Bencana AlamBeritaDaerahPemerintahanPendidikanSosial

Gempa 6,4 SR Ungkap Fakta Geologi: Bantul Lebih Parah Meski Jauh dari Episenter

"Wilayah endapan cenderung memperbesar amplitudo gelombang gempa, sehingga dampaknya bisa lebih parah dibandingkan daerah yang berada di atas batuan keras, meskipun jaraknya lebih dekat ke episenter"

Pacitan,JBM.co.id- Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,4 Skala Richter yang mengguncang wilayah selatan Jawa tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga membuka pemahaman penting tentang peran kondisi geologi dalam menentukan tingkat dampak gempa.

Berdasarkan data BMKG, intensitas gempa tertinggi tercatat di Kabupaten Pacitan dengan nilai MMI (Modified Mercalli Intensity) VI yang terekam alat. Sementara guncangan MMI IV dirasakan di sejumlah wilayah lain, seperti Klaten, Wonogiri, sebagian Pacitan, dan Kabupaten Bantul.

Namun hasil investigasi lapangan justru menunjukkan Kabupaten Bantul mengalami kerusakan paling signifikan, mulai dari jalan aspal yang retak hingga rumah warga yang rusak parah. Fakta ini cukup kontras mengingat Bantul berada lebih jauh dari pusat gempa dibandingkan Pacitan.

Menurut penjelasan Ayu Krisno Exarsti dari Stasiun Geofisika Kelas I Sleman, perbedaan tingkat kerusakan ini sangat dipengaruhi oleh karakteristik geologi wilayah. Bantul diketahui berada di kawasan endapan sedimen, yang secara ilmiah memiliki sifat mengamplifikasi gelombang gempa. Artinya, getaran yang datang dapat membesar sehingga meningkatkan potensi kerusakan bangunan.

“Wilayah endapan cenderung memperbesar amplitudo gelombang gempa, sehingga dampaknya bisa lebih parah dibandingkan daerah yang berada di atas batuan keras, meskipun jaraknya lebih dekat ke episenter,” jelasnya, saat menggelar rilis pers bersama Kepala Pelaksana BPBD Pacitan, Erwin Andriatmoko, Jumat (6/2/2026).

Sebaliknya, di Kecamatan Pringkuku, Pacitan, meski alat mencatat guncangan hingga MMI V, tingkat kerusakan tergolong minim. Kondisi ini disebabkan oleh batuan gamping yang mendominasi wilayah tersebut. Batuan keras seperti gamping memiliki kemampuan meredam getaran, sehingga energi gempa tidak sepenuhnya diteruskan ke bangunan di atasnya.

Kondisi serupa juga terjadi di Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, yang hingga kini dilaporkan relatif aman dengan kerusakan sangat terbatas. Wilayah ini memiliki kesamaan karakter geologi dengan Pringkuku, yang turut berperan dalam mengurangi dampak gempa.

Meski dikenal sebagai daerah rawan gempa, Pacitan justru memiliki keuntungan geologis berupa susunan bebatuan yang lebih keras, sehingga mampu meminimalkan kerusakan saat terjadi gempa besar.

Kalak BPBD Pacitan Erwin Andriatmoko menambahkan, bahwa kejadian ini menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana berbasis kondisi lokal. Gempa bumi merupakan fenomena alam yang tidak dapat diprediksi, sehingga masyarakat diimbau untuk terus meningkatkan literasi kebencanaan, memahami risiko wilayah tempat tinggal, dan selalu mengikuti informasi resmi dari BMKG dan BPBD.

Ia juga mengingatkan masih ditemukannya warga yang beraktivitas di wilayah pesisir pascagempa, yang dinilai berisiko dan tidak direkomendasikan.

“Meski kepanikan adalah reaksi yang wajar, masyarakat diharapkan tetap tenang, waspada, dan mawas diri, tanpa mengabaikan keselamatan,”pesan Ayu sebelum menutup pernyataannya.

Peristiwa ini menjadi pelajaran bahwa jarak dari pusat gempa bukan satu-satunya faktor penentu kerusakan, melainkan kondisi geologi lokal yang justru memegang peran krusial dalam menentukan seberapa besar dampak yang ditimbulkan. (Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button