BASA: Kolaborasi Riset Bali-Australia Dimulai dari Restu Besakih Bukan Sekadar MoU

Jbm.co.id-KARANGASEM | Ketua Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Bali, Agus Maha Usadha menegaskan kolaborasi riset Bali-Australia melalui Bali Australia Spirit Alliance (BASA) tidak cukup dibangun melalui kontrak kerja sama dan dokumen kelembagaan, tetapi harus berlandaskan spiritualitas, persahabatan, serta penghormatan kearifan lokal.
Penegasan tersebut disampaikan Ketua Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Bali, Agus Maha Usadha, saat bersama jajaran pengurus NCPI Bali dan Ketua HADRI Western Sydney University (WSU), Prof. Nichole Georgeou, melaksanakan kunjungan spiritual ke Pura Besakih, Karangasem, Bali, Rabu (2/11/2026).
Kunjungan tersebut menjadi momentum spiritual untuk mengawali rencana kerja sama riset antara Universitas Udayana (Unud) dan Western Sydney University, sekaligus memperkuat fondasi persahabatan kelembagaan Bali-Indonesia dan Australia melalui BASA.
Rangkaian kegiatan diawali dengan persembahyangan bersama di Pura Penataran Agung Besakih, dilanjutkan dialog spiritual bersama pemangku Besakih, serta penyerahan punia dan doa bersama untuk memohon restu atas rencana kolaborasi riset ke depan.
Agus Maha Usadha mengatakan, langkah spiritual di Besakih merupakan bagian penting sebelum membangun kerja sama riset yang lebih luas antara Bali dan Australia.
“Sebelum kita merajut kerjasama research yang besar antara Bali dan Australia, kita patut terlebih dahulu memohon restu kepada Ida Hyang Widhi Wasa di Pura Besakih sebagai Pura Ibu dari seluruh Pura di Bali. Ini adalah budaya kita, Tri Hita Karana, yaitu Parahyangan dulu, baru Pawongan dan Palemahan,” kata Agus Maha Usadha.
Agus Maha Usadha menegaskan, BASA bukan sekadar forum kerja sama formal, melainkan ruang persahabatan yang dibangun melalui nilai spiritual, penghormatan budaya, dan orientasi manfaat bagi masyarakat.
“Kami datang bukan hanya sebagai peneliti, tapi sebagai sahabat. Spirit alliance, Bali Australia Spirit Alliance atau disingkat BASA. Kita merajut kerjasama bukan hanya dengan kontrak MoU dan MoI melainkan patut didahului dengan doa dan restu, sehingga research yang kita lakukan kedepan tidak hanya menghasilkan jurnal tetapi menghasilkan manfaat untuk krama Bali, untuk masyarakat Indonesia, Australia, dan untuk dunia,” kata Agus Maha Usadha.
Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi karakter pembeda BASA dibandingkan model kerja sama kelembagaan lainnya, karena menempatkan nilai spiritual dan kearifan lokal sebagai pondasi kolaborasi.
Prof. Nichole Georgeou mengaku sangat terkesan dengan kunjungan pertamanya ke Pura Besakih. Ia menyebut Besakih bukan sekadar tempat ibadah, melainkan jiwa Bali yang menghadirkan kedamaian, koneksi spiritual, dan kekuatan budaya.
“This is my first time to Besakih Temple and I am deeply moved. This is not just a temple, this is the soul of Bali. I feel the spirit, the peace, the connection. We come to Bali not only to do research, but to build friendship. We want to learn from Bali, about Tri Hita Karana, about harmony, about how Bali maintains culture while embracing modernity. That is what the world needs today. Our visit to Besakih today is a spiritual step to ask for blessing for our future research collaboration with NCPI Bali and institutions in Bali. We believe good research must start with good spirit, good intention, and respect for local culture. We are very excited to work together with Agus Maha Usadha and NCPI Bali. Bali has incredible wisdom, Australia has research capacity. Together, we can create research that is not only academic, but also impactful for community health, culture and regenerative tourism,” paparnya.
Agus Maha Usadha menambahkan, pengembangan kerja sama riset Bali-Australia melibatkan sejumlah institusi dan pemangku kepentingan, yakni Universitas Udayana dibawah kepemimpinan Rektor Prof. Ketut Sudarsana, Western Sydney University melalui HADRI yang dipimpin Prof. Nichole Georgeou, serta NCPI Bali.
Seluruh kolaborasi tersebut berada dalam payung BASA sebagai wadah persahabatan kelembagaan Bali-Indonesia dan Australia.
Lebih jauh, Agus Maha Usadha menegaskan spirit alliance yang dibangun melalui BASA tidak berhenti pada hubungan Bali-Australia, tetapi berpotensi dikembangkan lebih luas dengan berbagai institusi di Asia, Eropa, Amerika, dan kawasan lainnya.
Melalui pendekatan tersebut, BASA diharapkan menjadi jembatan kolaborasi internasional yang tidak hanya menghasilkan kontribusi akademik, tetapi juga menghadirkan dampak nyata bagi kesehatan masyarakat, pelestarian budaya, penguatan pariwisata regeneratif, serta kesejahteraan krama Bali.
Dari Besakih, BASA merajut persahabatan. Dari Bali dan Australia, kolaborasi riset diharapkan memberi manfaat bagi dunia.
Editor: Putu Wiguna




