BeritaDaerahEkonomiPariwisataPemerintahanPendidikanPolitikSosial

Bukan Sekadar Ngopi, Sekda Barista Pacitan Racik Kopi, Satukan Ide, Gaspol Kinerja

"Sebuah cara sederhana yang dibawa Sekretaris Daerah (Sekda) Pacitan, Maulana Heru Wiwoho Supadi Putro, untuk membangun komunikasi, mencairkan suasana, sekaligus menumbuhkan budaya kolaborasi di lingkungan pemerintahan"

Pacitan,JBM.co.id-Jangan buru-buru menyebutnya sekadar ngopi.

Di balik aroma kopi yang mengepul, ada ide yang sedang diracik. Di antara obrolan ringan, ada gagasan yang sedang disatukan. Dan dari secangkir kopi, ada semangat untuk menggerakkan kinerja bersama.

Inilah Sekda Barista.

Sebuah cara sederhana yang dibawa Sekretaris Daerah (Sekda) Pacitan, Maulana Heru Wiwoho Supadi Putro, untuk membangun komunikasi, mencairkan suasana, sekaligus menumbuhkan budaya kolaborasi di lingkungan pemerintahan.

“Kopi menyatukan ide,” menjadi pesan utama yang melekat dalam konsep tersebut.

Bagi Maulana Heru, kopi bukan hanya soal rasa. Ia adalah medium untuk membangun kedekatan. “Ketika sekat formal mencair, percakapan menjadi lebih terbuka. Dari percakapan itulah gagasan bisa muncul, dipertukarkan, kemudian diramu menjadi langkah nyata,” kata Maulana Heru, Jum’at (8/10).

Meracik kopi ada seninya. Meracik kinerja juga demikian.

Takaran harus pas. Bahan harus menyatu. Proses membutuhkan ketelitian. Dan hasil akhirnya baru terasa ketika seluruh unsur berpadu.

Begitu pula dengan birokrasi.

Tidak mungkin sebuah organisasi bekerja optimal jika masing-masing berjalan sendiri. Setiap perangkat daerah, setiap aparatur, dan setiap elemen memiliki peran yang harus diramu dalam satu gerak bersama.

Karena itu, Sekda Barista membawa filosofi:

“Meracik Rasa, Merajut Kinerja. Meracik Kopi, Merajut Kolaborasi.”
Kalimat tersebut bukan sekadar permainan kata.

Ada pesan tentang bagaimana membangun pemerintahan yang tidak hanya kuat secara struktur, tetapi juga hangat dalam komunikasi.

Sebab, di balik setiap program pemerintah selalu ada manusia yang menjalankannya. Ada ide yang perlu didengar. Ada persoalan yang harus dibicarakan. Ada perbedaan pandangan yang harus dipertemukan.

Dan terkadang, semua itu menjadi lebih mudah ketika orang duduk bersama.

Ngopi, ngobrol, menemukan solusi.

Dari sinilah Sekda Barista menjadi menarik. Sebab yang ditawarkan bukan sekadar aktivitas meracik minuman, melainkan sebuah pendekatan komunikasi yang lebih cair dan humanis.

Secangkir kopi menjadi titik temu.

Dari meja yang sama, berbagai gagasan dapat bertemu. Yang satu membawa pengalaman, yang lain membawa perspektif. Semuanya kemudian diramu untuk menemukan keputusan dan langkah yang lebih baik.

Jika kopi punya cita rasa, maka kolaborasi juga punya “rasa”.

Ada rasa saling percaya. Ada rasa saling menghargai. Ada rasa memiliki terhadap pekerjaan dan tujuan bersama.

Dan ketika rasa itu tumbuh, kinerja pun tidak lagi menjadi tanggung jawab satu orang.

Kinerja menjadi milik bersama.

Sekda Barista pada akhirnya ingin menyampaikan pesan yang sederhana, tetapi kuat: membangun pemerintahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang rumit.

Kadang, cukup dimulai dari duduk bersama.

Berbicara.

Mendengarkan.

Lalu meracik gagasan menjadi aksi.

Sebab kopi boleh pahit, tetapi kolaborasi jangan sampai getir.

Dan di Pacitan, secangkir kopi sedang diracik menjadi lebih dari sekadar minuman.

Ia menjadi simbol persatuan ide, penguat komunikasi, dan pemantik kinerja bersama.

Sekda Barista — meracik kopi, menyatukan ide, merajut kolaborasi, menuju kinerja yang semakin solid.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button