BeritaDaerahEkonomiPemerintahanPendidikanSeni BudayaSosial

Deflasi Berlanjut di Pekan Akhir Juni, Turunnya Harga Cabai dan Minyak Goreng Jadi Penopang Daya Beli

"Deflasi yang terjadi kali ini mencerminkan mulai membaiknya pasokan sejumlah komoditas hortikultura setelah sebelumnya mengalami tekanan harga"

Pacitan,JBM.co.id-Kabupaten Pacitan mencatat Indeks Perkembangan Harga (IPH) minggu keempat Juni 2026 sebesar -1,09 persen, menandai terjadinya deflasi setelah pada Mei lalu IPH masih berada pada angka 1,03 persen. Penurunan harga sejumlah komoditas pangan, terutama cabai rawit, cabai merah, dan minyak goreng, menjadi faktor utama yang mendorong turunnya indeks harga pada pekan terakhir bulan Juni.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah, secara tahunan (year on year/yoy) IPH Kabupaten Pacitan masih tumbuh 2,30 persen. Sementara secara tahun kalender (year to date/ytd) tercatat -2,13 persen, dan secara bulanan (month to month/mtm) mengalami deflasi -1,09 persen.

Di tingkat nasional, posisi IPH Kabupaten Pacitan berada pada peringkat ke-335, sedangkan di Provinsi Jawa Timur menempati urutan ke-17. Adapun di kawasan Pulau Jawa, Pacitan berada pada peringkat ke-61.

Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten Pacitan, Ayub Setyo Budi, mengatakan bahwa deflasi yang terjadi kali ini mencerminkan mulai membaiknya pasokan sejumlah komoditas hortikultura setelah sebelumnya mengalami tekanan harga.

“Penurunan harga cabai rawit, cabai merah, serta minyak goreng menjadi penyumbang terbesar terhadap deflasi pada minggu keempat Juni. Kondisi ini menunjukkan pasokan komoditas semakin baik sehingga harga di tingkat konsumen menjadi lebih terkendali,” ujarnya, Senin (29/6/2026).

Ayub menjelaskan, perkembangan harga selama enam bulan pertama tahun 2026 masih menunjukkan dinamika yang cukup tinggi. Pada Januari, Pacitan mengalami deflasi sebesar -5,21 persen, kemudian berbalik inflasi pada Februari (4,73 persen) dan Maret (1,28 persen). Memasuki April kembali terjadi deflasi (-2,87 persen), sebelum naik pada Mei (1,03 persen) dan kembali turun pada akhir Juni (-1,09 persen).

Meski demikian, tidak seluruh komoditas mengalami penurunan harga. Berdasarkan pemantauan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), beberapa bahan pangan seperti beras, bawang merah, dan bawang putih justru mengalami kenaikan harga dibandingkan rata-rata bulan Mei.

Sementara itu, sejumlah komoditas lain masih relatif stabil, di antaranya Minyakita, daging sapi, daging ayam ras, gula pasir, pisang, dan jeruk. Adapun komoditas yang mengalami penurunan harga meliputi minyak goreng, cabai merah, dan cabai rawit.

Menurut Ayub, kondisi tersebut memberikan sinyal positif terhadap stabilitas harga kebutuhan pokok di daerah.

“Yang terpenting adalah menjaga keseimbangan antara keterjangkauan harga bagi masyarakat dengan tetap memperhatikan kesejahteraan petani dan pelaku usaha. Pemerintah Kabupaten Pacitan akan terus melakukan pemantauan harga serta berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan agar pasokan tetap aman dan distribusi berjalan lancar,” jelasnya.

Di tingkat Provinsi Jawa Timur, Pacitan menjadi salah satu daerah yang mengalami deflasi cukup dalam bersama sejumlah kabupaten lain seperti Pamekasan, Ponorogo, Situbondo, Mojokerto, hingga Jombang yang mencatat deflasi terdalam sebesar -3,29 persen. Secara nasional, deflasi terdalam terjadi di Kabupaten Lombok Timur dengan IPH -3,66 persen, sedangkan inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, sebesar 9,83 persen.

Pemerintah Kabupaten Pacitan berharap tren stabilitas harga dapat terus terjaga pada semester kedua tahun 2026 melalui penguatan koordinasi pengendalian inflasi daerah, pemantauan stok pangan, serta kelancaran distribusi kebutuhan pokok. Dengan demikian, daya beli masyarakat tetap terpelihara, sementara aktivitas ekonomi daerah dapat terus tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button