
Jbm.co.id-DENPASAR | Peta politik Bali kembali bergerak. Partai baru bernama Gema Bangsa mulai menancapkan eksistensinya dengan mengaktifkan struktur kepengurusan hingga ke tingkat akar rumput.
Dibawah komando Ketua Umum Ahmad Ropiq, mantan Sekjen Partai Perindo, partai ini langsung tancap gas menata organisasi di seluruh Indonesia, termasuk Bali.

Di Pulau Dewata, Ahmad Ropiq mempercayakan tongkat kepemimpinan DPW kepada politisi senior Dr. I Wayan Sukla Arnata, SH., MH., didampingi I Nyoman Widana sebagai Sekretaris. Keduanya merupakan duet yang sebelumnya dikenal sebagai mantan Ketua dan Sekretaris Perindo Bali, sehingga memiliki rekam jejak solid dalam membangun struktur partai.
Berdasarkan SK DPP Partai Gema Bangsa Nomor 499/GB.1/DPP Partai Gema Bangsa/XI/2025, struktur DPW Bali kini telah lengkap dengan 23 personel, termasuk posisi bendahara yang diisi AA. Made Sumestri, SH. Bersama jajaran wakil ketua, wakil sekretaris, dan wakil bendahara, gerbong ini akan mengemban tugas menggemakan nama Partai Gema Bangsa di Bali.
Sekretaris DPW Bali, I Nyoman Widana, menegaskan bahwa keberadaan partai ini akan memberi warna baru dalam kompetisi politik daerah.
“Kita memang partai baru, tetapi memiliki program seksi yakni konsep desentralisasi politik. Kita akan siap berjuang dengan program-program unggulan yang dirancang Ketua Umum Ahmad Ropiq bersama Sekjen Muhammad Sopyan,” terangnya.
Widana menyebut pihaknya telah menyiapkan program jangka pendek berupa pembentukan kepengurusan 100% DPD di 9 kabupaten/kota, 57 DPC kecamatan, hingga DPt desa/kelurahan se-Bali. Selain itu, DPW juga memastikan kesiapan menuju Tri Sukses Partai Gema Bangsa, yakni Sukses Administrasi, Sukses Verifikasi, dan Sukses Pemilu 2029.
DPW Bali juga telah menyatakan kesiapan penuh menghadiri Deklarasi & Rapimnas Partai Gema Bangsa pada 17-18 Januari 2026 di Jakarta, yang akan dihadiri struktur wilayah dari seluruh Indonesia.
Sementara itu, Ketua Umum Ahmad Ropiq dalam arahannya menegaskan bahwa Partai Gema Bangsa lahir bukan sebagai partai musiman, tetapi sebagai gerakan pembaharu.
“Partai Gema Bangsa bukan sekadar partai baru, bukan hanya sekadar partai yang ikut-ikutan kala politik bikin partai, Partai Gema Bangsa bukan kumpulan orang-orang buangan, kumpulan orang-orang yang mempunyai kesadaran politik baru,” tegasnya.
Ropiq juga menyinggung pengalaman panjangnya dalam partai dengan sistem sentralistik.
“Tiga partai sudah saya bangun. Dari waktu ke waktu saya mencermati bahwa prilaku sentralistik itu sesungguhnya sangat menyakitkan. Dan itu terjadi pada kawan-kawan kita di daerah,” ungkapnya.
Dari pengalaman tersebut, ia memutuskan membangun platform baru yang mengusung desentralisasi politik dalam konteks berpartai, bukan kenegaraan.
“Ini bukan slogan, tetapi kita akan wujudkan secara bersama-sama. Dimana seorang politisi di tingkat provinsi dan kabupaten mempunyai kewenangan sepenuhnya untuk mengatur masa depan daerahnya,” ujarnya.
Berdasarkan konsep tersebut, Widana optimistis Partai Gema Bangsa Bali mampu mengambil ceruk yang selama ini kosong di legislatif provinsi maupun kabupaten/kota.
“Yang pasti partai ini selalu berpihak pada rakyat dan mendorong pembangunan Bali yang lebih maju,” tegasnya. (red).




