledak, seakan membawa cerita hidup yang tak sanggup ia ucapkan.

Di balik garis usia dan rambut yang perlahan mulai memutih, seni menemukan rumahnya, di jari-jari Iwan yang setia merangkai melodi.

Di tengah sorotan wisata Pacitan yang semakin mendunia, cerita hidup Iwan menjadi pengingat bahwa kota ini bukan sekadar destinasi alam dan seni.

Ada perjalanan spiritual para pendekar, yang diam-diam menjaga warisan leluhur sambil menapaki jalan kembali kepada Sang Pencipta.

Senja mulai turun di pesisir selatan. Angin laut bertiup lembut. Dan di dada seorang Iwan, silat tetap hidup, bukan dalam dentum pukulan, melainkan dalam keheningan jiwa.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button