Di Antara Gerimis dan Nada: Senandung Ramadhan Bupati Pacitan Layaknya Musisi Legendaris Katon Bagaskara, Menghangatkan Studio Belakang Pendopo
"Setiap bait yang dilantunkan seperti menemukan rumahnya di ruang sunyi studio belakang Pendopo"

Pacitan,JBM.co.id- Gerimis turun perlahan membasahi halaman Pendopo Kabupaten. Angin malam berembus dingin, menyelinap di sela-sela pilar tua yang berdiri anggun dalam temaram lampu kuning. Di tengah suasana syahdu Bulan Ramadhan itu, sebuah petikan gitar akustik memecah kesunyian.
Di kursi sederhana tanpa sekat protokoler, duduk Bupati Pacitan, Kanjeng Raden Tumenggung Indrata Nur Bayuaji Reksonagoro. Tangannya luwes memetik senar, suaranya mengalun lembut, membawakan lagu-lagu Barat yang sarat makna dan nostalgia. Tidak ada jarak antara pemimpin dan suasana malam, yang ada hanya keheningan yang larut dalam nada.
Setiap bait yang dilantunkan seperti menemukan rumahnya di ruang sunyi studio belakang Pendopo. Lagu-lagu yang mungkin akrab di telinga generasi 80 dan 90-an atau bahkan lagu kontemporer terdengar berbeda malam itu, lebih dalam, lebih jujur. Seolah bukan sekadar hiburan, melainkan ruang kontemplasi.
Wajahnya yang kerap disebut memiliki kemiripan dengan musisi legendaris Katon Bagaskara semakin menguatkan suasana nostalgia. Namun yang hadir malam itu bukan sekadar bayangan seorang penyanyi kondang, melainkan sosok pemimpin yang memilih menyapa warganya lewat nada.
Ramadhan baginya bukan hanya soal agenda pemerintahan dan rutinitas seremonial. Di sela waktu luang selepas aktivitas sebagai kepala daerah, musik menjadi jembatan batin, antara dirinya dengan Sang Pencipta, antara dirinya dengan masyarakat yang dipimpinnya.
Petikan gitar itu sederhana, tanpa panggung megah. Hanya suara akustik yang jernih, berpadu dengan rintik hujan. “Namun justru dalam kesederhanaan itulah, makna terasa lebih dekat. Musik menjadi bahasa universal yang meluruhkan sekat jabatan,”ujar Bupati lirih, sambil memegang gitar, Senin (2/3/2026) malam.
Beberapa staf dan kolega dekat yang berada di studio belakang pendopo tampak terdiam, menikmati suasana. Ada yang memejamkan mata, ada yang tersenyum kecil. Malam itu, Ramadhan terasa hangat, meski udara begitu dingin.
Bagi Bupati Pacitan, bermusik bukan tentang unjuk kemampuan. Ia adalah ruang jeda. Ruang untuk merawat rasa, menjaga kepekaan, dan mengingat bahwa di balik tanggung jawab besar sebagai pemimpin, ada sisi manusiawi yang perlu dirawat.
Dan ketika lagu terakhir usai, tidak ada tepuk tangan gemuruh. Hanya hening yang panjang, hening yang penuh makna.
Di Pacitan, Ramadhan tak hanya diisi dengan lantunan ayat suci dan agenda sosial. Ia juga hidup dalam petikan gitar seorang pemimpin yang memilih berbagi kehangatan lewat lagu. Sebuah cara sederhana, namun mampu menyentuh hati siapa saja yang mendengarnya.(Red/yun).




