Fortune, Jalan Kemandirian Pekerja: Inovasi PT PPIS Pacitan Bangun Komunitas UMKM Sejak Dini Dapat Apresiasi Dari Kadiskoperin M. Ali Mustofa
"Gagasan yang dibangun PT PPIS bukan sekadar respons atas situasi krisis, melainkan sebuah ikhtiar jangka panjang untuk menumbuhkan kemandirian ekonomi para pekerja"

Pacitan,JBM.co.id- Di tengah tantangan ekonomi yang kian dinamis, upaya menyiapkan kemandirian pekerja sejak masih aktif bekerja menjadi langkah yang patut diapresiasi. Inovasi itulah yang dilakukan PT PPIS, mitra produksi sigaret dari PT HM Sampoerna, melalui pembentukan komunitas UMKM bernama Fortune.
Langkah tersebut mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perindustrian Kabupaten Pacitan, Muhammad Ali Mustofa. Menurutnya, gagasan yang dibangun PT PPIS bukan sekadar respons atas situasi krisis, melainkan sebuah ikhtiar jangka panjang untuk menumbuhkan kemandirian ekonomi para pekerja.
Ali Mustofa menjelaskan, komunitas UMKM Fortune sejatinya telah mulai dirintis sejak tahun 2022, sebelum kemudian resmi disahkan pada 2023. Kehadiran komunitas ini dinilai sebagai terobosan yang tidak biasa, sebab perusahaan justru hadir bukan hanya sebagai tempat bekerja, tetapi juga sebagai ruang pembinaan, motivasi, dan penguatan mental kewirausahaan bagi para pekerjanya.
“Ini hal yang sangat unik, di mana perusahaan justru memberikan motivasi kepada pekerjanya untuk berinovasi membangun rintisan UMKM, sekaligus memberikan bimbingan mental. Hal seperti ini jarang dilakukan oleh perusahaan lain,” ujar Ali saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Selasa (23/6/2026).
Mantan Kabag Perekonomian Setda Pacitan itu menilai, pembentukan komunitas Fortune merupakan bentuk antisipasi yang cerdas dan visioner. Sebab, melalui wadah tersebut para pekerja didorong untuk memiliki usaha sampingan sejak dini, sehingga ketika sewaktu-waktu perusahaan melakukan rasionalisasi tenaga kerja, atau ketika masa purna tugas tiba, mereka tetap memiliki pegangan ekonomi yang dapat terus dikembangkan.
Bagi Ali, inisiatif seperti ini bukan hanya menyentuh aspek ekonomi semata, tetapi juga membangun mental kemandirian. Para pekerja didorong untuk tidak hanya bergantung pada satu sumber penghasilan, melainkan mulai belajar mengelola potensi, membaca peluang, dan menumbuhkan keberanian berwirausaha.
Hasilnya pun mulai terlihat. Sejumlah pekerja yang telah memasuki masa pensiun, lanjut Ali, terbukti mampu melanjutkan dan mengembangkan usaha sampingan yang telah mereka rintis sejak masih aktif bekerja di PT PPIS. Jenis usahanya pun beragam, mulai dari peternakan kambing, jasa menjahit, hingga usaha kuliner.
“Ada yang menekuni peternakan kambing, menjahit, dan kuliner. Meski sudah pensiun, mereka tetap memiliki penghasilan dari usaha yang sebelumnya dirintis,” jelasnya.
Lebih jauh, keberadaan Fortune menunjukkan bahwa pemberdayaan pekerja tidak harus menunggu masa sulit datang. Pembinaan UMKM justru akan lebih efektif ketika dilakukan sejak awal, saat para pekerja masih memiliki energi, jejaring, dan akses pembelajaran yang memadai. Dengan begitu, usaha yang dibangun tidak sekadar menjadi sambilan, tetapi berpotensi tumbuh menjadi penopang ekonomi keluarga dalam jangka panjang.
Inisiatif PT PPIS ini pun dinilai selaras dengan semangat penguatan ekonomi kerakyatan di daerah. Ketika pekerja memiliki usaha mandiri, maka efek positifnya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga keluarga, lingkungan sekitar, hingga geliat ekonomi lokal secara lebih luas.
Di tengah kebutuhan akan model pemberdayaan tenaga kerja yang berkelanjutan, Fortune hadir sebagai contoh bahwa perusahaan dapat mengambil peran lebih besar dalam menyiapkan masa depan para pekerjanya. Bukan sekadar memberi pekerjaan hari ini, tetapi juga menanamkan harapan dan kemandirian untuk hari esok.(Red/yun).



