BeritaDaerahKeagamaanPemerintahanPendidikanSosial

Benarkah Kanjeng Ratu Kidul Meminta Tumbal Saat Bulan Suro? Simak Penuturan KH. Mahmud

"Tidak sedikit orang yang mengaitkan berbagai musibah di laut selatan dengan keberadaan sosok penguasa gaib yang diyakini sebagian kalangan sebagai Kanjeng Ratu Kidul"

Pacitan,JBM.co.id- Setiap kali bulan Suro tiba dalam penanggalan Jawa, berbagai cerita mistis kembali menjadi perbincangan masyarakat. Salah satu yang paling sering muncul adalah kisah tentang Kanjeng Ratu Kidul yang disebut-sebut meminta tumbal dari manusia, khususnya di kawasan pantai selatan Pulau Jawa.

Kepercayaan tersebut telah berkembang turun-temurun dan menjadi bagian dari cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat. Tidak sedikit orang yang mengaitkan berbagai musibah di laut selatan dengan keberadaan sosok penguasa gaib yang diyakini sebagian kalangan sebagai Kanjeng Ratu Kidul.

Namun, pendakwah KH. Mahmud mengajak masyarakat untuk menyikapi persoalan ini secara bijaksana dan berdasarkan ajaran agama. Menurutnya, keyakinan bahwa ada makhluk gaib yang secara khusus meminta tumbal manusia tidak memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam.

KH. Mahmud menjelaskan bahwa Islam mengajarkan keimanan kepada hal-hal gaib, termasuk keberadaan malaikat, jin, dan makhluk ciptaan Allah lainnya. Akan tetapi, seluruh makhluk tersebut tetap berada di bawah kekuasaan Allah SWT dan tidak memiliki kemampuan bertindak di luar kehendak-Nya.

“Jika terjadi kecelakaan atau musibah di laut, hendaknya dipahami sebagai peristiwa yang memiliki sebab dan akibat. Faktor cuaca, gelombang tinggi, kurangnya kewaspadaan, atau kelalaian manusia sering kali menjadi penyebab yang lebih rasional dan dapat dijelaskan,” tuturnya, Selasa (16/6/2026).

Ia menambahkan bahwa masyarakat perlu membedakan antara tradisi budaya dan keyakinan agama. Cerita mengenai Kanjeng Ratu Kidul merupakan bagian dari khazanah budaya Nusantara yang patut dihargai sebagai warisan sejarah dan sastra. Namun, menurutnya, budaya tidak boleh menjadi dasar untuk meyakini sesuatu yang bertentangan dengan akidah.

Bulan Suro sendiri memiliki makna yang istimewa dalam tradisi Jawa. Bulan ini sering dimaknai sebagai waktu untuk introspeksi diri, memperbanyak doa, serta meningkatkan kedekatan kepada Tuhan. Karena itu, KH. Mahmud mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam ketakutan yang berlebihan terhadap berbagai mitos yang beredar.

“Yang perlu ditingkatkan pada bulan Suro adalah ibadah, muhasabah, dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Jangan sampai perhatian kita justru tersita oleh cerita-cerita yang membuat takut, sementara nilai-nilai kebaikan yang diajarkan agama terlupakan,” ujar KH Mahmud yang juga menjabat sebagai Inspektur Inspektorat Pacitan ini.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tidak ada dalil yang menyatakan Kanjeng Ratu Kidul meminta tumbal setiap bulan Suro. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap berpikir jernih, menjaga keselamatan saat beraktivitas, dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas kebenarannya.

Di tengah derasnya arus informasi dan berbagai cerita yang beredar dari mulut ke mulut maupun media sosial, sikap kritis dan edukatif menjadi penting. Menghormati budaya lokal tidak harus berarti mempercayai seluruh mitos yang menyertainya. Sebaliknya, masyarakat dapat mengambil nilai-nilai positif dari tradisi sambil tetap berpegang teguh pada ajaran agama dan akal sehat.

Perdebatan tentang keberadaan Kanjeng Ratu Kidul dan isu tumbal pada bulan Suro sebaiknya ditempatkan dalam perspektif yang proporsional. Bagi KH. Mahmud, yang terpenting bukanlah memperdebatkan sosok tersebut, melainkan memperkuat keimanan, meningkatkan kewaspadaan, serta menjadikan bulan Suro sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button