BeritaDaerahNasionalPendidikan

Dewi Uma: Wariga Nusantara dan Astronomi Slavia Jadi Jalan Baru Diplomasi Budaya Indonesia-Rusia di Festival Drusba

Jbm.co.id-JAKARTA | Hubungan diplomatik antar negara selama ini identik dengan isu ekonomi dan politik. Namun Festival Drusba 2025 menunjukkan bahwa persahabatan yang lebih mendalam dapat lahir dari ranah budaya, spiritualitas, dan ilmu pengetahuan kuno.

Foto: Dewi Uma sebagai Praktisi Wariga dari Bali.

Indonesia dan Rusia, dua negara dengan warisan peradaban yang kaya, kini melihat potensi baru lewat diplomasi budaya berbasis astronomi tradisional.

Festival Drusba, yang untuk pertama kalinya digelar dalam rangka memperingati 75 tahun hubungan persahabatan Indonesia dan Rusia, menjadi ruang perdana bagi pertukaran ilmu Perbintangan Slavia Kuno dan Wariga Nusantara (Bali).

Ajang ini digagas anak-anak muda berkolaborasi dengan Crimson, MPSI dan PPIR yang digawangi Suryo Susilo di Universitas Paramadina, Jakarta, pada 11-12 Desember 2025.

Foto: Festival Drusba, 2025 yang untuk pertama kalinya digelar dalam rangka memperingati 75 tahun hubungan persahabatan Indonesia dan Rusia.

Dalam sesi utama mengenai Ilmu Perbintangan sebagai budaya pemersatu, Dewi Uma, praktisi Wariga dari Bali, hadir sebagai salah satu keynote speaker.

Pertukaran Ilmu Bintang: Menyatukan Filosofi Dua Peradaban

Baik Wariga Nusantara maupun Ilmu Perbintangan Slavia Kuno memiliki sistem penanggalan, pemahaman kosmos, dan filosofi hidup yang mengakar kuat pada keseharian masyarakat leluhur.

Ilmu Perbintangan Slavia Kuno berbasis Kalender Kolyada Dar, dengan konsep Hall layaknya rasi bintang dan dewa-dewi primordial seperti Svarog. Sistem ini menekankan hubungan manusia dengan energi alam semesta.

Sementara Wariga Nusantara memadukan kalender Saka dan Pawukon, digunakan untuk menentukan Dewasa Ayu, pertanian, hingga perhitungan ramalan. Sistemnya mencakup Wuku, Panca Wara, Sapta Wara, Ingkel, dan berbagai komponen perhitungan detail lainnya.

Pertemuan kedua tradisi ini menghadirkan ruang belajar baru tentang bagaimana leluhur melihat alam semesta dan hidup selaras dengan ritme kosmik.

Akar Astronomi Kuno Rusia: Dari Navigasi hingga Mitologi

Astronomi kuno Rusia berkembang sebagai folk astronomy yang lahir dari observasi alam, mitologi, serta kebutuhan bertani dan berlayar. Masyarakat Slavia masa lampau mempelajari objek langit seperti Matahari, Bulan, Biduk, Pleiades, dan Venus untuk menentukan waktu dan musim.

Mereka memberi nama-nama khas pada benda langit, antara lain:

Bima Sakti: “Jalur Burung” atau “Jalan Mamay”

Pleiades: “Stozhary”

Ursa Major (Biduk): “Kovsh” atau “Medveditsa”

Fenomena seperti gerhana atau komet ditafsirkan sebagai pertanda besar, sementara catatan astronomi mulai muncul setelah masuknya literasi pasca penyebaran Kekristenan.

Astronomi sebagai Diplomasi Budaya

Pertukaran Wariga dan sistem Slavia Kuno membuka jalur diplomasi budaya baru yang bebas dari ketegangan politik.

Beberapa poin penting yang menguatkan hubungan kedua bangsa:

1. Pengakuan Universalitas Sains Kuno, bahwa peradaban berbeda melihat langit yang sama.

2. Diplomasi non-politik yang mempertemukan akademisi, spiritualis, dan praktisi budaya.

3. Kontribusi bagi ilmu modern, termasuk analisis iklim, pertanian, hingga pendekatan psikologi holistik.

Arah Kerja Sama Indonesia-Rusia ke Depan

Festival Drusba merekomendasikan tiga pengembangan utama:

1. Pusat Studi Komparatif Bersama untuk mendokumentasikan dan meneliti Wariga serta kosmologi Slavia.

2. Program Pertukaran Budaya dan Pendidikan, termasuk residensi seniman dan akademisi.

3. Platform Digital Open-Source berisi algoritma perhitungan dan pengetahuan kedua sistem penanggalan.

Kesimpulan: Dari Bintang Menuju Persaudaraan

Pertukaran ilmu bintang membuka jalan baru bagi diplomasi budaya Indonesia-Rusia. Melalui Wariga Nusantara dan Ilmu Perbintangan Slavia, kedua negara menemukan bahasa universal yang ditulis oleh langit, yakni bahasa yang melampaui batas politik dan ekonomi.

Inisiatif ini menunjukkan bahwa perdamaian lahir dari pemahaman mendalam terhadap kearifan leluhur dan kesadaran bahwa bintang-bintang adalah warisan bersama umat manusia. (red).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button