Kelola 9 Pasar di Badung, Perumda MGS Fokus Pasar Bersih, Aman dan Nyaman

Jbm.co.id-BADUNG | Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar dan Pangan Mangu Giri Sedana (MGS) Kabupaten Badung mulai mempersiapkan langkah penataan pasar tradisional dengan fokus pada kebersihan, keamanan dan kenyamanan.
Salah satu program yang tengah dikaji adalah pengolahan sampah organik dan anorganik dari 9 pasar yang dikelola di Kabupaten Badung.
Rata-rata, sembilan pasar tersebut menghasilkan sekitar 18 ton sampah setiap hari. Kondisi itu dinilai menjadi tantangan sekaligus peluang untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih produktif dan bernilai ekonomi.
Direktur Utama Perumda MGS Badung, Kompiang Gede Pasek Wedha menegaskan pihaknya sedang menyusun kajian tata kelola sampah agar tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga mampu menghasilkan produk bernilai jual.
“Mudah-mudahan dengan begitu, kita bisa menghasilkan suatu produk yang bisa menaikkan kualitas atau nilai jual dari sampah tersebut,” kata Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar dan Pangan Mangu Giri Sedana (MGS) Kabupaten Badung Kompiang Gede Pasek Wedha, saat dikonfirmasi insan media di Kantor Perumda MGS Beringkit, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Senin, 15 Juni 2026.
Menurut Pasek Wedha, persoalan sampah tidak hanya menjadi beban masyarakat, tetapi juga berdampak pada pengeluaran operasional. Saat ini, Perumda MGS mengeluarkan sekitar Rp150 juta untuk biaya jasa pengangkutan sampah.
Oleh karena itu, pengelolaan sampah dinilai menjadi langkah strategis yang dapat memberi manfaat bagi internal perusahaan, Pemerintah Kabupaten Badung dan masyarakat secara luas.
Selain kebersihan, Perumda MGS juga menargetkan terciptanya kondisi pasar yang aman dan nyaman bagi pedagang maupun pembeli. Keamanan pasar dinilai penting untuk menjaga aktivitas ekonomi tetap berjalan lancar.
“Setelah aman, sama-sama memiliki dan menjaga sesama pedagang maupun kita kondisi pasar,” kata Pasek Wedha.
Pasek Wedha juga menjelaskan, ketika pasar dalam kondisi bersih, aman dan nyaman, maka transaksi jual beli akan meningkat dan masyarakat tidak lagi berpindah ke pasar lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Secara konsep terbilang gampang, tapi penerapan mungkin susah. Yang jelas saya tidak bisa bekerja sendiri, tapi juga perlu dukungan semua pihak, termasuk media agar semua berjalan lancar, karena bagaimanapun fokus bisnis awal kita memang pasar,” kata Pasek Wedha.
Disisi lain, Perumda MGS juga masih menghadapi tantangan tingkat keterisian kios pasar. Dari total sekitar 1.800 kios yang tersedia, baru sekitar 1.000 kios yang terisi pedagang.
“Kita secara potensi kios masih konteksnya dibawah, ya anggaplah jika totalnya 1.800 kios, kita baru 1.000 yang baru laku, tapi ada banyak potensi yang bisa kita kembangkan,” kata Pasek Wedha.
Untuk meningkatkan daya tarik pasar tradisional, Perumda MGS berencana memperkuat kerja sama dengan pemasok kebutuhan pokok agar harga tetap kompetitif dengan kualitas dan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
Tak hanya bergerak di sektor pasar, Perumda MGS juga memiliki peran di sektor pangan yang cakupannya cukup luas. Sesuai arahan Pemerintah Kabupaten Badung, perusahaan daerah ini turut terlibat dalam program pasar murah untuk pengendalian inflasi menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan. Salah satu kegiatan yang telah dijalankan yakni program Penyarikan Ngardi Rahayu di Banjar Penyarikan, Bualu beberapa waktu lalu.
“Yang jelas kami perlu kolaborasi dan juga butuh Brand serta perlu promosi dengan rekan media, sehingga dapat dipahami pola kita dan kebutuhan dipastikan Kita siapkan dan sedang merangkai kearah itu,” urainya.
Kedepan, Perumda MGS berharap dapat memperluas kolaborasi dengan media dan berbagai pihak, termasuk dalam penguatan digital marketing hingga pengembangan kemitraan sektor pangan.
“Seperti apa polanya tinggal berkolaborasi diantara kita. Karena kunci kita jualan aktifkan Marketing dengan harapan bersinergi dengan media,” tambahnya. (ace).




