BadungBaliBeritaDaerahPendidikan

Baliologi Jadi Senjata Jaga Identitas Bali dan Pondasi Kebijakan Publik Tawarkan Perspektif Baru untuk Dunia

Jbm.co.id-BADUNG | Baliologi menjadi instrumen strategis untuk menjaga identitas kebudayaan Bali, sekaligus menawarkan perspektif alternatif bagi dunia dalam memahami hubungan manusia, spiritualitas, dan lingkungan.

Baliologi tidak sekadar menjadi kajian akademis tentang Bali, tetapi juga menjadi landasan untuk memperkuat kebudayaan, mengevaluasi kebijakan publik, serta membangun arah pariwisata yang berkelanjutan tanpa mengorbankan jati diri masyarakat.

Gagasan tersebut mengemuka dalam kuliah umum (Public Lecture) yang menghadirkan Guest Speaker Dr. Rob Goodfellow, seusai penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Implementation (MoI) Bali Australia Spirit of Alliance (BASA) melibatkan Universitas Udayana (Unud), Western Sydney University (WSU), dan Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Provinsi Bali di Ruang Bangsa, Rektorat Universitas Udayana, Jimbaran, Kabupaten Badung, Selasa (3/11/2026).

Turut hadir, Prof. Dr. I Nyoman Sunarta, M.Si., Agus Maha Usadha, Dr. Drs. I Ketut Ngastawa, S.H., M.H., Drs. I Dewa Muka, MA., Febe Lie Indah Rahayu dan Ni Nyoman Djani, S.E., Martha Tari, S.H.

Hadir pula, Prof. Dr. IDG. Palguna, S.H., M.Hum., Prof. Dr. Ir. IGN. Nitya Shanthiasa, M.T., Putu Sri Budani, AM.Par., HTS., I Dewa Ayu Diah Suryandari, SST..Par.,M.M., CHE., Dr. I Made Budhi Arsika, S.H., LLM., Ni Putu Sri Harta Mimba, S.E., MSi, Ph.D., dan Putu Ayu Astj Senja Pratiwi, S.S., M.Hum., Ph.D.

Dari Western Sydney University, juga hadir Prof. Nichole Georgeou ,Dr. Rob Goodfellow dan Dr. Sulfan Tadjoeddin.

Dalam pemaparannya, Dr. Rob Goodfellow menegaskan Baliologi memberikan ruang untuk memahami bagaimana kehidupan budaya Bali terbentuk dan berkembang melalui perpaduan sejarah, antropologi, studi agama, seni, dan ekologi.

Esensi Baliologi, menurutnya, terletak pada keterhubungan keyakinan spiritual, kehidupan budaya, dan alam yang membentuk satu kesatuan utuh dalam kehidupan masyarakat Bali.

Filosofi Tri Hita Karana menjadi kerangka penting untuk mengeksplorasi hubungan tersebut. Salah satu contoh konkret dapat dilihat melalui sistem subak yang mengintegrasikan komunikasi antar petani, pengaturan irigasi, aktivitas pertanian serta ritual di pura air.

“Sistem subak yang melaluinya komunikasi petani, mengatur irigasi, serta mengaitkan kegiatan pertanian dengan ritual di pura air, menawarkan contoh nyata dari hal ini,” kata Dr. Rob Goodfellow.

Baliologi Bukan Hanya untuk Bali

Dr. Rob Goodfellow mengajukan pertanyaan mendasar mengenai cakupan Baliologi, apakah hanya menjadi pendekatan untuk memahami Bali atau justru dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat global.

“Oke, pertanyaan saya disini adalah: Apakah Baliologi hanya untuk Bali? Apakah ini sekadar untuk memahami Bali ataukah untuk dunia?,” tanya Dr. Rob Goodfellow.

Menurutnya, Baliologi menawarkan perspektif yang berbeda dalam memahami kehidupan. Alam, dunia sosial, dan ranah ilahi tidak dipandang sebagai elemen yang terpisah, melainkan bagian dari satu kesatuan yang saling berkaitan.

Perbedaan cara pandang tersebut dinilai menjadi ruang pembelajaran bagi dunia, terutama dalam membangun pemahaman yang lebih utuh mengenai kehidupan manusia dan lingkungannya.

Melalui Tri Hita Karana, Baliologi menawarkan perspektif alternatif untuk membantu masyarakat global melihat hubungan manusia, alam, dan spiritualitas dengan sudut pandang yang berbeda.

Enam Manfaat Baliologi bagi Masyarakat Barat

Lebih lanjut, Dr. Rob Goodfellow mengidentifikasi enam potensi manfaat Baliologi bagi masyarakat Barat, yakni meningkatkan kesejahteraan pribadi dan kualitas hidup, memperkuat hubungan komunitas, memajukan keberlanjutan lingkungan, mendorong pembangunan ekonomi yang lebih etis, memulihkan makna spiritual, serta meningkatkan kualitas kepemimpinan, pendidikan, dan tata kelola.

Menurutnya, Tri Hita Karana dapat menjadi kerangka kerja yang relevan bagi universitas, dunia bisnis, dan pemerintahan dalam menentukan arah kebijakan maupun pengambilan keputusan sehari-hari.

Penerapan pendekatan tersebut melalui tiga pertanyaan mendasar, yakni apakah suatu tindakan menghormati martabat manusia dan memperkuat hubungan sosial, apakah tindakan tersebut melindungi atau memperbaiki lingkungan alam, serta apakah keputusan yang diambil mencerminkan nilai-nilai bermakna, etis, dan budaya.

“Penelitian dalam bidang tata kelola lingkungan telah mengidentifikasi kapasitas Tri Hita Karana dalam menghubungkan komunitas, nilai-nilai spiritual, dan tanggung jawab ekologis ke dalam pengambilan keputusan sehari-hari,” pungkasnya.

Baliologi sebagai Pondasi Kebijakan dan Identitas

Sementara itu, Akademisi dan Pakar Hukum Konstitusi Prof. Dr. I Dewa Gede Palguna, S.H., M.Hum., menegaskan Baliologi harus menjadi jalan untuk menemukan kembali spirit Bali sekaligus memastikan masyarakat tetap menjadi subjek utama dalam kehidupan kebudayaan dan pariwisata.

“Baliologi adalah upaya menemukan kembali spirit Bali. Masyarakat Bali sendiri perlu memahami identitas dan nilai-nilai yang menjadi pondasi kebudayaannya,” ujarnya.

Prof. Dewa Palguna menyoroti pariwisata yang berpotensi menggeser posisi masyarakat Bali dari pemilik dan penjaga kebudayaan menjadi sekadar pelayan kebutuhan wisatawan.

Prof. Dewa Palguna menekankan wisatawan semestinya diajak memahami dan menghormati kebudayaan Bali, bukan menentukan segala sesuatu berdasarkan selera pasar dan kepentingan komersial.

Selain itu, Prof. Dewa Palguna berharap Baliologi mampu menembus ruang kebijakan publik, mulai dari penyusunan APBD, pengembangan pendidikan hingga perumusan kebijakan pariwisata yang berorientasi pada keberlanjutan budaya.

“Baliologi perlu didorong menjadi dasar kebijakan publik. Hasil penelitiannya harus bermanfaat bagi masyarakat, bukan hanya menjadi arsip akademik,” tegasnya.

Melalui penguatan Baliologi, Prof. Dewa Palguna berharap Bali tidak hanya mempertahankan identitas dan warisan kebudayaan, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai lokal sebagai kontribusi pemikiran bagi dunia.

Pewarta: Ace Wiguna

Editor: Putu Wiguna

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button