BaliBeritaDaerahDenpasarPendidikan

The Moon and Its Halo Karya Handy Saputra Guncang Pakem Seni Rupa: Karya Tak Harus Lahir dari Konsep

Jbm.co.id-DENPASAR | Dunia seni rupa tidak selalu harus terikat konsep, aliran, maupun pakem tertentu. Seni juga dapat menjadi ruang kebebasan berekspresi untuk menuangkan imajinasi, pengalaman, hingga kegelisahan melalui goresan warna dan bentuk.

Semangat itulah yang tercermin dalam pembukaan pameran seni rupa bertajuk The Moon and Its Halo karya Handy Saputra di Santrian Gallery, Bali, Jumat (6/11/2026).

Pameran ini menjadi perjalanan ketiga Handy Saputra dalam memperkenalkan karya-karya seni rupanya kepada publik.

Sebelumnya, Handy Saputra menggelar pameran perdana pada 2020 di Rumah Sanur, kemudian berlanjut ke Sika Gallery pada 2025.

Menariknya, Handy bukanlah seniman yang sejak awal meniti karier profesional di dunia seni rupa.

Selama kurang lebih 39 tahun, Handy Saputra justru dikenal sebagai pengusaha di bidang logistik.

Namun, ditengah kesibukan menjalankan bisnis, seni lukis menjadi ruang tersendiri untuk mengekspresikan diri sekaligus melepaskan kejenuhan dari rutinitas pekerjaan.

Handy Saputra mengungkapkan, keikutsertaan dalam pameran ketiga ini berawal dari tawaran Dolar Astawa yang mengajaknya mengisi slot pameran. Tawaran tersebut langsung disambut positif.

“Beliau bertanya, Handy, mau tidak? Saya bilang, saya bersedia,” ungkap Handy.

Dalam perjalanan berkaryanya, Handy Saputra juga mengalami perkembangan dalam penggunaan medium.

Pada pameran pertama, Handy Saputra lebih banyak menggunakan tinta Cina dan kertas Padia. Sementara pada pameran kedua dan ketiga, eksplorasi lebih banyak dilakukan menggunakan cat akrilik diatas kanvas atau acrylic on canvas.

Karakter visual karya Handy Saputra terbilang unik dan ekspresif. Bahkan, Handy Saputra banyak menghadirkan figur-figur bernuansa mistis, bentuk deformasi, hingga berbagai representasi binatang dengan wujud tidak lazim, terkadang terlihat lucu, tetapi juga dapat memberikan kesan menyeramkan.

Karakter tersebut menjadi ciri khas yang terus berkembang dalam perjalanan artistiknya. Bahkan, sejumlah pengamat seni mungkin dapat menghubungkan karya-karyanya dengan kategori outsider art, art brut, maupun aliran Cobra. Namun, Handy memilih untuk tidak terjebak dalam pengelompokan tersebut.

Menurutnya, karya seni seharusnya memiliki ruang interpretasi yang luas. Setiap orang berhak memberikan penilaian dan menangkap makna berdasarkan perspektif masing-masing.

“Saya tidak ingin terjebak dalam klasifikasi. Silakan saja orang menilai karya saya berdasarkan persepsinya masing-masing,” ujarnya.

Berkarya Tanpa Terikat Konsep

Salah satu hal menarik dari proses kreatif Handy adalah kebiasaannya melukis secara spontan. Ia mengaku tidak selalu memiliki konsep atau pesan khusus sebelum mulai menggoreskan kuas diatas kanvas.

Ketika berhadapan dengan kanvas kosong, Handy Saputra membiarkan imajinasi mengalir. Apa pun yang muncul dalam pikirannya saat itu dapat langsung dituangkan menjadi gambar. Hal tersebut dapat berupa figur manusia, topeng, totem, binatang, maupun bentuk-bentuk imajinatif lainnya. Seluruhnya berkembang mengikuti suasana hati dan proses kreatif yang berlangsung secara alami.

Oleh karena itu, Handy Saputra tidak ingin memberikan batasan mengenai makna setiap lukisan yang dipamerkan.

Baginya, karya-karya tersebut merupakan dokumentasi perjalanan berkesenian, sekaligus refleksi dari proses eksplorasi yang terus berlangsung.

Sebagian besar karya yang ditampilkan dalam pameran kali ini merupakan lukisan terbaru yang diciptakan sepanjang 2026.

Selain menggunakan akrilik di atas kanvas, Handy Saputra juga mengembangkan eksplorasi melalui teknik seni cetak atau printmaking, termasuk karya cetakan di atas kertas (print on paper).

Keterlibatan sebagai patron di DevTool Studio turut membuka ruang eksplorasi yang lebih luas atas teknik seni cetak.

Handy Saputra menilai keberadaan institusi tersebut menjadi salah satu ruang penting bagi perkembangan dan eksplorasi seni printmaking di Bali.

Berawal dari Pertemanan dengan Seniman

Ketertarikan Handy Saputra terhadap seni lukis ternyata telah tumbuh sejak duduk di bangku SMA. Salah satu sosok yang memberikan pengaruh besar dalam perjalanan awalnya adalah almarhum Frans Najira.

Handy Saputra mengenang dirinya dahulu sering menghabiskan waktu di tempat Frans Najira. Hampir setiap minggu, Handy Saputra duduk bersama, berbincang, sekaligus menyaksikan secara langsung proses kreatif sang seniman.

Dari sebuah kanvas kosong hingga berubah menjadi lukisan utuh, proses itulah yang perlahan membangkitkan ketertarikannya terhadap dunia seni rupa.

Ketertarikan tersebut kemudian berkembang melalui pertemuan dengan berbagai seniman, termasuk aktivitas mengoleksi karya-karya mereka.

Seiring waktu, pergaulannya yang semakin dekat dengan komunitas seniman membuat teman-temannya mulai mendorong Handy untuk ikut melukis.

Bahkan, ketika koleksi lukisannya semakin banyak, teman-temannya kembali memberikan tantangan agar karya-karya tersebut tidak hanya disimpan, tetapi juga diperkenalkan kepada publik melalui pameran.

Dari situlah perjalanan pameran Handy terus berkembang hingga kini memasuki penyelenggaraan ketiga.

Seni sebagai Terapi dan Penjaga Kemanusiaan

Ditengah perjalanan panjang sebagai pengusaha, Handy Saputra mengakui seni memberikan manfaat yang lebih luas daripada sekadar aktivitas mengisi waktu luang.

Lebih lanjut, Handy Saputra menegaskan melukis menjadi salah satu bentuk terapi untuk menghindari stres, terutama ketika kejenuhan akibat rutinitas pekerjaan mulai dirasakan.

Ketika memiliki waktu luang, Handy Saputra kerap mencari suasana baru dengan mengunjungi Ubud atau tempat-tempat lain yang dapat memberikan inspirasi.

Dalam proses tersebut, seni menjadi ruang untuk menyegarkan pikiran, membebaskan imajinasi, sekaligus menghadirkan pengalaman yang berbeda dari dunia bisnis.

Handy Saputra juga menilai bahwa seni memiliki peran penting dalam menjaga sisi kemanusiaan seseorang.

Menurutnya, seorang pengusaha tidak harus menjadi pelukis untuk memiliki jiwa seni. Ketertarikan terhadap seni tari, musik, maupun bidang seni lainnya juga dapat menjadi jalan untuk mengasah kepekaan dan nilai-nilai kemanusiaan.

Handy Saputra menyayangkan ketika aspek humanity atau kemanusiaan dalam kehidupan semakin terkikis oleh rutinitas dan orientasi material.

Menurut Handy Saputra, dunia usaha dan dunia seni tidak seharusnya dipertentangkan. Keduanya justru dapat berjalan beriringan dan saling melengkapi.

“Seni merupakan salah satu alat untuk membantu mengasah sisi kemanusiaan kita,” tegasnya.

Sementara itu, terkait apresiasi terhadap karya-karyanya, Handy Saputra mengaku sejumlah lukisan bahkan telah terjual sebelum konferensi pers pameran berlangsung. Ia menyebut hal tersebut sebagai bentuk dukungan dan apresiasi dari teman-teman terhadap perjalanan berkesenian yang dijalaninya.

Namun, lebih dari sekadar transaksi atau nilai ekonomi sebuah karya, Handy Saputra merasa hal terpenting adalah ketika orang lain dapat menikmati dan memberikan interpretasi terhadap lukisan-lukisannya.

Melalui “The Moon and Its Halo”, Handy Saputra seolah ingin menunjukkan bahwa seni tidak harus selalu lahir dari konsep yang rumit atau mengikuti batasan aliran tertentu.

Seni dapat tumbuh dari spontanitas, pengalaman hidup, pertemanan, hingga kebutuhan manusia untuk menemukan ruang kebebasan di tengah kesibukan.

Pameran ini sekaligus menjadi gambaran bahwa perjalanan seorang pengusaha tidak harus berhenti pada dunia bisnis. Ada ruang lain yang dapat dijelajahi untuk menjaga kreativitas, kepekaan, dan sisi kemanusiaan melalui seni.

Pewarta: Ivan

Editor: Putu Wiguna

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button